”Busu Jaman Biyen”, Cara Masyarakat Desa Memberdayakan Diri

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Masyarakat desa bisa menciptakan keramaian ala mereka sendiri. Bukan sekadar untuk bersenang-senang, mereka mencoba maju dan memberdayakan diri serta lingkungannya melalui perhelatan seni budaya.

Pekan lalu, tepatnya 10-12 April 2026, warga Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, punya gawe. Mereka kembali menggelar acara ”Busu Jaman Biyen”, Cara Masyarakat Desa Memberdayakan DiriBusu Jaman Biyen (BJB) Fest 2026. Ini semacam perhelatan pasar malam dengan hiburan, mulai dari musik keroncong, macapat, tari-tarian, hingga pasar kuliner puluhan stan makanan dan minuman tradisional.

Meskipun dibuka dengan hujan deras, semangat warga Dusun Busu untuk menggelar BJB Fest 2026 tidak tampak surut. Para penari cilik tetap berpawai meski gerimis datang. Meski sempat berteduh saat hujan lebat, mereka kembali tampil menari untuk menyambut kedatangan rombongan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang Firmando Hasiholan Matondang.

Di sepanjang jalan kampung, orang-orang berdiri menyaksikan pawai. Saat acara terus berlanjut usai hujan reda, warga kembali berkumpul di dekat panggung untuk menyaksikan pentas. Dusun Busu dihuni lebih kurang 500 keluarga(KK).

Di beberapa titik, tampak ibu-ibu berjualan makanan dan minuman di stan-stan yang didekorasi dengan atap ijuk, hingga menggambarkan nuansa tempo dulu. Demikian secuil kemeriahan festival yang digelar Dusun Busu dengan dukungan dana dari Indonesiana tersebut.

“Kami jualan makanan tradisional seperti lopis, nasi jagung, nasi sredek (nasi campur ubi), dan makanan zaman dahulu. Ini seperti mengenang masa saat saya masih kecil, di mana orang tua sering membuat makanan seperti ini,” kata Jainah (34), salah seorang warga Dusun Busu yang berjualan di stan kuliner.

Meski hanya festival kampung, Jainah mengaku ia sangat terbantu dengan festival tersebut. Sekali berjualan, ia akan mengeluarkan modal sekitar Rp 100.000 sehari. Sedangkan hasil dari berjualan, ia bisa mendapat untung Rp 200.000 sehari.

“Kami senang dengan acara seperti ini, karena setidaknya kami bisa mendapatkan penghasilan tambahan,” kata Jainah.

Mendongkrak popularitas

Acara BJB Fest 2026 sebenarnya sudah digelar sejak tahun 2017. “Saat itu acara awalnya digelar untuk membuat kampung kami dikenal, sebab lokasi kami di pinggiran. Kami ingin mendongkrak popularitas kampung kami, dengan harapan akan muncul peluang-peluang yang bisa membuat kampung ini lebih baik,” kata Kusnadi, penggagas BJB, saat ditemui di sela-sela acara.

Mbok Ngatinah, seniman macapat asal Jabung, Malang, tampil dalam Festival Busu Jaman Biyen, 10-12 April 2026.

Anak-anak ceria mengikuti Festival Busu Jaman Biyen di Dusun Busu, Slamparejo, Jabung, Malang, 10-12 April 2026.

Tari topeng Malangan turut dipentaskan di Festival Busu Jaman Biyen 2026.

Festival Busu Jaman Biyen 2026 jadi salah satu pilihan kemeriahan bagi warga.

Menurut Kusnadi, yang lebih dikenal dengan panggilan Abiet, keramaian akan menjadi salah satu cara bagi warga Dusun Busu untuk bisa ‘bergerak’ maju. “Setelah kampung kami dikenal, kami berharap ada manfaat bagi warga. Entah potensi desanya semakin dikenal, dagangannya laku, atau minimal bisa membuka wawasan dan jaringan,” katanya.

BJB Fest 2026 digelar sederhana, tetapi sarat pesan. Penyelenggaraannya menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Busu sangat mencintai dan berusaha melestarikan seni budaya agar tidak punah.

Isi BJB fest bukan sekadar tari-tarian dan berjualan makanan. Ada beberapa kesenian yang sudah mulai jarang dipentaskan, tetapi diberi ruang di festival ini. Kesenian itu, misalnya, seni macapat oleh Mbok Ngatinah serta ludruk organik oleh warga Dusun Busu sendiri.

“Menariknya adalah warga Dusun Busu sendiri mau berlatih dan mementaskan seni ludruk. Ini salah satu cara warga bersuka ria, sekaligus melestarikan seni tradisi,” kata Abiet.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang Firmando Hasiholan Matondang, mengapresiasi acara Busu Jaman Biyen (BJB) Fest 2026. Menurut dia, BJB Fest 2026 adalah bentuk keberdayaan masyarakat dalam bidang seni budaya.

"Kami akan mendukung kegiatan-kegiatan yang lahir dari masyarakat seperti ini. Sebab, ini menunjukkan bahwa mereka bisa berdaya dengan cara mereka sendiri," katanya.

Menurut Firmando, dinas akan mendukung kegiatan masyarakat ini. Baginya, kerja sama antara pemerintah dan msyarakat untuk membangun seni budaya tersebut akan mendorong pengembangan seni dan budaya di Kabupaten Malang.

"Kalau seni budaya ini kita hidupi seperti cara warga Busu ini, maka hal itu akan menjadi kekuatan luar biasa. Saya nitip ke generasi penerus, anak-anak muda, ayo kita jadikan seni dan budaya menjadi alat pemersatu masyarakat, seperti yang terjadi di Dusun Busu ini, " katanya.

Aneka makanan tradisional disajikan di Festival Busu Jaman Biyen, 10-12 April 2026.

Jajanan tradisional seperti grontol dan tiwul dijajakan pada Festival Busu Jaman Biyen 2026.

Nasi sredek, yaitu nasi campur ubi yang dijual pada Festival Busu Jaman Biyen 2026.

Namun, inti dari perhelatan BJB Fest bukan sekadar kisah kemeriahan. Ada hal paling penting, yaitu perubahan sikap hidup warga.

“Dusun kami ini dusun pinggiran dan tidak dikenal orang. Dahulu kami sangat tertutup, tidak begitu terbuka pada orang lain, tetapi sejak ada BJF Fest, dan kami makin dikenal, warga akhirnya semakin terbuka menerima orang lain. Kami sudah beberapa kali menerima orang lain yang berkunjung dan membuat acara di dusun kami. Bahkan, ada bule mancanegara juga mau datang dan belajar masak dan berkenalan dengan warga kami,” kata Abiet.

Baca JugaFestival Malang Tempo Deoloe Digelar Lagi

Satu lagi, meski tidak berdampak langsung, usai acara BJB digelar berulang beberapa kali, tingkat pendidikan warga Dusun Busu meningkat. Awalnya rata-rata pendidikan warga Dusun Busu adalah SMP.

“Namun kini, setelah terbiasa bertemu banyak orang, wawasan warga kian terbuka, hingga mulai banyak warga mau kuliah. Semoga ke depan semakin banyak orang bisa mengenyam pendidikan tinggi dan kembali memajukan dusun sini,” kata Abiet yang juga lulusan SMP itu.

Pada akhirnya, dari sebuah festival Busu Jaman Biyen, kita bisa belajar banyak. Bahwa, untuk maju dan berkembang, butuh usaha dari diri sendiri. Seperti kehidupan di Dusun Busu, sebuah komunitas masyarakat yang awalnya tertutup akhirnya bisa membuka diri dan menambah wawasan. Perhelatan seni budaya bisa menjadi pendorongnya.

Baca JugaFestival Kampung Klasik Malang, Jadi Hiburan dan Undang ”Cuan” Datang  


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Inilah Daftar Harga Terbaru Pertamax Turbo dan Dexlite setelah Resmi Naik per 18 April 2026
• 20 jam lalujpnn.com
thumb
Pernyataan Resmi PT Taspen Terkait Rapel dan Kenaikan Gaji Pensiunan PNS dan PP Nomor 8 Tahun 2024
• 23 jam laluharianfajar
thumb
Sikapi Penembakan di Papua, Puspen TNI: Dua Insiden Berbeda, Tidak Saling Berkaitan
• 21 jam lalujpnn.com
thumb
DRX World Legends Vs Barcelona Legends: Mimpi Irfan Bachdim Jadi Nyata, Girang Dapat Jersey Rivaldo
• 16 jam lalubola.com
thumb
JK Heran Ceramahnya Dipermasalahkan Usai Singgung Ijazah Jokowi
• 17 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.