Ladies, tahukah kamu bahwa secara finansial, perempuan lebih rentan di masa tua? Ketimbang laki-laki, ternyata perempuan dihadapkan dengan lebih banyak tantangan terkait keuangan. Bahkan, tantangan ini bisa terjadi di usia produktif dan berdampak di hari tua.
Hal ini dipaparkan oleh ahli perencanaan keuangan atau Financial Planner Bareyn Mochaddin, S.Sy, M.H, RIFA, RFC, dalam sesi kumparan Hangout Online bertajuk Women and Money: Building Financial Freedom Today, Sabtu (18/4).
Selama dua jam, Bareyn memberikan paparan kepada para peserta sharing session—yang juga disebut teman kumparan, mengenai pengelolaan keuangan bagi perempuan. Sesi pemaparan dan diskusi ini melingkupi cara menentukan prioritas keuangan, cara membagi penghasilan ke dalam pos-pos keuangan, pemahaman terkait investasi dan dana darurat, serta penekanan terkait pentingnya financial freedom bagi perempuan.
Financial freedom atau kemerdekaan secara finansial akan mampu membantu perempuan dalam menjalani hidup dengan tenang. Sebab, ketika perempuan memiliki uang dan mampu mengelolanya dengan baik, ia akan memiliki pilihan. Tak hanya itu, perempuan juga akan lebih siap secara finansial ketika menghadapi perubahan hidup besar, seperti hidup setelah pensiun.
Meskipun kemerdekaan finansial sangatlah penting, jalan perempuan untuk meraihnya sering kali terhambat. Para perempuan harus dihadapkan dengan deretan realita keuangan yang menjadi rintangan berat, terlebih di usia tua. Nah, memahami realita-realita ini dapat membantu menyadarkan betapa pentingnya pengelolaan keuangan yang baik bagi perempuan.
5 Realita keuangan perempuanMenurut Bareyn, setidaknya ada lima realita keuangan perempuan yang banyak dialami perempuan, tetapi masih jarang dibahas maupun dipahami. Simak selengkapnya berikut ini, Ladies.
1. Perempuan butuh lebih banyak uang pensiunBareyn menjelaskan, perempuan cenderung memiliki usia harapan hidup lebih lama dibandingkan laki-laki. Setelah pensiun, perempuan hidup setidaknya 5–7 tahun lebih lama dibandingkan laki-laki, yaitu 75–77 tahun. Ini artinya, perempuan memerlukan dana pensiun lebih banyak.
“Dampaknya, perempuan butuh dana pensiun lebih banyak daripada laki-laki. Kalau laki-laki butuh setidaknya Rp 12 miliar untuk kehidupan 15 tahun pensiun, kalau perempuan perlu menambahkan bekal untuk hidup lima tahun lagi. Bisa menambah hingga Rp 1 miliar yang perlu dipersiapkan,” ucap Bareyn.
2. Career break mengganggu kesehatan keuanganMenurut Bareyn, satu tantangan besar yang dihadapi perempuan di usia produktif adalah career break atau jeda karier. Ini menyebabkan tantangan berat dalam keuangan. Keputusan ini biasanya diambil oleh perempuan ketika hamil, melahirkan, dan membesarkan anak.
Saat perempuan mencoba untuk kembali bekerja setelah jeda karier, tak jarang mereka harus mulai dari awal atau dari level yang lebih rendah dibandingkan sebelum mereka jeda.
3. Kesenjangan upah antara perempuan dan laki-lakiPay gap atau kesenjangan upah bukan hal asing di dunia kerja. Menurut laporan oleh UN Women yang dirilis 2020, perempuan diupah 23 persen lebih rendah daripada laki-laki.
Ini juga terjadi secara global. Bareyn mengambil contoh gaji atlet basket laki-laki (NBA) dan perempuan (WNBA) di Amerika Serikat. Menurutnya, setiap tahun atlet laki-laki digaji jutaan dolar AS, sementara atlet perempuan hanya ratusan ribu dolar AS.
“Inilah yang mungkin terjadi di antara kita. Laki-laki dibayar lebih tinggi dibandingkan perempuan. Artinya apa? Pay gap ini membuat kemampuan perempuan untuk menyisihkan uang menjadi lebih sulit,” jelas Bareyn.
4. Berpisah dengan pasanganSetelah menikah, kehidupan banyak perempuan ditanggung oleh suami. Mereka bergantung secara finansial tanpa memiliki pemasukan pribadi atau aset. Namun, pada akhirnya, perempuan akan berpisah dengan pasangannya—baik cerai hidup maupun cerai mati.
“Ini akan mempengaruhi keuangan, dampaknya sangat besar. Berpisah ini bisa cerai hidup atau mati, mau pisahnya karena keadilan agama atau meninggal dunia. Kalau kehidupan sehari-hari ditanggung suami, artinya akan ada uang yang berhenti diberikan suami. Perempuan harus menghidupi diri sendiri, harus cari uang sendiri,” jelas Bareyn.
5. Banyak perempuan jadi kepala keluargaRealita lainnya adalah banyak perempuan yang menjadi kepala keluarga. Penghasilan yang diperoleh oleh para perempuan tersebut tidak dinikmati oleh diri sendiri saja, tetapi untuk menghidupi keluarganya.
“Maka pelajarannya apa? Perempuan harus bisa mandiri secara finansial. Dengan mandiri secara finansial, kita punya pilihan. Dengan mandiri finansial, kita bisa hidup nyaman; baik itu sekarang, maupun di masa pensiun nanti," tegas Bareyn.





