Tidak Ada yang Lucu dari Obrolan Seksis

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Kasus pelecehan seksual yang terjadi dalam ruang akademik di Fakultas Hukum Universitas Indonesia menjadi pengingat penting bahwa kekerasan seksual tidak selalu bermula dari tindakan yang langsung tampak. Akan tetapi, hal tersebut bisa tumbuh dari ruang yang dianggap biasa, dari percakapan yang semula disebut candaan, lalu perlahan berubah menjadi kebiasaan yang merendahkan. Dari sana, lahirlah pembiaran. Dan ketika pembiaran itu terus berlangsung, Maka hal tersebut bisa berkembang menjadi budaya yang menormalisasi pelecehan.

Kasus ini tidak cukup dibaca sebagai pelanggaran etik yang terjadi di lingkungan kampus. Akan tetapi, hal tersebut juga harus dilihat sebagai cermin dari persoalan yang lebih luas dalam kehidupan sosial kita, yakni masih kuatnya toleransi terhadap obrolan seksis. Di banyak ruang, baik di tongkrongan warung kopi, grup percakapan whatsapp, media sosial, bahkan lingkungan pendidikan, ucapan yang merendahkan perempuan masih terlalu sering dianggap lumrah. Ada yang menyebutnya guyonan. Ada yang menutupinya dengan dalih keakraban. Padahal, tidak ada yang sungguh lucu dari obrolan yang menjadikan martabat orang lain sebagai bahan hiburan.

Berawal dari Hal yang Dianggap Sepele

Salah satu pelajaran penting dari kasus ini adalah bahwa pelecehan tidak selalu hadir secara mendadak. Akan tetapi, lebih sering tumbuh dari pola interaksi yang semula terlihat ringan seperti percakapan vulgar, komentar yang mengobjektifikasi, atau pembicaraan bernada seksual terhadap perempuan sering kali dianggap hanya bagian dari klise obrolan. Karena hal tersebut dibungkus dengan gelak tawa, banyak orang mengira dampaknya kecil. Padahal justru di titik itulah masalah bermula.

Ketika tubuh perempuan dijadikan bahan komentar, ketika nama seseorang dibicarakan dengan nada seksual, atau ketika perempuan diperlakukan sekadar sebagai objek fantasi, ruang obrolan tidak lagi netral. Ia telah berubah menjadi ruang yang merendahkan. Dan ketika orang lain di dalamnya memilih diam atau ikut tertawa, suasana itu menjadi semakin tidak aman.

Kita sering lupa bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Kata-kata juga bisa melukai. Obrolan yang terus-menerus merendahkan dapat merusak rasa aman, menurunkan harga diri, dan membuat seseorang merasa keberadaannya tidak dihargai. Yang diserang bukan hanya perasaan sesaat, melainkan juga martabat dan ketenangan seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Masalah terbesar dari obrolan seksis adalah bahwa ia sering bersembunyi di balik humor. Banyak orang merasa aman mengatakan hal yang merendahkan selama kalimat itu diucapkan sambil tertawa. Seolah-olah, selama ada unsur bercanda, maka tidak ada yang perlu dipersoalkan. Di sinilah letak kekeliruannya.

Humor memang penting dalam kehidupan sosial. Ia bisa mencairkan suasana, mendekatkan orang, dan membuat percakapan terasa hidup. Namun, bumbu humor tidak pernah benar-benar netral. Apa yang kita anggap lucu mencerminkan nilai yang kita toleransi. Jika seksisme dijadikan bahan candaan, maka yang sedang dibiasakan sesungguhnya adalah sikap merendahkan berdasarkan gender.

Kalimat yang mengecilkan kemampuan perempuan, komentar tentang tubuh perempuan, atau candaan yang memosisikan perempuan sebagai objek sering dianggap sepele. Tetapi bagi yang menjadi sasaran, itu bukan hal kecil. Perkara tersebut dapat meninggalkan rasa malu, marah, dan tidak nyaman yang tidak mudah dihapus. Bahkan ketika candaan itu tidak diarahkan pada satu orang secara langsung, ia tetap menciptakan pesan bahwa perempuan adalah pihak yang sah untuk dinilai, dibicarakan, dan direndahkan.

Lebih ironis lagi, ketika ada yang menolak obrolan semacam itu, mereka justru kerap dicap terlalu sensitif. Inilah bentuk ketidakadilan berikutnya. Korban atau orang yang bersikap kritis malah dianggap tidak punya selera humor. Padahal persoalannya bukan pada kemampuan menerima candaan, melainkan pada kegagalan membedakan mana humor yang sehat dan mana ucapan yang melukai.

Seksisme dalam Obrolan Teman Sepermainan

Obrolan seksis berbahaya justru karena ia hadir dalam bentuk yang akrab dengan keseharian. Ia tidak selalu datang sebagai hinaan kasar yang terang terangan. Sering kali ia muncul lewat celetukan singkat, komentar sambil lalu, atau percakapan santai yang tampaknya tidak berbahaya. Karena bentuknya demikian akrab, banyak orang tidak lagi merasa perlu mempertanyakannya.

Di lingkungan pertemanan, orang tertawa agar tidak disebut kaku. Di grup whatsapp, orang diam agar tidak dianggap merusak suasana. Di media sosial, komentar seksis dibiarkan lewat seakan tidak ada masalah. Lama-kelamaan, semua itu membentuk budaya permisif. Kita hidup dalam situasi di mana penghinaan berbasis gender dianggap bagian biasa dari dinamika sosial.

Padahal sesuatu yang sering terjadi tidak otomatis menjadi benar. Banyak kebiasaan bertahan lama bukan karena hal tersebut normal, melainkan karena terlalu lama dibiarkan. Obrolan seksis adalah salah satunya yang diwariskan dari satu lingkungan ke lingkungan lain, lalu diterima dan dinormalisasi seolah tidak ada yang perlu dikoreksi.

Dalam situasi seperti ini, perempuan sering kali dipaksa menyesuaikan diri. Mereka dituntut untuk tahan, diam, atau memaklumi. Sementara pihak yang melontarkan ucapan seksis terus merasa aman karena lingkungannya tidak memberi batas yang tegas. Akibatnya, seksisme tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dalam bentuk yang semakin berani.

Dampak yang Kerap Diremehkan

Masih banyak orang yang menganggap persoalan belum serius selama tidak ada sentuhan fisik. Cara pandang ini sangat sempit. Pelecehan bisa muncul melalui kata-kata, komentar, gambar, atau suasana percakapan di media sosial yang membuat seseorang merasa direndahkan secara seksual. Karena tidak selalu meninggalkan luka yang tampak, dampaknya sering diabaikan.

Padahal dampak psikologis dari obrolan seksis bisa sangat nyata. Korban dapat kehilangan rasa percaya diri. Mereka bisa merasa cemas saat berada di lingkungan yang sama. Mereka mungkin mulai mempertanyakan penampilan, membatasi pergaulan, atau merasa harus selalu waspada. Semua itu mengganggu rasa aman yang seharusnya menjadi hak setiap orang.

Tidak hanya itu, budaya yang permisif terhadap obrolan seksis juga membuat korban enggan melapor. Mereka takut tidak dipercaya. Mereka khawatir akan dianggap berlebihan. Mereka cemas justru akan disalahkan karena dinilai tidak bisa membedakan candaan dan pelecehan. Pada akhirnya, banyak pengalaman buruk yang dipendam sendiri, sementara pelaku merasa tidak melakukan sesuatu yang serius.

Di sinilah masalah sesungguhnya. Obrolan seksis bukan sekadar soal kata-kata. Akan tetapi, hal tersebut membentuk atmosfir yang menentukan siapa yang merasa aman dan siapa yang harus terus terjaga.

Kampus Seharusnya Menjadi Ruang Aman

Kasus yang terjadi di lingkungan kampus terasa lebih menyakitkan karena kampus semestinya menjadi ruang yang menjunjung akal sehat, etika, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Kampus bukan hanya tempat mencari ilmu, tetapi juga tempat membentuk cara berpikir dan bersikap. Karena itu, ketika dugaan pelecehan tumbuh dari ruang obrolan mahasiswa, yang dipertaruhkan bukan hanya nama institusi, melainkan juga nilai dasar pendidikan itu sendiri.

Ruang akademik seharusnya melatih kepekaan sosial, bukan menormalkan obrolan seksis. Kampus seharusnya mengajarkan kesetaraan, bukan membiarkan relasi yang timpang. Maka penanganan kasus seperti ini tidak boleh berhenti pada permintaan maaf formal atau sanksi administratif semata. Yang lebih penting adalah pembenahan budaya.

Kampus perlu membangun kesadaran bahwa relasi yang sehat dimulai dari cara berbicara. Pendidikan tentang penghormatan terhadap tubuh, batas privat, serta relasi yang setara harus menjadi bagian penting dari kehidupan kampus. Selain itu, sistem pelaporan juga harus benar benar berpihak pada korban, sehingga mereka merasa aman untuk bersuara tanpa takut dipermalukan kembali.

Saatnya Mengubah Cara Kita Bercanda

Perubahan budaya tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Namun bisa dimulai dari kebiasaan kecil, termasuk dari cara kita bercanda. Kita perlu jujur mengakui bahwa tidak semua hal layak dijadikan bahan guyon. Tertawa bukan selalu tanda bahwa sesuatu itu sehat. Kadang, tawa justru lahir dari ketimpangan yang telah lama dibiarkan.

Humor yang baik tidak membutuhkan penghinaan. Humor yang cerdas tidak berdiri di atas rasa malu orang lain. Kita tetap bisa akrab tanpa merendahkan. Kita tetap bisa lucu tanpa menjadikan perempuan sebagai objek. Dan kita tetap bisa santai tanpa kehilangan rasa hormat.

Keberanian untuk menghentikan obrolan seksis juga tidak harus selalu hadir dalam bentuk pertengkaran besar. Kadang cukup dengan mengalihkan pembicaraan. Kadang cukup dengan bertanya sederhana, apa yang sebenarnya lucu dari ucapan itu. Pertanyaan kecil semacam itu dapat membuka kesadaran bahwa selama ini ada banyak hal yang dianggap biasa padahal sesungguhnya bermasalah. Semakin banyak orang berani mengambil sikap, semakin kecil ruang bagi seksisme untuk hidup sebagai hiburan.

Jadi, kasus dugaan pelecehan seksual di Fakultas Hukum Universitas Indonesia memberi kita satu pelajaran penting. Kekerasan seksual bisa berawal dari sesuatu yang tampak kecil. Dari komentar. Dari obrolan. Dari candaan yang terus-menerus dibiarkan. Karena itu, persoalan ini tidak bisa dianggap hanya urusan individu atau sekadar kesalahan sesaat. Ini adalah soal budaya, soal nilai, dan soal batas yang selama ini terlalu longgar terhadap penghinaan berbasis gender.

Sudah waktunya kita berhenti memaklumi obrolan seksis. Sudah waktunya kita mengakui bahwa candaan yang merendahkan perempuan bukan tanda keakraban, melainkan bentuk ketidakdewasaan dalam berkomunikasi. Dan sudah waktunya kita membangun ruang sosial yang lebih sehat, lebih aman, dan lebih manusiawi. Sebab sesungguhnya, tidak ada yang lucu dari obrolan seksis.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pelemahan Rupiah di Tengah Gejolak Global Disebut Buka Peluang Ekspor ke Pasar Baru
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
KNKT Akan Kirim Data Recorder Heli yang Jatuh di Sekadau ke Prancis
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Masih Ramai Masalah Paspor, Sosok Rp3,9 Miliar Ini Justru Blak-blakan Ingin Gabung Timnas Indonesia
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Clash of Legends GBK Diserbu Fans, Rivaldo hingga Kluivert Jadi Incaran
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Berikut Rekayasa Lalu Lintas saat Gelaran Kemala Run 2026 di Bali
• 12 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.