Emiten Kesehatan Dibayangi Pelemahan Rupiah, OMED dan PRDA Pasang Kuda-Kuda

bisnis.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja emiten kesehatan Tanah Air tengah berada di bawah bayang-bayang pelemahan rupiah yang kian merana. Aksi impor alat kesehatan hingga bahan baku, berisiko membuat beban perusahaan membengkak, yang pada gilirannya menyusutkan kinerja fundamental perseroan.

Data Trading Economics, menunjukkan bahwa kinerja rupiah terhadap dolar AS telah melemah 2,78% sepanjang tahun berjalan 2026 (year-to-date/YtD) ke level Rp17.140 per Sabtu (18/4/2026). Posisi rupiah di atas level Rp17.000 menunjukkan posisi terlemah rupiah selama belasan tahun belakangan.

Kinerja lesu rupiah sontak membuat emiten kesehatan memasang kuda-kuda. Pasalnya, data Himpunan Produsen Alat Kesehatan (Hipelki) pada awal tahun ini menerangkan bahwa aksi impor alat kesehatan telah tembus hingga 45%. 

Meskipun mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan saat Covid-19, tetapi hal ini menunjukkan ketergantungan yang cukup besar dari industri kesehatan dalam negeri terhadap pasokan alat kesehatan luar negeri.

PT Jayamas Medica Industri Tbk. (OMED) misalnya, mengaku memiliki eksposur yang cukup besar terhadap impor untuk memenuhi operasionalnya. Dengan begitu, tekanan terhadap rupiah secara tidak langsung memberikan risiko terhadap kinerja fundamental perseroan ke depan.

Meskipun begitu, sederet upaya telah dipersiapkan perseroan jika pelemahan rupiah terjadi secara berkepanjangan. Salah satunya melalui natural hedging berbentuk valas sekitar 20% dari alokasi kas perseroan.

Baca Juga

  • Ancang-Ancang Hadapi Dampak Ambrolnya Rupiah bagi Ekspor-Impor
  • Terlemah Sepanjang Masa, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Rp17.185 per Dolar AS
  • Margin Mayora Indah (MYOR) Rawan Tergerus Depresiasi Rupiah

Direktur Keuangan OMED Eka Suwignyo juga menerangkan pasokan bahan baku masih dapat diamankan oleh perseroan setidaknya hingga 4–6 bulan ke depan. Kontrak dengan pemasok bahan baku sebelumnya telah memberikan kepastian harga bagi OMED, walaupun kondisi geopolitik yang memanas turut membuat mahal berbagai bahan baku.

”Masih tanda kutip pakai harga lama karena masih [menggunakan] stock yang harga sebelumnya. Secara umum kami masih aman, mungkin nanti di semester I kami akan diskusi kembali,” katanya dalam acara Earning Call OMED, Jumat (17/4/2026).

Eka turut menerangkan pihaknya juga berupaya untuk mencari pemasok anyar yang dapat memberikan harga lebih kompetitif terhadap pasokan bahan baku perseroan.

”Selain tadi mencari vendor baru dan lain sebagainya, supaya harga bisa lebih terjangkau, kami juga melakukan diversifikasi untuk pembayaran,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Prodia Widyahusada Tbk. (PRDA) Dewi Muliaty menerangkan operasional perseroan masih terkendali meski memiliki eksposur impor yang cukup besar.

Terlebih, Prodia juga memastikan keamanan pasokan melalui jalinan nota kesepahaman mengenai nilai tukar kurs dengan penyedia bahan baku. Dengan begitu, dampak pelemahan rupiah dinilainya belum signifikan terhadap Prodia.

”Jadi kami sampai saat ini sih masih aman dan dari mereka masih ada jaminan sampai 6 bulan ke depan, bahkan sampai akhir tahun. Jadi tidak terlalu besar dampaknya,” katanya saat ditemui wartawan di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi, menilai pelemahan rupiah bakal berdampak negatif kepada emiten kesehatan lantaran risiko kenaikan beban pokok perusahaan. Sektor farmasi dinilai menjadi salah satu yang paling terdampak karena hampir 90% bahan baku farmasi masih diimpor.

”Semester I/2026 kemungkinan masih tertekan. Margin berisiko turun akibat rugi kurs meski top line mungkin stabil,” kata Wafi kepada Bisnis, dikutip Sabtu (18/4/2026).

Di tengah kondisi ini, emiten rumah sakit dinilai lebih resilien lantaran memiliki pricing power untuk menyalurkan kenaikan harga kepada pelanggan.

Dengan begitu, Wafi merekomendasikan saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) pada target harga Rp3.200 dan PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) pada target harga Rp1.500 per saham.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
MU Sikat Chelsea di Stamford Bridge, Tiket Liga Champions Makin Dekat
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Posco Jajaki Investasi Tambahan US$4,3 Miliar untuk Ekspansi Pabrik Baja
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
ChineseRd dan Universitas Bunda Mulia Gelar Mandarin Champion dan Job Fair aaa2026, Sukses Diikuti 1.712 Peserta dari Seluruh Indonesia
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Gempa Hari Ini Magnitudo 5,9 Guncang Nias Utara, BMKG: Hati-Hati Gempa Susulan
• 2 jam lalurctiplus.com
thumb
OJK Panggil Direksi BNI, Minta Tuntaskan Kasus Dana Jemaat Gereja Rp 28 M
• 3 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.