Menjadi korban bullying dan bahan ejekan di media sosial selama satu dekade tidak membuat Meghan Markle gentar. Hal ini diucapkan oleh sang Duchess of Sussex dalam kunjungan resminya ke Australia pada Kamis (16/4) lalu.
Pangeran Harry dan Meghan Markle baru saja menyelesaikan tur resmi selama empat hari di Australia. Selama kunjungan tersebut, pasangan Sussex menghadiri berbagai acara dan lokasi, salah satunya adalah forum yang diselenggarakan oleh Batyr, yayasan kesehatan mental anak muda di Swinburne University of Technology.
Dalam diskusi tersebut, Meghan menceritakan pengalamannya menjadi korban bullying di media sosial selama 10 tahun. Meski begitu, perundungan dan serangan yang dialaminya justru memberikan pelajaran baginya, yaitu menjadi lebih tahan banting.
“Selama 10 tahun terakhir, setiap harinya selama 10 tahun terakhir, saya dirundung dan diserang. Saya adalah orang yang paling sering diejek di seluruh dunia. Namun, sekarang, saya masih di sini,” ucap Meghan, sebagaimana dilansir People.
Meghan pun menyampaikan pesan bagi anak muda yang saat ini juga dihadapkan dengan kerasnya dunia maya dan perundungan di ruang siber.
“Ketika saya memikirkan tentang kalian dan apa yang kalian alami, saya berpendapat bahwa kita semua harus sadar, industri miliaran dolar ini (internet dan platform media sosial) sepenuhnya berpegang pada kekejaman demi memperoleh klik. Dan itu tidak akan berubah. Jadi, kalian harus lebih kuat lagi daripada itu semua,” imbuh sang Duchess.
Meghan Markle menjadi bulan-bulanan netizen usai dia dan Pangeran Harry bertunangan pada 2017. Dikutip dari Harper’s Bazaar, kala itu Meghan dituduh mengganggu tatanan hidup keluarga Kerajaan Inggris dan mencoba mencuri sorotan dari Kate Middleton.
Tak hanya itu, Meghan juga kerap kali menerima ujaran kebencian akibat ras. Meghan dikenal sebagai salah satu perempuan kulit hitam pertama dalam sejarah modern yang menikah dengan anggota Kerajaan Inggris.
Setelah menikah di 2018, Meghan dan Harry aktif berpartisipasi dalam tugas resmi Kerajaan sebagai anggota bangsawan senior. Meghan mengaku, masa-masa ini adalah masa terberat. Bahkan, menurut Harper’s Bazaar, sang Duchess mengalami tekanan mental yang berat saat mengandung anak pertamanya, Pangeran Archie, di 2018.
Di 2020, pasangan Sussex memutuskan untuk mundur dari peran resmi sebagai anggota senior kerajaan. Mereka pindah dari Inggris dan kini menetap di Montecito, California, Amerika Serikat, bersama dua anak mereka, Pangeran Archie dan Putri Lilibet. Setelah mundur pun Meghan masih menjadi bulan-bulanan publik. Dia dituduh mempengaruhi Pangeran Harry sehingga dia memutuskan untuk keluar dari istana.
Meski begitu, Meghan Markle tetap menjalani kariernya. Dia dan Pangeran Harry mendirikan yayasan Archewell Philantropies dan aktif melakukan advokasi mengenai kesehatan mental serta dampak negatif dari bullying di media sosial.
Di musim gugur lalu, pasangan Sussex menerima penghargaan “Humanitarians of the Year” di Project Healthy Minds’ World Mental Health Day Gala di New York City, AS. Dikutip dari People, penghargaan ini diberikan atas kontribusi Harry dan Meghan dalam membangun ekosistem siber yang lebih ramah untuk keluarga dan anak muda.





