Unifil Diserang Lagi, Kemenlu: Pasukan Pemelihara Keamanan Tak Boleh Jadi Sasaran

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menegaskan bahwa pasukan pemelihara keamanan yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (Unifil) tidak boleh menjadi sasaran serangan.

Hal tersebut Kemenlu sampaikan dalam merespons kasus gugurnya sejumlah prajurit pasukan Unifil, terbaru terdapat satu tentara Unifil asal Perancis yang gugur akibat serangan di Lebanon.

"Indonesia terus menyampaikan kekhawatiran dengan adanya serangan terus menerus terhadap UNIFIL. Pasukan pemelihara keamanan tidak boleh menjadi sasaran serangan, aksi tersebut dapat dianggap sebagai kejahatan perang," tulis Kemenlu di akun X-nya, Minggu (19/4/2026).

Baca juga: Tentara UNIFIL Perancis Gugur di Lebanon, RI: Tak Dapat Diterima

Kemenlu juga menyoroti serangan terhadap pasukan Unifil asal Perancis yang terjadi di tengah kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari.

Oleh karena itu, menurut Kemenlu, serangan tersebut tidak dapat diterima.

"Seluruh pihak harus menahan diri, menghormati kedaulatan negara dan menjunjung tinggi hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional," tulis Kemenlu.

Kemenlu pun mengingatkan, negosiasi yang tengah berlangsung, dan gencatan senjata harus dihormati sepenuhnya, serta tidak dilanggar dengan tindakan kekerasan yang akan berisiko memperburuk eskalasi dan membahayakan keselamatan personel di lapangan.

Baca juga: Daftar 8 Serangan ke Pasukan UNIFIL di Lebanon, Termasuk yang Tewaskan TNI

Indonesia pun menyatakan solidaritas bersama Prancis dan negara-negara kontributor pasukan lainnya.

"Indonesia kembali menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat pelindungan bagi pasukan perdamaian PBB, sebagaimana tecermin dalam Pernyataan Bersama tentang Keselamatan dan Keamanan Personel PBB pada 9 April 2026," imbuh Kemenlu.

Pasukan Unifil diserang di Lebanon

Sebelumnya, seorang tentara Perancis tewas dan tiga lainnya terluka dalam serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon, Sabtu (18/4/2026).

Presiden Perancis Emmanuel Macron menyebutkan, indikasi awal mengarah pada keterlibatan kelompok Hizbullah dalam insiden tersebut.

Semuanya mengarah pada Hizbullah yang bertanggung jawab atas serangan ini,” tulis Macron di X, seraya mendesak otoritas Lebanon segera menangkap para pelaku.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Insiden ini terjadi di tengah gencatan senjata 10 hari yang disepakati Israel dan Lebanon pada Kamis (16/4/2026), untuk membuka jalan negosiasi mengakhiri perang enam minggu antara Israel dan Hizbullah, kelompok yang didukung Iran.

Sebelumnya, tiga orang prajurit TNI yang tergabung di Unifil juga gugur setelah menjadi korban serangan di Lebanon.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jika Pesantren Hanya Merawat Masa Lalu
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Empat Langkah Perawatan Rambut dari Akar hingga Ujung
• 4 jam laluherstory.co.id
thumb
BBM Nonsubsidi Naik, Pram: Pemprov DKI Dorong Agar Naik Transportasi Umum
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Kemenhaj Sumbar Bagikan Kartu Nusuk di Embarkasi Padang via Layanan One Stop Service
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Riset: Suami yang Mau Dengarkan Pendapat Istri Lebih Berpeluang Sukses
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.