Megawati Menyerukan Reformasi PBB, Minta Hak Veto Dihapus

jpnn.com
20 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri menyebut saat ini perlu dilakukan reformasi total atau re-tooling, terhadap sistem dan struktur di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Hal demikian dikatakan Megawati saat berpidato pada seminar Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Sabtu (18/4).

BACA JUGA: Megawati: Dasasila Bandung Relevan Bagi Perlindungan Kedaulatan Bangsa Merdeka

Dia menyebutkan sistem di PBB saat ini sudah usang karena lahir dari konstelasi Perang Dunia (PD) II.

Menurut Ketum PDI Perjuangan itu, reformasi total PBB juga digaungkan Proklamator RI Soekarno atau Bung Karno dalam pidato pada 1960 berjudul To Build The World a New.

BACA JUGA: Jejak Sejarah KAA 1955 di Hotel Savoy Homann, Kamar Soekarno Hingga Zhou Enlai Masih Bisa Dihuni

"Bung Karno menyerukan reformasi atau re-tooling PBB. Kesetaraan antarbangsa menjadi agenda terbesar Bung Karno," ujar Megawati dalam pidatonya.

Megawati mengatakan gagasan besar Bung Karno terkait reformasi PBB ialah menghapuskan hak istimewa negara-negara tertentu yang dinilai menciptakan ketimpangan global.

BACA JUGA: Hasto PDIP Bilang Kritik Publik Era Presiden Jokowi Banyak yang Benar

"Bung Karno mengusulkan penghapusan hak veto yang dimiliki negara pemenang Perang Dunia II. Selain itu, perlu ada perubahan Piagam PBB dengan memasukkan Pancasila sebagai landasan internasional," kata dia.

Tak hanya soal ideologi dan hak suara, Megawati juga mendorong perubahan struktur Dewan Keamanan hingga pemindahan Markas Besar PBB ke negara yang netral. 

Dia mengatakan reformasi itu dinilai mendesak mengingat situasi geopolitik dunia yang sedang bergejolak. 

Megawati mencontohkan persoalan di Venezuela serta serangan terhadap Iran sebagai bukti bahwa sistem internasional saat ini sedang ‘goncang’.

"Dunia kini memerlukan pemikiran alternatif tentang bagaimana perdamaian dunia diwujudkan," kata dia.

Megawati menyatakan bahwa ancaman neokolonialisme dan imperialisme (Nekolim) masih bekerja dalam sifat dan corak yang berbeda pada era modern ini. 

Sebagai solusi konkret, dia memandang pelaksanaan Konferensi Asia Afrika Jilid II menjadi sangat relevan untuk menjaga kedaulatan bangsa-bangsa merdeka.

"Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika Jilid II sangat relevan, di sinilah pemikiran geopolitik Bung Karno menjadi kompas bagi masa depan bangsa dan dunia," pungkas Megawati. (ast/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Megawati: Serangan ke Iran dan Penculikan Maduro Buktikan Dasa Sila Bandung Relevan


Redaktur : M. Rasyid Ridha
Reporter : Aristo Setiawan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jubir JK Respons Narasi Balas Budi ke Jokowi
• 10 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Hendak Mengikuti Musda Partai, Ketua DPD II Golkar Maluku Tenggara Tewas Ditikam
• 1 jam lalukompas.id
thumb
Kepercayaan Publik pada Setkab Menguat, Komunikasi Teddy Dinilai Jadi Kunci
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harga BBM Nonsubsidi Naik, Pramono Dorong Warga Gunakan Transportasi Umum
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Jusuf Kalla Kasih Nasihat ke Jokowi soal Ijazah: Kenapa Tidak Dikasih Lihat?
• 19 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.