Analis politik KedaiKOPI Hendri Satrio (Hensat) menilai kemarahan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) terhadap kelompok relawan pendukung Presiden ke-7 Jokowi, Termul, merupakan hal yang wajar.
Menurutnya, reaksi JK muncul di tengah tuduhan yang menyerangnya terkait polemik ijazah Jokowi.
"Nah, terkait kemudian JK marah terhadap tuduhan Termul dan mengatakan bahwa dalam proses menjadi Presiden, JK juga memiliki andil, menurut saya ya wajar saja karena tidak seharusnya persoalan ini kemudian menjadi membesar begitu ya," ujar Hensat, Minggu (19/4).
Minta Relawan Bersikap ProporsionalHensat menekankan pentingnya sikap proporsional dari para relawan dalam menyampaikan pendapat di ruang publik.Ia mengingatkan JK juga merupakan tokoh bangsa yang harus dihormati.
"Relawan atau Termul atau simpatisan menurut saya boleh saja memberikan pendapat, tapi tentu saja harus proporsional karena sama seperti Jokowi, JK juga tokoh bangsa," lanjutnya.
Hensat mendorong agar polemik yang berkembang diselesaikan melalui jalur hukum dan dialog.
"Jadi menurut saya seharusnya satu, proses hukum terus dilakukan, dilaksanakan. Yang kedua, Termul atau relawan yang menyerang Pak JK bisa menggunakan teknologi paling canggih yang diwariskan oleh para pendiri bangsa yang namanya musyawarah," tandasnya.
Sebelumnya JK meluapkan kekesalannya terhadap pihak-pihak yang kerap mendiskreditkan hubungannya dengan Jokowi. Di tengah fitnah yang menyerangnya terkait polemik ijazah, JK mengingatkan kembali peran vitalnya dalam membawa Jokowi ke kancah politik nasional.
"Kasih tahu semua itu termul-termul itu. Jokowi jadi Presiden karena saya. Setuju? Setuju. Tanpa Gubernur mana bisa jadi Presiden," tegas JK secara lugas saat menggelar media briefing di kediamannya, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).





