Setelah meraih kedaulatannya sebagai sebuah negara, Indonesia akhirnya juga memiliki peranan penting dalam dunia diplomasi dan aktif dalam menjalin hubungan internasional antarnegara. Presiden Soekarno yang merupakan presiden pertama Indonesia juga dinilai memiliki peranan penting dalam konstelasi internasional. Soekarno dikenal baik dan disegani oleh sejumlah pemimpin negara-negara di dunia.
Peranan Indonesia di dunia pun kian memuncak, tepatnya saat momentum Konferensi Asia Afrika 1955. Situasi berakhirnya Perang Dunia ke-2 yang masih menyisakan penjajahan di sejumlah negara menjadi salah satu alasan adanya KAA ini.
Selain itu, kemunculan Perang Dingin dua kubu raksasa dunia, yaitu Blok Barat dan Blok Timur mulai bergolak. Blok Barat ini terdiri dari negara Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa Barat, sedangkan Blok Timur adalah Uni Soviet dan beberapa negara lain yang memiliki kesamaan pandangan faham yang dianut.
Perang ini tak lain merupakan persaingan pengaruh ideologi antar kedua blok, yaitu kapitalisme dan komunisme. Kedua ideologi tersebut tumbuh berkembang setelah Perang Dunia II usai dan berpengaruh besar pula pada cara pandang ekonomi negara-negara di dunia.
Persaingan pengaruh ideologi ini juga berdampak kondisi negara-negara lainnya, yang mana beberapa di antaranya merupakan negara yang baru merdeka, termasuk Indonesia. Kedua Blok tersebut sangat getol berupaya menggaet sekutu-sekutu faham yang dianut dan sasarannya adalah negara-negara lain, khususnya di belahan benua Asia dan Afrika.
Atas kondisi sedemikian rupa, lima negara mengambil menggelar pertemuan informal di Sri Lanka pada tahun 1954. Lima negara yang terlibat dalam pertemuan ini adalah Indonesia, India, Pakistan, Burma, dan Sri Lanka. Pertemuan ini akhirnya melahirkan Piagam Kolombo, yang dimana menyepakati diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika yang membahas isu-isu kemerdekaan dan gerakan netral atas Perang Dingin. Ide Konferensi Asia Afrika ini diusulkan oleh Perdana Menteri Indonesia Ali Satroamidjojo.
Setahun kemudian, KAA digelar di Bandung, Indonesia, pada tanggal 18-24 April 1955. Pertemuan ini diikuri 24 negara dari benua Asia dan Afrika. Dari pertemuan KAA ini dihasilkan sejumlah kesepakatan bersama oleh negara-negara yang hadir, yang disebut dengan Deklarasi Dasasila Bandung.
Inti dari Deklarasi Bandung ini adalah menghormati hak asasi manusia (HAM), mendukung hak kemerdekaan negara-negara yang masih terjajah dan juga berupaya menciptakan perdamaian dunia di tengah Perang Dingin. Sikap tidak keberpihakan dalam Perang Dingin menjadi tonggak sejarah terciptanya Gerakan Non Blok.
Dalam perjalanannya, KAA diusulkan kembali digelar kedua kalinya. Tetapi hal ini gagal terlaksana karena dinamika beberapa negara peserta KAA. Situasi ini tercatat dan diberitakan dalam terbitan pertama Harian Kompas pada 28 Juni 1965.
Dalam rencananya, penyelenggaraan KAA II ini digelar di negara Aljazair pada 1965. Tetapi negara tersebut dilanda peristiwa kudeta yang menggulingkan Presiden Ben Bella. Batalnya KAA II juga di sebabkan kemunculan konflik Cina-India.
Peristiwa KAA di Bandung tetap menjadi torehan sejarah gemilang diplomasi Indonesia di masa-masa selanjutnya. Dalam arsip foto Kompas, terdapat beberapa penyelenggaraan peringatan peringatan KAA dari masa Orde Baru hingga era pemerintahan presiden Joko Widodo.
Peringatan KAA di era Orde Baru yang disambut secara besar-besaran terekam dalam peringatan ke-30 KAA pada tahun 1985. Sejumlah pesiapan perayaan dan penyelenggaraan peringatan konferensi tersebut dihelat dengan meriah. Berbagai delegasi negara-negara peserta KAA juga hadir di Bandung, yang menjadi kota tempat sejarah dunia itu lahir.
Selain itu, pada peringatan ke-40, Peringatan Konferensi Asia-Afrika juga digelar secara besar-besaran di era Soeharto ini. Beberapa tokoh dunia, seperti tokoh Palestina Yasser Arafat dan Ketua PBB Bhutros-Bhutros Gali turut hadir di peringatan tersebut.
Di era Reformasi, penyelenggaraan peringatan KAA pun berlanjut. Di era ini, terdapat beberapa penyelenggaraan peringatan KAA yang turut bersejarah dan menorehkan perhatian dunia. Salah satunya adalah Peringatan KAA ke-50 pada tahun 2005. Peringatan ini terlaksana di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam penyelengaraan ini, momentum historical walk (jalan kaki memorabilia) menjadi salah satu hal ikonik yang mengisi acara tersebut tepat pada saat gerakan perdamaian dunia itu berusia setengah abad.
Historical Walk KAA ini semacam mengenang momentum para kepala negara peserta KAA berjalan kaki dari Hotel Savoy Homann, tempat para kepala negara menginap pada tahun 1955, menuju Gedung Merdeka yang dijadikan tempat penyelenggaraan konferensi KAA tersebut.
Selain itu, persiapan penyelenggaraan hingga hal-hal sarana pendukung dalam peringatan ini dilakukan dengan besar-besaran, termasuk mengebut penyelesaian pembangunan Tol Cipularang hingga Gong Perdamaian yang berharga fantastis.
Sepuluh tahun kemudian, peringatan KAA juga meriah digelar. Peringatan ke-60 KAA ini diselenggarakan di era Presiden Joko Widodo. Dalam pelaksanaannya, peringatan ini digelar di dua kota, yaitu Jakarta dan Bandung. Penyelenggaraan peringatan ini juga digelar dengan berbagai kemeriahan perayaan hingga persiapan pengamanan yang sangat ketat.
Konferensi Asia Afrika pada akhirnya menjadi catatan sejarah dunia atas peranan besar Indonesia dalam upaya perdamaian dunia. Kiprah Indonesia ini sudah selayaknya menjadi contoh dan dasar sikap menjunjung tinggi HAM serta mendukung kemerdekaan negara-negara di tengah invasi yang terus terjadi hingga kini.
Tentu saja hal ini tak lepas dari salah satu pilar dasar Negara Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan prinsip perikemanusiaan dan perikeadilan.





