Pedro Sanchez Perdana Menteri (PM) Spanyol mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan pembaruan dan reformasi agar lebih mencerminkan realitas abad ke-21.
Ia mengatakan hal tersebut pada pertemuan keempat “Dalam Pembelaan Demokrasi” pada Sabtu (18/4/2026) waktu setempat. Sanchez memberi sinyal eskalasi tantangan terhadap multilateralisme, hukum internasional, dan lembaga-lembaga demokrasi.
Menurutnya, reformasi PBB diperlukan agar organisasi dunia tersebut bisa lebih beradaptasi dengan kenyataan abad ke-21 dan memimpin sistem multilateral agar lebih efisien, transparan, demokratis, inklusif, dan representatif.
Ia juga berpendapat bahwa PBB harus dipimpin oleh seorang perempuan yang menurutnya bukan masalah keadilan tapi juga kredibilitas. “Sudah saatnya beralih dari komitmen ke tindakan,” ungkapnya seperti dilansir Antara, Minggu (19/4/2026).
Sanchez mengatakan bahwa saat ini demokrasi berada di bawah tekanan, baik dari dalam maupun luar. Ia mendeskripsikannya dengan mengatakan bahwa demokrasi menjadi kosong dari dalam, sementara dapat diserang dari luar.
“Respons kita tidak bisa hanya bersifat defensif, perlawanan saja tidak cukup. Kita harus mengusulkan, memimpin, dan menunjukkan bahwa demokrasi tidak hanya dipertahankan tetapi juga diperkuat dan ditingkatkan dari hari ke hari,” lanjutnya.
Selain itu, ia menyerukan pembentukan regulasi lebih jelas terutama pada media sosial, mengingatkan tentang dampak disinformasi terhadap wacana publik. Algoritma media sosial, menurutnya, tidak boleh menampilkan kebencian, polarisasi, konfrontasi, atau pesan-pesan kekerasan.
Meski teknologi dapat menjadi keunggulan sebagai kemajuan, tetapi menurutnya teknologi berpotensi memecah belah serta menyebabkan ketergantungan tanpa adanya aturan yang jelas. (ant/vve/bil/ham)




