Kisah sunyi mengolah sampah jadi rupiah

antaranews.com
7 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Di sudut gang sempit yang dulu dikenal kumuh, kini berdiri deretan karung rapi berisi botol plastik, kardus, dan kaleng. Bau menyengat yang dulu identik dengan kawasan itu, perlahan memudar, digantikan aktivitas warga yang sibuk memilah sampah.

Di sinilah perubahan dimulai dari sesuatu yang sering dianggap tidak berguna, kini bisa menjadi sumber penghasilan tambahan.

Pemilahan sampah, bukan lagi sekadar jargon lingkungan. Bagi sebagian masyarakat, ini adalah strategi bertahan hidup, sekaligus peluang ekonomi.

Konsepnya sederhana, namun berdampak besar dan terasa. Memisahkan sampah organik dan anorganik di tingkat rumah tangga, lalu mengelolanya dengan tepat.

Sampah anorganik, seperti plastik, kertas, dan logam, kini memiliki nilai jual. Warga mengumpulkannya, membersihkan, lalu menyetorkan ke bank sampah atau pengepul.

Dari situ, uang mulai mengalir. Meski tidak selalu besar, tetapi cukup untuk membantu kebutuhan sehari-hari. Dalam sebulan, satu keluarga bisa memperoleh tambahan penghasilan yang berarti, terutama jika dilakukan secara konsisten.

Seperti di Kelurahan Utan Kayu Selatan, kebiasaan ini bukan sesuatu yang baru. Dalam beberapa tahun terakhir, pemilahan sampah anorganik telah menjadi kewajiban bagi petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).

Di balik kebijakan itu, praktik memilah sampah sebenarnya sudah lebih dulu tumbuh secara organik di masyarakat.

Sampah yang terkumpul setiap hari tidak lagi langsung dibuang. Sebagian besar justru dibawa ke sebuah gudang kecil di belakang kantor kelurahan.

Bangunan sederhana berukuran sekitar dua kali satu meter itu mungkin tampak biasa, bahkan nyaris tak terlihat. Namun di dalamnya, tersimpan ratusan kilogram sampah yang telah dipilah rapi menunggu waktu untuk berubah menjadi uang.

Gudang itu menjadi titik temu antara kebiasaan lama dan cara pandang baru. Di sana, limbah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari siklus ekonomi baru.

Plastik, kardus, kertas, hingga logam disusun berdasarkan jenisnya, karena masing-masing memiliki nilai jual yang berbeda ketika dijual ke pengepul.

Pergerakan sampah di tempat itu mengikuti ritme yang unik. Setiap hari ada tambahan, setiap beberapa minggu ada pengosongan, dan ketika ruang tak lagi mampu menampung, pengepul dipanggil.

Timbangan digelar, karung-karung dibuka, dan satu per satu jenis sampah dihitung nilainya. Dari proses sederhana itu, ratusan ribu rupiah dihasilkan setiap bulan.

Pria berkaos oranye bernama Cecep itu menerangkan, satu kilogram kertas bisa dihargai Rp2.400, kardus Rp1.800, botol mineral Rp2.400, besi ringan Rp3.500, besi isi Rp4.500, almunium bekas minuman Rp25.000, dan almunium berat Rp27.000. Nilai tersebut mungkin tidak terlihat besar dalam skala kota, tetapi memiliki arti penting di tingkat individu dan komunitas.

Pendapatan tambahan ini menjadi bukti bahwa pekerjaan yang selama ini dianggap sepele, ternyata bisa memberikan manfaat ekonomi nyata.

Di balik rutinitas tersebut, terbentuk pula pola kerja baru. Setiap petugas memiliki tanggung jawab mengumpulkan sampah anorganik dalam jumlah tertentu setiap bulan. Perlahan, kebiasaan memilah sampah tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan bagian dari keseharian.

Mereka tak lagi memandang aktivitas ini sebelah mata, tapi menjadi sesuatu yang dilakukan tanpa keraguan. Ada kesadaran bahwa setiap botol plastik atau potongan kardus yang dikumpulkan memiliki nilai, sekecil apa pun itu.

Tidak hanya berhenti pada sampah anorganik, pengelolaan limbah juga merambah ke jenis organik. Sisa makanan dan dedaunan mulai diolah menjadi kompos dan maggot. Meski belum menjadi sumber penghasilan utama, langkah ini memperlihatkan upaya untuk memanfaatkan seluruh jenis sampah secara maksimal.

Di sisi lain, keterbatasan fasilitas masih menjadi tantangan nyata. Gudang kecil yang digunakan saat ini hanya mampu menampung dalam jumlah terbatas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi pengelolaan sampah sebenarnya jauh lebih besar jika didukung infrastruktur yang memadai.

Gerakan kolektif

Fenomena serupa tidak hanya terjadi di satu wilayah. Di Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, gerakan pengelolaan sampah, bahkan telah berkembang menjadi aktivitas kolektif warga.

Dalam beberapa bulan terakhir, ribuan kilogram sampah non-organik berhasil dikumpulkan dari lingkungan permukiman. Sampah yang terkumpul tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga menghasilkan pendapatan bersama.

Petugas Penanganan Sarana dan Sarana Umum (PPSU), Cecep Ghori Muslim memilah sampah anorganik untuk dijual ke bank sampah atau pengepul di Kelurahan Utan Kayu Selatan, Matraman, Jakarta Timur, Minggu (19/4/2026). (ANTARA/Siti Nurhaliza) Sistem yang diterapkan memungkinkan warga menukarkan sampah dengan uang tunai, menciptakan hubungan langsung antara kebersihan lingkungan dan manfaat ekonomi.

Selama lima bulan berjalan, total sampah anorganik yang berhasil terkumpul mencapai 2.100 kilogram. Dari jumlah tersebut, warga telah menerima hasil penjualan sampah dengan total mencapai Rp2 juta.

Partisipasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini. Kesadaran untuk memilah sampah tidak lagi datang dari imbauan semata, tetapi dari pengalaman langsung merasakan manfaatnya.

Lingkungan menjadi lebih bersih, sekaligus memberikan tambahan penghasilan. Perkembangan yang lebih sistematis juga terlihat di Kelurahan Cibubur.

Program bank sampah yang melibatkan puluhan petugas PPSU berhasil mengumpulkan volume sampah yang jauh lebih besar, mendekati satu ton setiap bulan. Dari jumlah tersebut, nilai ekonomi yang dihasilkan mencapai jutaan rupiah.

Pendekatan yang digunakan di wilayah ini menekankan pada kontribusi individu. Setiap orang mendapatkan hasil sesuai dengan jumlah sampah yang dikumpulkan.

Sistem ini mendorong produktivitas, sekaligus menciptakan rasa tanggung jawab personal terhadap pengelolaan sampah.

Selain untuk kebutuhan individu, sebagian hasil juga dimanfaatkan untuk kegiatan sosial. Hal ini memperluas dampak program, dari sekadar aktivitas ekonomi menjadi gerakan sosial yang memperkuat solidaritas komunitas.

Dari sesuatu yang harus dibuang, menjadi sesuatu yang harus dikelola. Dari beban lingkungan, menjadi sumber daya yang bernilai.

Kebijakan untuk 82 anggota PPSU Kelurahan Cibubur ini juga diklaim mampu menekan timbunan sampah, sekaligus menghasilkan pendapatan, hingga jutaan rupiah.

Lurah Cibubur Rony Abdullah mengatakan, kebijakan ini bukan sekadar target administratif. Dia ingin membangun kesadaran bahwa pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan sistem, tetapi juga kebiasaan.

PPSU, sebagai garda terdepan kebersihan lingkungan, diharapkan menjadi contoh nyata bagi masyarakat.

Dalam praktiknya, kewajiban tersebut justru berkembang melampaui ekspektasi awal. Banyak anggota PPSU tidak hanya mengumpulkan sampah dari rumah tangga mereka sendiri, tetapi juga dari lingkungan sekitar.

Warga yang sebelumnya mungkin tidak terlalu peduli, perlahan ikut terlibat ketika melihat adanya aktivitas pengumpulan sampah yang rutin dan terorganisir.

Hasilnya mulai terlihat. Dalam satu bulan, volume sampah yang terkumpul mendekati satu ton. Dari sampah yang dikumpulkan, dihasilkan pendapatan berkisar Rp3 hingga Rp4 juta per bulan.

Aistem pembagian hasil dibuat proporsional. Tidak ada pembagian merata, melainkan berdasarkan kontribusi masing-masing anggota. Semakin banyak sampah yang disetor, semakin besar pula pendapatan yang diterima. Skema ini secara tidak langsung mendorong semangat kerja dan partisipasi aktif dari setiap anggota.

Bagi sebagian orang, kewajiban tambahan seperti ini mungkin terasa membebani, namun tidak demikian bagi Adi Prima, salah satu anggota PPSU Kelurahan Cibubur.

Dia melihat kegiatan tersebut sebagai bagian dari tanggung jawabnya menjaga lingkungan, bukan sekadar pekerjaan tambahan.

Dalam waktu dua hingga tiga hari, Adi mampu mengumpulkan antara tiga hingga lima kilogram sampah. Baginya, aktivitas itu sudah menjadi rutinitas yang tidak lagi terasa berat.

Bahkan, dia mengaku semakin terbiasa memilah sampah dan lebih peka terhadap potensi limbah yang bisa dimanfaatkan.

Inisiatif ini juga tidak berhenti di lingkup internal PPSU. Kelurahan Cibubur menjalin kerja sama dengan sejumlah sekolah, memperluas jangkauan pengumpulan sampah, sekaligus menanamkan kesadaran sejak usia dini. Dari kolaborasi ini, volume tambahan sampah yang terkumpul bisa mencapai 500 hingga 750 kilogram.



Upaya serius

Tumpukan sampah yang terus menggunung di TPST Bantargebang bukan lagi sekadar persoalan teknis pengelolaan limbah, melainkan cermin dari pola konsumsi dan kebiasaan masyarakat perkotaan.

Setiap hari, ribuan ton sampah dari Jakarta berakhir di sana, membawa konsekuensi lingkungan. Di tengah tekanan kapasitas, Pemerintah Kota Jakarta Timur mulai menggeser pendekatan, dari sekadar membuang menjadi mengelola sejak dari sumbernya.

Langkah serius ini berangkat dari kesadaran sederhana, membuat sampah tak lagi muncul di tempat pembuangan akhir, melainkan dari rumah tangga, mulai dari dapur, kemasan belanja, hingga aktivitas harian.

Pemkot Jakarta Timur mendorong warga untuk memilah sampah sejak awal, memisahkan antara organik dan anorganik, sebelum limbah itu meninggalkan rumah.

Dorongan tersebut bukan sekadar imbauan. Wali Kota Jakarta Timur Munjirin memperkuat upaya itu dengan sistem yang mulai dibangun secara bertahap.

Pengumpulan sampah anorganik di Kelurahan Cibubur, Jakarta Timur, Minggu (19/4/2026). (ANTARA/Siti Nurhaliza) Salah satu tulang punggungnya adalah kolaborasi dengan Pusat Daur Ulang Plastik (PDUP) Ciracas, yang berfungsi sebagai titik pengolahan sampah anorganik.

Lalu, melalui pembentukan satuan tugas bank sampah di setiap kelurahan, pemerintah mencoba memastikan bahwa alur pengelolaan berjalan rapi dari warga ke unit bank sampah, hingga ke pusat daur ulang.

Satgas ini tidak hanya bertugas mengoordinasikan pengiriman sampah, tetapi juga memantau dan melaporkan aktivitas secara daring, menciptakan sistem yang lebih terukur dan transparan.

Upaya ini melibatkan banyak pihak. Dari jajaran Suku Dinas Lingkungan Hidup, camat, lurah, hingga sektor swasta, semuanya dikumpulkan dalam satu meja koordinasi.

Pendekatan kolaboratif ini menjadi penting, mengingat persoalan sampah tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Ada rantai panjang yang harus terhubung untuk menentukan keberhasilan sistem.

Perubahan mulai terlihat di lima kecamatan, yakni Cipayung, Ciracas, Kramat Jati, Pasar Rebo, dan Makasar. Wilayah-wilayah ini, kini terhubung dengan sistem penampungan terpusat di Bank Sampah Induk Ciracas.

Skema ini menjadi semacam percontohan bagaimana pengelolaan sampah bisa ditarik lebih dekat ke sumbernya, tanpa sepenuhnya bergantung pada tempat pembuangan akhir.

Pada akhirnya, upaya Jakarta Timur ini bukan hanya soal mengurangi volume sampah, tetapi juga membangun kebiasaan baru.

Berdasarkan data suplai sampah nonorganik dalam satu bulan terakhir, Kecamatan Matraman menempati posisi teratas dengan jumlah mencapai 3.349 kilogram.

Posisi berikutnya Kecamatan Jatinegara dengan 2.784 kilogram sampah, disusul Cipayung 2.096 kilogram, dan Cakung 1.315 kilogram.

Kemudian, untuk Kecamatan Ciracas berjumlah 771 kilogram, Kramat Jati 562 kilogram, Pulo Gadung 489 kilogram, Duren Sawit 385 kilogram, Pasar Rebo 346 kilogram, serta Makasar 201 kilogram.

Tidak hanya dari sektor rumah tangga, program pilah sampah juga diperluas ke lingkungan tempat ibadah. Tercatat sebanyak 83 masjid, 21 musala, satu pondok pesantren, serta 43 bank sampah turut berpartisipasi dalam upaya pengurangan volume sampah.




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga BBM Naik, Anggota DPR Minta Pemerintah Pastikan Tak Merembet ke Kebutuhan Pokok
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Selat Hormuz Tutup Lagi, Iran: Trump Terlalu Banyak Bicara
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Wondr Kemala Run 2026 Sukses Digelar, Dongkrak Ekonomi Bali serta Libatkan UMKM dan Salurkan Donasi Kemanusiaan
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Nus Kei Tewas Ditikam, Sekjen Partai Golkar Minta Kader Jangan Terpancing
• 21 menit laludisway.id
thumb
Polisi Imbau Simpatisan Nus Kei Tahan Diri, Hindari Aksi Balasan
• 1 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.