Lanjutkan Misi Bung Karno, Megawati Gaungkan Penghapusan Hak Veto hingga Pemindahan Markas PBB

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri menyerukan reformasi total terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk penghapusan hak veto dan pemindahan markas besar lembaga tersebut ke negara netral.

Dalam pidatonya, Megawati menegaskan bahwa gagasan tersebut adalah kelanjutan dari pemikiran Proklamator RI Soekarno, yang pernah mendorong reformasi PBB.

"Melalui pidato di PBB yang terkenal dengan judul 'To Build The World a New' pada 30 September 1960, Bung Karno menyerukan reformasi atau re-tooling PBB. Kesetaraan antarbangsa menjadi agenda terbesar Bung Karno," ujar Megawati saat memberikan pidato kunci dalam peringatan ke-71 Konferensi Asia Afrika (KAA) di Sekolah Partai PDI-P Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).

Baca juga: PDI-P Ingatkan Kolonialisme Belum Berakhir, Singgung Agresi Militer AS-Israel ke Iran

Presiden ke-5 RI itu menilai struktur PBB saat ini sudah tidak relevan karena dibentuk berdasarkan konstelasi politik pasca-Perang Dunia II.

Oleh karena itu, Megawati mendorong dilakukannya perubahan mendasar, termasuk penghapusan hak istimewa negara-negara besar.

"Bung Karno mengusulkan penghapusan hak veto yang dimiliki negara pemenang Perang Dunia II. Selain itu, perlu ada perubahan Piagam PBB dengan memasukkan Pancasila sebagai landasan internasional," tegasnya.

Baca juga: Sekjen PDI-P Singgung Fenomena Kritik Pemerintah Kerap Dilaporkan ke Polisi

Selain penghapusan hak veto, Megawati juga menyoroti perlunya reformasi Dewan Keamanan PBB serta pemindahan markas besar organisasi tersebut ke wilayah netral.

Menurut dia, lokasi markas PBB saat ini dinilai tidak lepas dari pengaruh kekuatan besar dunia, sehingga berpotensi memengaruhi independensi lembaga tersebut.

"Dunia kini memerlukan pemikiran alternatif tentang bagaimana perdamaian dunia diwujudkan. Dalam perspektif ini, semangat KAA, Gerakan Non-Blok (GNB), dan pidato 'To Build The World A New' menjadi jawaban tentang pentingnya kesetaraan antarbangsa," jelas Megawati.

Baca juga: Megawati Tiba di Sekolah Partai PDI-P, Jadi Keynote Speaker Peringatan 70 Tahun KAA

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Lebih lanjut, Megawati pun mendorong digelarnya Konferensi Asia Afrika jilid II sebagai forum strategis untuk memperkuat kedaulatan negara-negara berkembang.

"Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika Jilid II sangat relevan. Di sinilah pemikiran geopolitik Bung Karno menjadi kompas bagi masa depan bangsa dan dunia," pungkas Megawati.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mau Bikin Acara Nobar Piala Dunia 2026? Begini Cara Daftarnya
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Pramono Anung Pantau Pasokan BBM dan LPG 3 Kg di Jakarta, Antisipasi Krisis Energi
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Pembiayaan dan Penjaminan Jadi Kunci, Eksportir Didorong Diversifikasi
• 23 jam lalukompas.id
thumb
Harga Urea Tembus US$900, Penundaan Suntik Mati Pabrik Pupuk Tua RI Jadi Momentum Durian Runtuh
• 26 menit lalubisnis.com
thumb
Peringatan KAA Dalam Arsip Visual KOMPAS
• 6 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.