Kisah Kursi Sultan HB IX dan Pertemuan Rahasia Raja-Gerilyawan di Warung Sate

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Sebuah kursi ditutup kain berwarna putih diletakkan di senthong tengah atau kamar bilik khusus di sebuah bagunan cagar budaya di Jalan Gamelan Kidul, Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta.

Kursi itu tak megah. Meski bentuknya tertutup kain putih, tapi dari siluetnya kita bisa melihat kesederhanaan fitur kursi kayu itu. Di depan kursi itu, digelar sejumlah tungku juga sebuah sajen. Aura magis pun terasa.

Sebetulnya, kursi itu adalah kursi sebuah warung sate yang pernah diduduki Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX pada 1949. Kursi dipertahankan, karena di sinilah seorang raja duduk setara bersama gerilyawan republik.

Dulunya, tempat di mana kursi ini disimpan, berdiri sebuah warung sate bersama Rumah Makan Sate Puas. Nah, di warung ini, pejuang Republik Indonesia bertemu dan menyusun strategi.

"(Kursi Sri Sultan HB IX) tidak lepas dari sejarah rumah ini. Pernah dengan Serangan Umum 1 Maret, Itu berasal dari rumah ini, ide dan strategi perang ada di sini," kata Pengelola Grha Keris, Taufik Hermawan, ditemui Sabtu (18/4).

Kini bangunan tersebut telah dibeli dinas kebudayaan dari ahli waris untuk dirawat dan dijadikan cagar budaya. Taufik mengatakan di warung sate ini Sri Sultan HB X datang menyamar sebagai orang biasa.

"Di warung sate itu Ngarsa Dalem IX bertemu dengan para gerilyawan itu di warung sate itu. Yang etok-etok (pura-pura) nyamar jadi apa, jadi apa, begitu," katanya.

Bersama para gerilyawan, Sri Sultan HB IX berdiskusi dan menyusun strategi hingga dikenal adanya serangan 6 jam. Serangan ini menjadi bukti kepada dunia, meski saat itu Soekarno-Hatta diculik Belanda, tapi perangkat republik seperti tentaranya masih berfungsi bahkan mampu menguasai Yogyakarta.

"Jogja Kembali segala macam itu ya di sini ini awal muasalnya. Sehingga damparnya (kursi) Ngarsa Dalam dibawa dari Tempel ke sini," katanya.

"Rumah ini bersejarah," ujarnya.

Tempat ini juga lokasi peristiwa pengibaran bendera Merah Putih untuk yang pertama kali pada tanggal 29 Juni 1949. Atau di masa akhir periode pendudukan tentara Belanda di Yogyakarta.

Kompleks bangunan Graha Keris terdiri atas beberapa komponen kelengkapan rumah tradisional Jawa yaitu pendopo, dalem, gadri, gandok tengen, dan gandok kiwa. Gaya arsitekturnya tradisional Jawa dengan atap limasan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Presiden Iran Inginkan Perdamaian di Kawasan, Sebut Lawan yang Berhasrat Ciptakan Ketidakstabilan
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Israel Tak Akan Tarik Pasukan dari Lebanon saat Gencatan Senjata, Ini Kata Trump-Netanyahu
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Gubernur Pramono Dorong Peran BUMD DKI Sebagai Pilar Ekonomi
• 7 jam lalujpnn.com
thumb
LPSK Siap Pasang Badan untuk Korban Pelecehan Grup Chat Mahasiswa di FH UI
• 18 jam lalujpnn.com
thumb
Gempa M5,1 Guncang Melonguane Sulawesi Utara
• 33 menit laluokezone.com
Berhasil disimpan.