Mana Lebih Baik, Kopi Panas atau Cold Brew? Ini Penjelasannya

suarasurabaya.net
11 jam lalu
Cover Berita

Perdebatan klasik soal kopi—lebih baik panas atau dingin—ternyata tidak sekadar soal selera. Perbedaan suhu minuman kopi bisa memengaruhi kandungan kafein, antioksidan, hingga dampaknya bagi tubuh.

Baik kopi panas, iced coffee, maupun cold brew memiliki kadar kafein yang bervariasi. Faktor penentunya meliputi jenis biji, ukuran gilingan, metode penyeduhan, hingga tingkat pengenceran.

Iced coffee dan cold brew kerap disamakan, padahal keduanya berbeda. Iced coffee diseduh dengan air panas lalu didinginkan menggunakan es, sementara cold brew dibuat dengan merendam bubuk kopi dalam air dingin selama 12–24 jam.

Sejumlah penelitian menunjukkan kadar kafein dapat berbeda signifikan antar metode seduh. Iced coffee umumnya sedikit lebih rendah kafein karena tercampur es, sedangkan cold brew bisa memiliki kadar lebih tinggi akibat proses ekstraksi yang lebih lama.

Dilansir dari laman Health pada Minggu (19/4/2026), jenis sangrai juga berpengaruh. Kopi dengan tingkat sangrai ringan hingga sedang cenderung memiliki lebih banyak kafein dibandingkan dark roast, karena proses pemanggangan dapat mengurangi kadar kafein. Selain itu, biji robusta diketahui mengandung hampir dua kali lipat kafein dibanding arabika.

Meski kafein berperan besar dalam meningkatkan energi, suhu minuman juga memengaruhi persepsi tubuh. Kopi dingin terasa lebih menyegarkan, sementara kopi panas—terutama di pagi hari—sering memberi efek stimulasi yang lebih terasa.

Tambahan dalam kopi juga tidak kalah penting. Krimer dan sirup tinggi gula dapat memicu lonjakan gula darah secara cepat, namun diikuti penurunan energi yang drastis.

Kandungan antioksidan: panas sedikit unggul
Kopi dikenal sebagai sumber antioksidan seperti quercetin dan flavonoid, yang berperan dalam mengurangi peradangan serta mendukung kesehatan otak, jantung, dan sistem imun.

Dalam perbandingan metode seduh, kopi panas disebut mampu mengekstrak sedikit lebih banyak antioksidan—termasuk asam klorogenat—dibandingkan cold brew. Meski demikian, selisihnya relatif kecil dan keduanya tetap memberikan manfaat yang signifikan.

Dampak pada lambung dan asam lambung
Bagi penderita GERD atau refluks asam lambung, kopi bisa memicu ketidaknyamanan. Secara umum, kopi panas memiliki tingkat keasaman sedikit lebih tinggi dibandingkan cold brew, meskipun perbedaannya tipis.

Respons tubuh terhadap kopi sangat individual. Sebagian orang merasa cold brew lebih “ramah” di lambung, kemungkinan karena rasa yang lebih halus, bukan semata-mata karena tingkat keasaman.

Memilih kopi yang tepat
Pada dasarnya, semua jenis kopi—panas, dingin, maupun cold brew—dapat menjadi pilihan yang sehat jika dikonsumsi secara bijak.

Kopi panas mungkin sedikit unggul dalam kandungan antioksidan, sedangkan cold brew sering dianggap lebih lembut dan nyaman di perut. Sementara itu, minuman dingin bisa terasa lebih menyegarkan, terutama di cuaca panas, sedangkan minuman hangat cenderung memberi efek menenangkan.

Yang perlu diperhatikan adalah tambahan gula, sirup, atau krim yang dapat meningkatkan kalori dan memengaruhi kadar gula darah. (saf/iss)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kagetnya Warga Saat BBM Nonsubsidi Naik Rp 6.300-Rp 9.400, Sampai Mengelus Dada
• 17 jam lalukompas.com
thumb
Stok Bensin California Jatuh ke Level Terendah Imbas Gangguan Selat Hormuz
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Riefky Dorong Generasi Muda Jadi Motor Ekonomi Kreatif Nasional
• 11 jam lalutvrinews.com
thumb
Pupuk Indonesia Buka Peluang Ekspor, Domestik Tetap Prioritas
• 18 jam lalubisnis.com
thumb
Kaesang Minta Kader PSI Lampung Berkolaborasi dengan Partai Lain
• 2 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.