Jakarta: Musim kemarau tahun ini diprediksi berbarengan dengan fenomena El Nino Godzilla. Kondisi tidak hanya berbahaya bagi kesehatan, tapi juga ketahanan pangan.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Oki Wijaya, produktivitas sejumlah komoditas pangan strategis terancam gagal panen. Suhu tinggi meningkatkan kehilangan air, mengganggu fotosintesis, mempercepat stres tanaman, serta mengganggu pembungaan, penyerbukan, dan pembentukan hasil.
Baca Juga :
Lestari Moerdijat: Perkuat Mitigasi dan Koordinasi Hadapi Potensi Kemarau Panjang- Padi
- Jagung
- Cabai
- Tomat
- Kopi
"Panas yang dirasakan sekarang bukan sekadar kejadian sesaat, melainkan bagian dari tren pemanasan yang lebih luas. Titik acuannya sudah bergeser ke arah yang lebih hangat," jelasnya. Gejala Awal dan Risiko Lapangan Oki menjelaskan bahwa dampak suhu ekstrem sebenarnya sudah mulai terlihat di lapangan, meskipun belum selalu tercatat sebagai kegagalan panen total. Gejala awal antara lain tanaman cepat layu pada siang hari, gangguan pembungaan, serta penurunan kualitas hasil.
Ia menambahkan, suhu tinggi menjadi lebih berbahaya ketika disertai kekurangan air. Pada masa pancaroba dengan curah hujan yang menurun, tanaman menghadapi tekanan ganda.
"Masalah utamanya bukan hanya panas, tetapi panas yang bertemu dengan kekurangan air. Ketika kedua faktor ini terjadi bersamaan, dampaknya terhadap tanaman akan jauh lebih berat," katanya Rekomendasi Adaptasi
Ilustrasi Pexels
Sebagai langkah mitigasi, Oki merekomendasikan petani untuk menyesuaikan waktu tanam, meningkatkan efisiensi penggunaan air, memprioritaskan perlindungan pada fase berbunga, serta menggunakan varietas yang lebih toleran terhadap cekaman panas.
Ia juga mendorong pemerintah untuk memastikan ketersediaan informasi cuaca yang operasional, akses terhadap benih tahan panas, serta penguatan infrastruktur irigasi guna menjaga stabilitas produksi pangan.
"Penurunan kualitas atau hasil bisa terjadi sebelum tercatat secara resmi sebagai penurunan produksi wilayah. Untuk memastikan skala dampaknya, tetap diperlukan verifikasi lapangan per komoditas dan wilayah," ucapnya.




