Sukses di PSM, Taktik Sama Bernardo Tavares Tak Berefek di Persebaya: Efek Krisis Pemain dan Kehilangan Bruno Moreira?

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SURBAYA — Kekalahan Persebaya Surabaya dari Madura United dengan skor 1-2 di kandang sendiri bukan sekadar hasil minor biasa. Laga ini membuka kembali diskusi lama tentang efektivitas taktik pelatih Bernardo Tavares—yang sebelumnya terbukti sukses bersama PSM Makassar—namun kini dinilai belum sepenuhnya “klik” dengan skuad Green Force.

Bermain di hadapan ribuan Bonek, Persebaya sejatinya tampil dominan. Statistik mencatat mereka menguasai bola hingga 72 persen, sebuah angka yang menunjukkan kontrol permainan yang sangat kuat. Tidak hanya itu, Persebaya juga melepaskan 23 tembakan, dengan enam di antaranya mengarah tepat ke gawang. Namun, angka-angka tersebut justru menjadi ironi ketika dibandingkan dengan hasil akhir pertandingan.

Alih-alih menang, Persebaya harus menelan kekalahan dari Madura United yang tampil jauh lebih efisien. Tim tamu mampu memanfaatkan peluang yang lebih sedikit menjadi gol, memperlihatkan kontras mencolok antara dominasi dan efektivitas.

Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa pendekatan taktik Bernardo Tavares yang sukses bersama PSM Makassar tidak memberikan dampak serupa di Persebaya?

Secara filosofi, gaya bermain Tavares menekankan penguasaan bola, distribusi cepat, serta penciptaan peluang dalam jumlah besar. Pola ini terbukti berhasil saat ia menangani PSM, terutama karena didukung oleh komposisi pemain yang sesuai dengan kebutuhannya—baik dari segi karakter, kedisiplinan taktik, maupun kualitas individu di lini depan.

Namun di Persebaya, implementasi strategi tersebut tampak belum berjalan optimal. Salah satu faktor utama yang mencuat adalah krisis pemain, terutama di sektor penyerangan. Ketajaman lini depan menjadi masalah klasik yang belum terselesaikan.

Absennya sosok seperti Bruno Moreira—yang sebelumnya menjadi tumpuan kreativitas dan produktivitas serangan—semakin memperparah situasi. Tanpa pemain dengan kemampuan eksplosif dan insting gol tinggi, dominasi yang dibangun di lini tengah kerap terhenti di sepertiga akhir lapangan.

Bernardo Tavares sendiri tidak menampik bahwa penyelesaian akhir menjadi persoalan utama timnya. Dalam konferensi pers usai pertandingan, ia menegaskan bahwa banyaknya peluang tidak akan berarti jika tidak dikonversi menjadi gol.

Ia juga menyoroti bahwa secara permainan, terutama di babak kedua, Persebaya menunjukkan perkembangan positif. Intensitas serangan meningkat, pergerakan pemain lebih dinamis, dan tekanan terhadap pertahanan lawan semakin konsisten. Namun, faktor keberuntungan dan ketenangan di depan gawang masih menjadi kendala besar.

Beberapa peluang emas gagal dimanfaatkan dengan maksimal. Ada tembakan yang berhasil diblok lawan, ada yang melenceng tipis, hingga situasi di mana pemain terlambat mengambil keputusan. Dalam pertandingan dengan margin tipis, detail-detail kecil seperti ini menjadi penentu hasil akhir.

Menariknya, Tavares juga membandingkan situasi ini dengan fenomena yang kerap terjadi di sepak bola Eropa. Ia menyinggung bagaimana tim-tim besar bisa mendominasi permainan, tetapi justru kalah karena lawan lebih efektif dalam memanfaatkan peluang. Analogi ini mempertegas bahwa masalah Persebaya bukan pada sistem secara keseluruhan, melainkan pada eksekusi di momen krusial.

Meski demikian, perbandingan tersebut tidak sepenuhnya meredam kekecewaan publik Surabaya. Bonek, yang dikenal sebagai salah satu basis suporter paling loyal di Indonesia, mulai mempertanyakan arah permainan tim. Istilah “balik setelan pabrik” yang ramai di media sosial mencerminkan anggapan bahwa Persebaya kehilangan identitas permainan yang sebelumnya lebih direct dan agresif.

Kini, Persebaya terlihat lebih sabar dalam membangun serangan, tetapi sering kali kehilangan ketajaman di fase akhir. Perubahan ini bisa jadi merupakan bagian dari proses adaptasi terhadap filosofi baru Tavares, namun di sisi lain juga menuntut penyesuaian komposisi pemain yang tidak bisa dilakukan secara instan.

Dalam konteks ini, manajemen tim juga memiliki peran penting. Jika ingin memaksimalkan potensi taktik Tavares, maka dukungan dalam bentuk rekrutmen pemain yang sesuai menjadi krusial. Tanpa itu, sistem yang dirancang dengan baik sekalipun akan sulit menghasilkan output maksimal.

Kekalahan dari Madura United menjadi cermin nyata bahwa sepak bola bukan hanya soal dominasi statistik, tetapi juga efektivitas dan keseimbangan tim. Persebaya mungkin sudah berada di jalur yang benar dalam hal pembangunan permainan, tetapi masih membutuhkan sentuhan akhir untuk menjadi tim yang benar-benar kompetitif.

Ke depan, tantangan terbesar bagi Bernardo Tavares adalah menemukan solusi atas kebuntuan lini depan sekaligus menjaga kepercayaan tim dan suporter. Jika tidak segera diatasi, dominasi tanpa hasil hanya akan menjadi cerita berulang yang semakin menggerus peluang Persebaya di kompetisi musim ini.

“Di babak kedua kupikir kami menciptakan banyak peluang. Dan dinamika permainan yang baik. Ada tembakan yang diblok, ada yang keluar, atau peluang yang tidak berbuah gol,” Kata Tavares.

Bernardo Tavares menilai situasi ini bukan hal asing dalam sepak bola modern. Ia menyebut bahkan tim besar Eropa pun bisa mengalami hal serupa ketika dominasi tak berbanding lurus dengan hasil.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Manchester United Bungkam Chelsea 1-0, Setan Merah Selangkah Lagi ke Liga Champions
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Ruas Jalan Makassar-Takalar dan Gowa Capai 26 Persen, Gubernur Sulsel: Progresnya Terus Berjalan
• 22 jam laluterkini.id
thumb
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz karena Blokade AS
• 22 jam lalutvrinews.com
thumb
Mengapa Motif Dendam Pribadi di Kasus Penyerangan Andrie Yunus Dipertanyakan?
• 8 jam lalukompas.id
thumb
SMAN 3 Tangerang Selatan Sabet Juara Provinsi, Siap Bertarung di LCC Tingkat Nasional
• 5 menit lalujpnn.com
Berhasil disimpan.