Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Pemerintah melalui Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) menegaskan komitmennya dalam mendorong inovasi di bidang arsitektur sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif nasional sekaligus upaya menghadapi risiko bencana.
Komitmen tersebut disampaikan Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, saat menghadiri International Disaster Resilience Workshop & Conference 2026 bertema Rethinking Architecture: Disaster Risk Reduction, Resilience & Recovery (DR3) di Banda Aceh.
Menurut Riefky, kehadiran pemerintah dalam forum arsitektur internasional ini menjadi bukti keseriusan dalam mengembangkan subsektor arsitektur sebagai salah satu pilar penting ekonomi kreatif.
"Arsitektur merupakan salah satu dari 17 subsektor ekonomi kreatif yang terus kami dorong. Kami meyakini industri ini akan terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional," ujar Riefky dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Minggu, 19 April 2026.
Ia mengungkapkan, pada 2024 subsektor arsitektur mampu menyerap lebih dari 61 ribu tenaga kerja, dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai lebih dari 2,1 miliar dolar AS serta investasi sekitar 22 juta dolar AS. Capaian tersebut menunjukkan peran strategis arsitek dalam pembangunan ekonomi.
Lebih lanjut, Riefky menekankan bahwa peran arsitektur kini tidak lagi sekadar estetika, tetapi telah bertransformasi menjadi bagian penting dalam mitigasi bencana dan ketahanan nasional.
"Melalui inovasi desain, arsitektur mampu mengubah potensi bahaya menjadi risiko yang terkelola. Ini menjadi kontribusi nyata sektor ekonomi kreatif dalam mendukung ketahanan bangsa," jelasnya.
Dalam memperkuat ekosistem tersebut, pemerintah terus mendorong kolaborasi lintas sektor atau hexahelix, termasuk dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) sebagai organisasi profesi arsitek di Indonesia.
Sementara itu, forum DR3 yang digelar di Hermes Palace Hotel menjadi wadah diskusi global terkait pengurangan risiko bencana dan pemulihan berbasis pendekatan arsitektur. Kegiatan ini juga menandai pertama kalinya agenda Union Internationale des Architectes (UIA) diselenggarakan di Indonesia sejak organisasi tersebut berdiri pada 1948.
Pemilihan Banda Aceh sebagai tuan rumah dinilai tepat karena kota ini menjadi simbol ketangguhan dan keberhasilan rekonstruksi pascabencana yang diakui dunia internasional.
Melalui partisipasi dalam forum ini, pemerintah berharap inovasi di bidang arsitektur dapat terus berkembang dan berkontribusi tidak hanya pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dalam menjawab tantangan global, khususnya terkait kebencanaan dan keberlanjutan.
Editor: Redaktur TVRINews





