Jakarta: Mahasiswa sebagai agen perubahan, mesti menjadi penjernih pikiran. Utamanya, di tengah tsunami informasi melalui digitalisasi.
"Agar mahasiswa tidak terjebak dalam apatisme, melainkan harus mampu menjadi penjernih pemikiran di tengah banjir informasi," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (Hima Persis), Sholahudin Hasan, dalam keterangan yang dikutip Sabtu, 18 April 2026.
Hal itu diungkap dalam refleksi 30 tahun Hima Persis. Menurut dia, mahasiswa perlu meningkatkan kematangan berpikir dalam sudut pandang mereka.
Terutama, kata dia, dalam melihat krisis di Timur Tengah. Kemudian, menyikapi pergeseran peta geopolitik global, yang semakin kompleks.
Baca Juga :
Lestari Moerdijat: Pengamalan Nilai-Nilai Kebangsaan Wujudkan Harmoni"Dalam pandangannya, kematangan usia organisasi menuntut tanggung jawab sejarah yang lebih besar," kata Sholahudin.
Jajaran Hima Persis, kata dia, tidak boleh menutup mata terhadap hal itu. Sebab, globalisasi menuntut perhatian dari seluruh pihak, termasuk mahasiswa.
Ketum Hima Persis Sholahudin Hasan. Foto: Istimewa
Dalam 3 dekade berkiprah, Sholahudin meminta kader memperkuat kembali solidaritas internasional. Sekaligus, mengingat soal ketidakadilan.
"Itu merupakan ancaman bagi perdamaian di seluruh dunia," ujarnya.




