Belakangan ini, aksi penangkapan ikan sapu-sapu tengah gencar dilakukan di berbagai daerah. Bahkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun ikut bergerak menangani populasi ikan ini di sejumlah sungai di ibu kota.
Langkah tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Sebab, populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta terus meningkat. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Berita Biologi Vol. 24 No. 2 (2025), jumlah ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung meningkat sekitar 24 kali lipat dalam kurun waktu 14 tahun.
Situasi tersebut pun turut memunculkan kekhawatiran lain. Melimpahnya populasi ikan sapu-sapu dikhawatirkan dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab sebagai bahan pangan.
Padahal, menurut para ahli, ikan sapu-sapu tidak layak dikonsumsi manusia karena berpotensi mengandung zat berbahaya yang berasal dari lingkungan perairan tempat hidupnya.
Dosen Teknologi Hasil Perikanan Universitas Sriwijaya, Gama Dian Nugroho, mengingatkan bahwa ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar berpotensi membawa berbagai zat berbahaya bagi tubuh manusia.
“Dampaknya sangat negatif jika daging ikan sapu-sapu dikonsumsi manusia. Apalagi mayoritas perairan di Indonesia sudah tercemar,” ujar Gama kepada kumparanFOOD, Sabtu (18/4).
Menurut Gama, ikan sapu-sapu merupakan jenis ikan dasar yang mampu bertahan hidup di lingkungan tercemar. Kemampuan inilah yang justru membuat ikan tersebut rentan menyerap logam berat dari perairan dan menumpuknya di dalam tubuh.
“Kalau limbah industri seperti merkuri atau timbal masuk ke sungai, ikan sapu-sapu tetap bisa hidup dan logam berat itu dapat terakumulasi di dalam dagingnya,” jelasnya.
Jika ikan yang telah terkontaminasi logam berat itu dikonsumsi secara terus-menerus, efeknya mungkin tidak langsung terasa. Namun dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius, termasuk efek karsinogenik atau memicu kanker.
Tak hanya itu, dari sisi kandungan gizi, ikan sapu-sapu juga dinilai tidak unggul dibanding ikan konsumsi pada umumnya. “Pola makan ikan ini berbeda dengan ikan konsumsi pada umumnya, sehingga nilai gizinya relatif lebih rendah dibanding ikan konsumsi yang populer di Indonesia,” tambah Gama.
Karena hidup di dasar sungai yang tercemar, ikan sapu-sapu juga berisiko membawa bakteri patogen. Hal ini membuat pengolahannya menjadi bahan pangan tetap berbahaya meskipun telah dimasak.
Secara rasa, Gama menjelaskan bahwa daging ikan sapu-sapu mungkin tidak terlalu berbeda setelah diolah, apalagi jika sudah dicampur dengan bahan lain seperti bakso atau olahan ikan lainnya. Justru hal ini yang menjadi celah bagi produsen nakal karena bahan bakunya murah dan sulit dikenali konsumen.
“Kalau sudah diolah menjadi bakso ikan misalnya, teksturnya tersamarkan dan masyarakat sulit membedakannya,” katanya.
Gama menegaskan bahwa ikan sapu-sapu pada dasarnya tidak layak dikonsumsi manusia. Hal ini berkaitan dengan kondisi habitatnya yang kerap berada di perairan tercemar, sehingga berpotensi membawa zat berbahaya ke dalam tubuh ikan.
“Untuk dikonsumsi manusia, ikan ini tidak layak. Mungkin kalau diolah menjadi pakan binatang masih bisa, meskipun efeknya juga kurang baik. Namun, jika terpaksa diolah, penggunaannya lebih memungkinkan untuk pakan binatang daripada konsumsi manusia,” ujarnya.





