Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Program prioritas Presiden Prabowo ini menyasar anak-anak keluarga miskin ekstrem sebagai agen perubahan nasional.
Pemerintah terus memperluas jangkauan program Sekolah Rakyat sebagai instrumen utama dalam mengentaskan kemiskinan melalui jalur pendidikan.
Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menargetkan jumlah peserta program unggulan ini akan melonjak hingga lebih dari 100 ribu siswa pada tahun 2027 mendatang.
Untuk tahun 2026 sendiri, alokasi peserta ditargetkan menembus lebih dari 30 ribu siswa baru. Jika terealisasi, total penerima manfaat pada tahun depan diproyeksikan melampaui angka 46 ribu siswa di seluruh Indonesia.
Gus Ipul menjelaskan, program ini secara khusus menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang masuk dalam desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Sebagian besar peserta, kata Gus Ipul, merupakan anak-anak yang pernah putus sekolah atau berisiko tinggi tidak bisa melanjutkan pendidikan.
“Mereka dipersiapkan untuk menjadi agen perubahan bagi dirinya, keluarganya, dan untuk Indonesia,” ujar Gus Ipul dalam keterangan yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 18 April 2026.
Pembangunan Gedung Permanen di Tiap Kabupaten/Kota
Untuk menopang pertumbuhan jumlah siswa, pemerintah secara masif membangun infrastruktur pendidikan. Tahun ini, pembangunan gedung permanen tengah dilakukan di lebih dari 100 titik.
Gus Ipul menegaskan, hal ini sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan setiap kabupaten dan kota di Indonesia minimal memiliki satu Sekolah Rakyat permanen.
"Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, setiap kabupaten dan kota ditargetkan memiliki sedikitnya satu Sekolah Rakyat permanen yang mampu menampung sekitar 1.000 siswa jenjang SD, SMP, dan SMA," ujarnya.
Sembilan Bulan Berjalan: Perubahan Karakter dan Kedisiplinan
Sejak dimulai pada 14 Juli 2025 lalu, program yang telah berjalan selama sembilan bulan ini mulai menunjukkan hasil nyata. Menurut Gus Ipul, para siswa kini tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, disiplin, dan memiliki tekad kuat untuk masa depan.
"Siswa mulai lebih percaya diri, sudah memiliki minat dan tekad di bidang tertentu. Yang lebih penting adalah mereka memiliki kesadaran memanfaatkan kesempatan yang ada agar benar-benar menjadi siswa yang berilmu, berkarakter, dan pintar," ungkapnya.
Meski sempat menghadapi tantangan adaptasi sistem berasrama pada satu bulan pertama, kini ritme pendidikan mulai berjalan stabil. Gus Ipul menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat menerapkan sistem pendidikan terpadu.
Pada pagi hari, siswa fokus pada pembelajaran formal berbasis Learning Management System (LMS). Sementara itu, sore hingga malam hari didedikasikan untuk pembinaan karakter oleh wali asrama dan wali asuh untuk memperkuat nilai-nilai spiritualitas dan cinta tanah air.
“Kita ingin anak-anak kita ini memiliki karakter yang kuat sebagai orang beragama, cinta sesama, cinta ilmu, dan menyadari kontribusi mereka bagi kemajuan Indonesia di masa depan,” pungkas Gus Ipul.
Pemerintah juga memastikan akan terus mendampingi para lulusan Sekolah Rakyat hingga mereka mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau terserap di dunia kerja sebagai tenaga kerja terampil.
Editor: Redaksi TVRINews





