Bisnis.com, JAKARTA – PT Teladan Prima Agro Tbk. (TLDN) sepanjang 2025 membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih masing-masing dua digit. Tahun ini perseroan kembali membidik pertumbuhan kinerja keuangan di tengah prospek pasar crude palm oil (CPO) yang semakin mentereng.
Emiten perkebunan kelapa sawit milik Wishnu Wardhana ini tahun lalu mengantongi laba bersih Rp1,10 triliun atau tumbuh 34,04% secara year on year (YoY). Pertumbuhan tersebut sejalan dengan pendapatan yang dibukukan perseroan sebesar Rp5,42 triliun, yang juga naik 28,73% YoY.
Menilik kinerja operasional, produksi tandan buah segar (TBS) perkebunan inti tumbuh 3,6% YoY menjadi 1,10 juta ton, sedangkan TBS kebun plasma naik 9% YoY menjadi 161,47 ton, dan TBS olahan meningkat 5,9% YoY menjadi 1,46 juta ton.
Dari sisi produktivitas, rata-rata produksi TBS per hektar pada 2025 untuk tanaman inti terjaga di level 22,2 ton per hektar, sama dengan kinerja 2024.
Head of Corporate Finance & Strategy TLDN, Wasisto Budi S menjelaskan bahwa pertumbuhan pendapatan 2025 didorong oleh meningkatnya volume penjualan CPO sebesar 8% yoy dan harga jual rata-rata CPO yang melonjak 14,5% yoy. Dengan tren harga CPO yang melanjutkan kenaikan, serta demand yang terus tumbuh, TLDN tahun ini kembali menargetkan pertumbuhan dua digit.
"Kami optimistis untuk menargetkan target produksi tahun ini Insyaallah bisa lebih baik 5-10% dibandingkan tahun 2025. Begitu juga dengan target pendapatan dan laba tahun 2026, yang kami optimistis untuk bisa mencapai 10% lebih baik dibandingkan tahun 2025," ujarnya dalam konferensi pers hasil RUPST Tahun Buku 2025, di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Upaya perseroan untuk mencapai target tersebut adalah dengan strategi organik berupa pembangunan pabrik baru, dan strategi anorganik melalui akuisisi. Perseroan 2026 ini menyiapkan alokasi belanja modal (capex) lebih dari Rp600 miliar untuk mengeksekusi strategi tersebut.
Untuk strategi organik, TLDN tahun ini akan membangun satu pabrik pengolahan inti sawit yang diestimasi nilai investasinya sebesar Rp50-60 miliar, serta membangun satu pembangkit listrik tenaga biogas dengan investasi Rp40-50 miliar.
Saat ini TLDN memiliki 64.430 hektare area tertanam, kapasitas pabrik kelapa sawit 335 ton TBS per jam, pabrik inti sawit dengan produksi 100 ton palm kernel per hari, serta pembangkit listrik biogas berkapasitas 1,7 megawatt. Dengan enam pabrik pengolahan kelapa sawitnya, TLDN sejak 2013 mencatat pertumbuhan CAGR kapasitas produksi sebesar 5% per tahun.
Akuisisi pabrik kelapa sawit menjadi strategi anorganik TLDN untuk menggenjot performa. Tahun lalu, TLDN mengakuisisi PT Cipta Davia Mandiri dengan kocek sebesar Rp136,32 miliar. Angka tersebut menjadi porsi terbesar dari realisasi penggunaan dana IPO Rp220,32 miliar, atau 77% dari hasil IPO Rp285,60 miliar. Untuk penguatan anak usaha baru itu, sisa dana IPO Rp65,28 miliar akan digunakan untuk penyetoran modal.
Tahun ini perseroan tak menutup peluang melakukan akuisisi baru. "Kami sangat terbuka dengan rencana akuisisi dan menjadi salah satu rencana yang ada di rencana jangka panjang perusahaan untuk terus meningkatkan kemampuan akuisisi perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit," sambungnya.
Wasisto mengatakan bahwa TLDN saat ini memiliki ruang yang cukup lebar dari segi pembiayaan ekspansi. Pasalnya, pelunasan utang-utang dari perbankan telah dilakukan perseroan yang membuat total liabilitas turun 5,8% YoY pada 2025 menjadi Rp2,37 triliun. Di sisi lain, ekuitas perseroan tumbuh solid 15,9% YoY menjadi Rp3,64 triliun.
Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) dalam riset bertajuk Indonesia Palm Oil Industry Outlook 2026 menjelaskan bahwa dalam pasar minyak nabati global, terdapat empat komoditas utama yaitu CPO, minyak kedelai, minyak kanola dan minyak bunga matahari. Di sini, CPO menempati posisi dominan di pasar dengan kontribusi 35% dari total produksi 2025.
Usai pasar CPO melalui fase kritis yang terjadi pada 2020 dan 2024, 2025 lalu produksi global mulai pulih menjadi 82 juta ton atau meningkat 2,1%. Pada 2026 ini, diproyeksikan angkanya naik 2,6% menjadi 84,1 juta ton.
Implementasi campuran bahan bakar nabati dalam bahan bakar minyak (BBM) disebut akan menjadi driver utama yang mengerek harga CPO global. Negara-negara yang sudah memberikan mandat misalnya seperti B5 (campuran 5%) di Thailand, B20 di Malaysia, B40 di Indonesia, B10 di Kolombia, B5 di Peru sampai B3 di Philipina. Di pasar global, Indonesia dan Malaysia memegang peran penting dengan kontribusinya sebesar 83% dari total produksi global, sehingga implementasi kebijakan bauran minyak nabati akan signifikan memengaruhi harga CPO.
Indonesia yang saat ini menjalankan mandatori B40 sejak Januari 2025 memengaruhi gerak harga CPO di paruh pertama 2026 di kisaran US$1.050-US$1.150 per ton. Dengan mandat peningkatan menjadi B50 mulai Juni 2026, penyerapan domestik ditaksir akan meningkat sekitar 2,1 juta ton CPO untuk biodisel.
"Peningkatan konsumsi domestik ini secara langsung akan mempersempit ruang ekspor, sehingga memperketat pasokan global di tengah penurunan stok minyak nabati global dan pertumbuhan produksi CPO yang hanya sekitar 2,6%. Dalam kondisi tersebut, pasar akan merespons cepat terhadap perubahan pasokan marjinal, sehingga harga CPO diperkirakan naik ke kisaran US$1.130–US$1.200 per ton," tulis laporan tersebut.
Sementara itu, Tim Riset Ajaib Sekuritas mencatat implementasi B40 telah menambah permintaan 14,2 juta ton CPO, dan implementasi B50 akan membuat permintaan tersebut naik lagi sebesar 3-4 juta ton.
"Dengan produksi Indonesia yang diproyeksikan tumbuh 4%–5% YoY pada 2026, industri memasuki 2026 dengan profil keseimbangan supply-demand yang lebih baik, sehingga memperkuat outlook jangka menengah sektor kelapa sawit," tulis riset tersebut.
Prospek pasar CPO yang cemerlang juga tak lepas dari tantangan. Direktur Pemasaran dan Komersial TLDN, Santos Ibrahim Noor melihat pada awal 2026 permintaan CPO sempat melandai karena hilangnya sebagian kecil pasar CPO di Timur Tengah akibat perang.
Kedua, harga CPO yang mulai tinggi membuat disparitas harganya dengan minyak nabati lainnya semakin dekat, membuat buyer punya alternatif lain pada komoditas minyak kedelai ataupun bunga matahari.
"Yang paling penting adalah El Niño yang berkepanjangan, yang kita harapkan semoga tidak terjadi. Tapi para ahli menyatakan bahwa tahun 2026 ini ada kemungkinan besar terjadinya El Niño di sektor perkebunan dan pertanian," ungkap Santos.
Sementara itu, Direktur Keuangan, Akuntansi dan Pajak TLDN Mahirudin mengatakan bahwa konflik geopolitik membuat harga material dan barang pendukung melambung. Bagi perusahaan kelapa sawit seperti TLDN, kenaikan yang paling terasa adalah pada harga pupuk.
Mahirudin membaca situasi tersebut, sehingga TLDN untuk 2026 ini telah memenuhi 70% kebutuhan pupuk mereka tepat sebelum harganya melonjak.
"Sehingga dengan kenaikan yang terakhir ini ber-impact hanya 30% terhadap pupuk, sehingga tidak banyak berpengaruh terhadap biaya operasional tahun ini," ujar Mahirudin.
Selain pupuk, bahan baku yang harganya melambung di tengah perang yang berkecamuk adalah minyak. Namun, untuk perusahaan kelapa sawit kebutuhan minyak hanya sekitar 15%-20% dari total biaya produksi, sehingga tak terlalu signifikan berimbas pada TLDN.





