Bendahara Umum NasDem Ahmad Sahroni merespons kemarahan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) terhadap kelompok relawan pendukung Presiden ke-7 Joko Widodo, Termul.
Sahroni mengaku prihatin karena masalah ini merembet ke mana-mana sampai berujung laporan polisi. Ia menilai, tidak ada gunanya membuat kegaduhan dalam situasi seperti sekarang, terlebih geopolitik tidak menentu.
"Enggak guna buat gaduh seperti ini dengan hanya memotong-motong pidato seseorang," kata Sahroni kepada wartawan di Jakarta, Minggu (19/4).
Sahroni menuturkan, awal masalah ini memanjang imbas ceramah JK di UGM dipotong. Ia menekankan, sebaliknya pihak-pihak yang melaporkan JK ke polisi, mencabut laporannya karena sudah ada penjelasan resmi dari JK.
"Kasihan Pak JK, politikus super senior di potong-potong pidatonya. Saya harap para pelapor mencabut laporannya ke senior politik sekelas Pak JK," ucap Sahroni.
Lebih jauh, terkait pernyataan soal Jokowi yang bisa menjadi presiden berkat peran JK, Sahroni mengatakan hal itu sebagai pengingat dari JK kepada pendukung Jokowi. NasDem merupakan salah satu partai yang mendukung Jokowi sejak 2014-2024.
"Ya itu pesan buat pendukung Pak jokowi sebagai pengingat saja bahwa Pak JK adalah bagian dari Pak Jokowi juga kan," kata Sahroni.
Sebelumnya, JK meluapkan kekesalannya terhadap pihak-pihak yang kerap mendiskreditkan hubungannya dengan Jokowi. Di tengah fitnah yang menyerangnya terkait polemik ijazah, JK mengingatkan kembali peran vitalnya dalam membawa Jokowi ke kancah politik nasional.
“Kasih tahu semua itu termul-termul itu. Jokowi jadi Presiden karena saya. Setuju? Setuju. Tanpa Gubernur mana bisa jadi Presiden,” tegas JK secara lugas saat menggelar media briefing di kediamannya, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).





