Jakarta: Lima keluarga konglomerat terkaya di kawasan Asia tercatat menguasai total akumulasi kekayaan nyaris menyentuh USD 275 miliar.
Melansir VnExpress, Sabtu, 18 April 2026, mengacu pada daftar peringkat terbaru yang dirilis Bloomberg menginformasikan dominasi kekayaan keluarga konglomerat Asia mayoritas telah memasuki fase estafet kepemimpinan generasi ketiga.
Chearavanont asal Thailand yang kini telah merambah ke kendali generasi keempat, serta keluarga Zhang dari Tiongkok yang fundamental bisnisnya masih dijalankan oleh generasi kedua.
Berikut adalah rincian lima dinasti bisnis terkaya di Asia beserta rekam jejak portofolio bisnis mereka:
1. Keluarga Ambani, India (USD89,7 Miliar)
Keluarga Ambani tak tergoyahkan di puncak dengan total kekayaan mencapai USD89,7 miliar. Sumber utama pundi-pundi ini berasal dari Reliance Industries yang merupakan konglomerasi bisnis yang didirikan oleh Dhirubhai Ambani pada akhir dekade 1950-an.
Pascawafatnya sang pendiri pada 2002, struktur bisnis dipecah dan dikendalikan oleh dua putranya yaitu Mukesh dan Anil. Di bawah komando Mukesh saat ini Reliance menjelma menjadi operator kilang minyak terbesar di dunia dengan diversifikasi portofolio yang merambah sektor teknologi, ritel, jasa keuangan, hingga energi hijau terbarukan.
Mengutip Forbes, pada Februari lalu harga saham perseroan milik keluarga Ambani melonjak 12 persen sepanjang tahun lalu. Reliance bahkan mengumumkan rencana belanja modal senilai USD110 miliar dalam tujuh tahun ke depan untuk menggenjot infrastruktur pusat data di seluruh India. Simbol kekayaan keluarga ini juga tercermin dari kediaman pribadi Mukesh setinggi 27 lantai yang tercatat sebagai rumah pribadi termahal kedua di dunia.
2. Keluarga Kwok, Hong Kong (USD50,2 Miliar)
Kekayaan keluarga Kwok ditopang oleh Sun Hung Kai Properties dengan nilai kekayaan mencapai USD50,2 miliar.
Sun Hung Kai Properties didirikan pada 1960-an oleh Kwok Tak Seng dan melantai di bursa pada 1972 dan masuk dalam jajaran empat besar pengembang properti legendaris di Hong Kong.
Pada 1990, tongkat estafet beralih kepada ketiga putranya yaitu Walter, Thomas, dan Raymond. Walaupun sempat diwarnai friksi internal pada 2008 yang berujung pada lengsernya Walter, perusahaan kini dipimpin oleh Raymond selaku Chairman dan Managing Director.
Kinerja fundamental perseroan terbilang impresif dengan mencatatkan laba bersih sebesar USD1,3 miliar dengan lonjakan 36,2 persen secara tahunan pada Desember 2025. Mengutip South China Morning Post, perusahaan milik keluarga Kwok tersebut akan merilis sejumlah proyek residensial di Hong Kong dalam 10 bulan ke depan dan termasuk fase kedua untuk proyek kawasan elite Cullinan Harbour di Kai Tak.
Baca juga: 10 Orang Terkaya di ASEAN Versi Forbes 2026, Ada 4 dari Indonesia
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
3. Keluarga Lee, Korea Selatan (USD45,5 Miliar)
Dengan estimasi kekayaan mencapai USD45,5 miliar Keluarga Lee adalah dinasti di balik raksasa teknologi Samsung. Entitas ini tampil sebagai pionir tersukses penggerak ekspor Korea Selatan di kancah global.
Didirikan pada 1938 oleh Lee Byung Chul, suksesi kepemimpinan beralih kepada Lee Kun Hee dan kini dipegang oleh sang cucu yaitu Lee Jae Yong. Di bawah kepemimpinan Jae Yong, Samsung tengah gencar melakukan ekspansi ke sektor kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan robotik.
Kendati sempat tersandung sengketa hukum terkait aksi merger dua afiliasi Samsung pada 2015 yang dinilai sebagai manuver suksesi, Jae Yong akhirnya mendapatkan pengampunan presiden pada 2022. Keluarga Lee juga menjadi sorotan atas kewajiban pembayaran pajak warisan senilai USD 8 miliar dari harta peninggalan Kun Hee. Mengutip The Korea Times, cicilan keenam sekaligus pembayaran final pajak warisan tersebut dijadwalkan cair pada bulan ini.
4. Keluarga Chearavanont, Thailand (USD44,8 Miliar)
Sejarah bisnis ini bermula pada 1921 saat Chia Ek Chor bermigrasi dari Tiongkok ke Thailand untuk membuka toko benih sayuran. Satu abad berselang bisnis tersebut berubah menjadi Charoen Pokphand Group (CP Group) yang salah satu produsen pakan ternak dan agrikultur terbesar di dunia dengan kekayaan ditaksir mencapai USD44,8 miliar
Grup bisnis ini memegang saham di perusahaan asuransi Tiongkok Ping An, grup CITIC di Hong Kong dan operator telekomunikasi True Corpt serta mengembangkan lini bisnis pada sayap ritelnya CP Axtra yang pada Februari lalu mengucurkan dana nyaris USD580 juta untuk menambah 110 gerai di Thailand, Malaysia, dan Filipina. Pada Mare lalu, keluarga Chearavanont juga merampungkan akuisisi jaringan supermarket Malaysia yaitu The Food Purveyor senilai USD420 juta.
5. Keluarga Zhang, Tiongkok (USD44,7 Miliar)
Masuk ke industri tekstil pada era 1980-an Zhang Shiping sukses menyulap pabrik kapas kecil milik negara menjadi Weiqiao yang merupakan salah satu produsen tekstil raksasa dunia. Insting bisnisnya berlanjut pada 1994 dengan mendirikan raksasa aluminium China Hongqiao.
Pasca meninggalnya sang pendiri pada 2019 estafet bisnis diteruskan oleh putranya yaitu Zhang Bo yang memimpin unit aluminium dan Zhang Hongxia menakhodai lini bisnis di sektor tekstil. Duet dua sektor ini menjadi jangkar kekayaan keluarga Zhang yang ditaksir mencapai USD44,7 miliar.
Sebagai salah satu produsen aluminium terdepan global China Hongqiao menjadi pemasok utama bagi perusahaan raksasa teknologi Tiongkok seperti Huawei dan Xiaomi, serta pabrikan kendaraan listrik seperti BYD. Keluarga Zhang turut meraup keuntungan besar dari reli harga komoditas yang dipicu oleh tren AI dan pusat data dengan nilai saham meroket lebih dari 160 persen dalam setahun terakhir.




