Pram Prihatin Lirik Lagu ‘Erika’ HMT-ITB Berubah Jadi Vulgar: Dulu Bukan Begitu

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Gubernur DKI Jakarta sekaligus Ketua Himpunan Mahasiswa Tambang ITB periode 1985-1986, Pramono Anung, angkat bicara soal polemik lagu “Erika” yang dibawakan Orkes Semi Dangdut (OSD) Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung (HMT-ITB) dan viral karena liriknya dinilai vulgar.

Pramono prihatin dengan perubahan lirik lagu tersebut yang menurutnya berbeda dari versi asli yang ia kenal saat masih menjadi mahasiswa ITB.

“Lagu ‘Erika’ lagunya kan ‘Erika’ kan? Itu lagu wajib kalau lagi acara OS ITB ataupun HMT. Tapi memang ketika membaca clickbait-nya yang terakhir saya juga prihatin dan saya yakin dulu liriknya bukan seperti itu,” kata Pramono dalam acara Halalbihalal Ikatan Orang Tua Mahasiswa ITB di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (19/4).

Ia menegaskan, lagu tersebut merupakan bagian dari tradisi mahasiswa ITB sejak lama, khususnya di lingkungan Himpunan Mahasiswa Tambang. Pramono mengaku pernah terlibat langsung dalam kegiatan OSD saat masih aktif sebagai mahasiswa.

“Saya kebetulan pernah ikut dalam OSD. Status saya pegang ecrek-ecrek, pasti gambarnya masih ada dulu pegang ecrek-ecrek,” ujarnya.

Menurut Pramono, pada masanya lagu ‘Erika’ tidak memiliki lirik seperti yang kini dipersoalkan publik. Ia masih mengingat lagu tersebut hingga sekarang.

“Bahkan saya kalau disuruh nyanyi lagunya masih hafal. Karena dulu saya ecrek-ecrek ini kan apa ya pemain tambahan aja, paling kalau mau nambah ya backing vocal aja,” tuturnya.

Pramono mendapat pertanyaan langsung dari anaknya terkait viralnya lagu tersebut.

“Saya juga mendapatkan pertanyaan dari anak saya yang perempuan kebetulan, anak saya tidak di ITB, [tapi] di UI, tapi kemudian sekolah di Columbia. Dia menanyakan, “Dad, bener enggak ini liriknya seperti ini?” Saya jawab liriknya dulu enggak seperti itu,” ucapnya.

Paham Keresahan Mahasiswa dan Alumni ITB

Pramono dapat memahami keresahan yang dirasakan mahasiswa maupun alumni ITB atas polemik tersebut. Ia menilai hal itu tidak terlepas dari perubahan nilai sosial di masyarakat.

“Maka dengan demikian saya bisa merasakan apa yang menjadi keresahan, kegundahan teman-teman ITB,” katanya.

Ia menjelaskan pada masa lalu, pertunjukan OSD, termasuk lagu ‘Erika’ tidak sekadar hiburan, tetapi mengandung unsur kritik sosial dan politik.

“Dan dulu pada waktu itu selalu kelebihannya mahasiswa tambang ITB nyanyi ‘Erika’ pidatonya pidato Pak Harto, yang ditirukan oleh mahasiswa tambang ITB, karena bagian dari perlawanan melawan rezim yang sangat otoriter,” jelasnya.

Pramono pun menyinggung latar belakangnya sebagai alumnus ITB yang menurutnya sangat berpengaruh dalam perjalanan kariernya hingga kini menjabat sebagai gubernur.

“Mahasiswa itu diberikan ruang seluas-luasnya untuk berkarya. Maka saya yakin angkatan-angkatan, mungkin angkatan saya atau di bawah saya, atau orang tua mahasiswa ITB yang pada waktu dulu juga menjadi mahasiswa ITB, salah satu kebanggaan utama begitu kita masuk jalan Ganesha masuk ke ITB selalu selamat datang putra-putri terbaik bangsa,” ujar Pramono.

“Itulah yang kemudian mensugesti membuat mahasiswa ITB menjadi kekuatan individu yang luar biasa. Kebetulan saya menjadi pejabat sejak tahun 99, sampai hari ini nggak pernah putus. Tahun 99 saya menjadi anggota DPR RI dan menjadi sekretaris Wakil Presiden Megawati. Tahun 2001 saya menjadi sekretaris Presiden Megawati, waktu itu boleh merangkap sebagai anggota DPR dan seterusnya menjadi pimpinan DPR, menjadi menteri dua periode, sekarang menjadi Gubernur Jakarta. Menurut saya salah satu hal yang utama adalah karena saya terdidik di ITB. Saya adalah orang dari keluarga yang sangat sederhana, bapak saya guru di Kediri,” lanjutnya.

Pramono juga menceritakan pengalamannya sebagai aktivis mahasiswa yang aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk demonstrasi.

“Maka kenapa kemudian saya bersyukur sekali mendapatkan beasiswa dari ikatan orang tua murid ITB pada waktu itu. Dan itulah yang membentuk saya pribadi,” jelas Pramono.

“Terus terang saya dulu aktivis student center, bahkan lulusnya saya itu dipaksa lulus sebenarnya, karena delapan semester saya sudah nol kredit, mimpin demo terus, termasuk pernah mimpin demo masuk ke DPR RI dan di tahun ketika Pak Rudini datang saya masih sebagai ketua dewannya, harusnya saya ditangkap tapi karena saya sudah sidang sarjana enggak jadi ditangkap,” sambung dia.

Video penampilan OSD Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung (HMT-ITB) yang membawakan lagu “Erika” pada 2020 kembali beredar. Video tersebut viral di media sosial dan menuai kritik karena liriknya dinilai terlalu vulgar serta mengandung unsur yang merendahkan perempuan.

Lagu “Erika” merupakan lagu lama yang telah ada sejak 1980-an dan menjadi bagian dari OSD, unit kegiatan di bawah HMT-ITB yang telah berdiri sejak 1970-an.

Namun, di tengah perubahan norma sosial yang semakin menekankan kesetaraan gender dan penghormatan terhadap martabat individu, konten lagu tersebut dinilai tidak lagi relevan dan berpotensi menimbulkan dampak negatif.

Kondisi tersebut memicu reaksi publik yang mendorong pihak HMT-ITB untuk segera memberikan klarifikasi dan mengambil langkah penanganan.

HMT ITB Minta Maaf

HMT ITB menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik menyusul polemik beredarnya lagu berjudul “Erika” yang dinilai menimbulkan keresahan, khususnya di kalangan perempuan.

Pernyataan sikap tersebut disampaikan HMT-ITB pada Rabu (15/4) sebagai respons atas kritik yang muncul di masyarakat dan media sosial terkait konten lagu yang dianggap tidak sesuai dengan norma kesusilaan.

HMT-ITB mengakui adanya kelalaian dalam menampilkan lagu tersebut di tengah perkembangan nilai sosial yang semakin sensitif terhadap isu kesetaraan dan penghormatan terhadap individu.

“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas beredarnya lagu yang menimbulkan keresahan publik. Kami sangat memahami sensitivitas isu ini dan menyampaikan keprihatinan serta empati kepada masyarakat, khususnya perempuan,” tulis HMT-ITB dalam pernyataan resminya.

HMT-ITB secara tegas mengakui konten dalam penampilan tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung di lingkungan akademik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dugaan Parkir Liar Dilegalkan di Lebak Bulus, DPRD DKI: Harusnya Dipasang Rambu Dilarang, Justru Dibolehkan
• 13 jam laluliputan6.com
thumb
Haru! Tabur Bunga Tutup Pencarian Mahasiswa Calon Pastor Tenggelam di Air Terjun Situmurun
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Pria Bersenjata Lepaskan Tembakan di Kyiv Ukraina, 5 Orang Tewas
• 16 jam laludetik.com
thumb
Ciri-ciri Muka Orang Miskin dan Kaya Terlihat Jelas Menurut Penelitian
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kisah Azizah, Anak TK di Jogja Rawat Ayah Sakit hingga Ikut Mulung
• 5 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.