REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan Selat Hormuz ditutup dan setiap kapal yang mencoba melewati jalur air tersebut akan menjadi sasaran.
Sikap ini merupakan sebuah perubahan dramatis kurang dari 24 jam setelah jalur pelayaran penting tersebut dibuka kembali.
Baca Juga
Pigai Tolak Pemolisian Feri Amsari, Sebut Ada Skenario Downgrade Pemerintah
YIS dan OK Oce Gan Latin 40 Perempuan Pelaku Usaha di Bogor
Tentara Prancis Anggota UNIFIL Tewas Diserang, RI Sampaikan Belasungkawa
Dalam pernyataan yang dimuat oleh Kantor Berita Mahasiswa Iran, angkatan laut IRGC mengatakan pada Sabtu bahwa selat tersebut akan ditutup sampai Amerika Serikat mencabut blokade angkatan lautnya terhadap kapal dan pelabuhan Iran.
Dikatakan bahwa blokade tersebut merupakan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata yang sedang berlangsung dalam perang AS-Israel di Iran.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Kami memperingatkan bahwa tidak ada kapal jenis apa pun yang boleh bergerak dari tempat berlabuhnya di Teluk Persia dan Laut Oman, dan mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh, dan kapal yang melanggar akan menjadi sasaran,” katanya.
Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran dan negosiator senior dalam pembicaraan antara Washington dan Teheran tentang pengakhiran perang, mengatakan dalam sebuah wawancara televisi bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali Republik Islam.
“Amerika telah menyatakan blokade selama beberapa hari sekarang. Ini adalah keputusan yang ceroboh dan bodoh,” tambahnya.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)