Khartoum (ANTARA) - Sudan memasuki tahun keempat perang antara Angkatan Bersenjata Sudan dan paramiliter Pasukan Pendukung Cepat.
Selama tahun-tahun tersebut, Sudan menjadi medan terbuka dengan kerugian yang terus meningkat, tidak hanya di medan pertempuran, tetapi di setiap aspek kehidupan, seiring dampak kemanusiaan dan ekonomi yang terus memburuk.
Berikut gambaran umum perang Sudan berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh sejumlah organisasi internasional.
Kematian: sekitar 33.000 kematian tercatat di rumah sakit, menurut Kementerian Kesehatan Sudan.
Pengungsi: Setelah mencapai puncaknya pada Januari 2025 dengan lebih dari 11 juta orang, jumlah pengungsi internal turun menjadi sekitar 9 juta orang, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).
Pengungsi lintas negara: sekitar 3,9 juta pengungsi Sudan masih berada di negara-negara tetangga, terutama di Mesir, Chad, Libya, Sudan Selatan, Uganda, dan Ethiopia, menurut IOM.
Bantuan kemanusiaan: sekitar dua dari setiap tiga orang di Sudan membutuhkan bantuan kemanusiaan, menjadikannya krisis kemanusiaan terbesar di dunia, menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Anak-anak: sedikitnya 4,2 juta anak berisiko malanutrisi, dan lebih dari 8 juta anak kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan, dalam salah satu krisis pendidikan terburuk di dunia, menurut UNICEF.
Kelaparan: Krisis kelaparan telah dikonfirmasi di El Fasher (Darfur Utara) dan Kadugli (Kordofan Selatan), sementara jutaan orang menghadapi risiko kelaparan di sekitar 20 daerah yang sulit dijangkau, menurut laporan Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu yang diterbitkan pada November 2025.
Layanan kesehatan: Sekitar 37 persen fasilitas kesehatan tidak beroperasi, dan 21 juta warga Sudan membutuhkan layanan kesehatan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pengangguran: Lebih dari 5 juta orang kehilangan sumber pendapatan mereka, dan lebih dari 70 persen warga hidup di bawah garis kemiskinan, menurut Organisasi Buruh Internasional dan serikat buruh Sudan.
Selama tahun-tahun tersebut, Sudan menjadi medan terbuka dengan kerugian yang terus meningkat, tidak hanya di medan pertempuran, tetapi di setiap aspek kehidupan, seiring dampak kemanusiaan dan ekonomi yang terus memburuk.
Berikut gambaran umum perang Sudan berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh sejumlah organisasi internasional.
Kematian: sekitar 33.000 kematian tercatat di rumah sakit, menurut Kementerian Kesehatan Sudan.
Pengungsi: Setelah mencapai puncaknya pada Januari 2025 dengan lebih dari 11 juta orang, jumlah pengungsi internal turun menjadi sekitar 9 juta orang, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).
Pengungsi lintas negara: sekitar 3,9 juta pengungsi Sudan masih berada di negara-negara tetangga, terutama di Mesir, Chad, Libya, Sudan Selatan, Uganda, dan Ethiopia, menurut IOM.
Bantuan kemanusiaan: sekitar dua dari setiap tiga orang di Sudan membutuhkan bantuan kemanusiaan, menjadikannya krisis kemanusiaan terbesar di dunia, menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Anak-anak: sedikitnya 4,2 juta anak berisiko malanutrisi, dan lebih dari 8 juta anak kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan, dalam salah satu krisis pendidikan terburuk di dunia, menurut UNICEF.
Kelaparan: Krisis kelaparan telah dikonfirmasi di El Fasher (Darfur Utara) dan Kadugli (Kordofan Selatan), sementara jutaan orang menghadapi risiko kelaparan di sekitar 20 daerah yang sulit dijangkau, menurut laporan Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu yang diterbitkan pada November 2025.
Layanan kesehatan: Sekitar 37 persen fasilitas kesehatan tidak beroperasi, dan 21 juta warga Sudan membutuhkan layanan kesehatan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pengangguran: Lebih dari 5 juta orang kehilangan sumber pendapatan mereka, dan lebih dari 70 persen warga hidup di bawah garis kemiskinan, menurut Organisasi Buruh Internasional dan serikat buruh Sudan.





