Nasib PSIS Semarang dan Persiba Balikpapan di Liga 2 Ada di Tangan PSS Sleman: Siapa yang Akan ke Play Off Degradasi?

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SEMARANG — Persaingan di papan bawah Pegadaian Championship 2025/2026 kian menegang. Dua tim dengan sejarah dan basis suporter besar, PSIS Semarang dan Persiba Balikpapan, kini berada dalam bayang-bayang zona play-off degradasi. Menariknya, nasib keduanya tidak sepenuhnya berada di tangan sendiri. Ada satu tim yang berpotensi menjadi penentu: PSS Sleman.

Situasi ini menciptakan drama tersendiri di penghujung musim. PSS Sleman, yang sedang berjuang untuk kembali ke kasta tertinggi Super League, justru menjadi “hakim” bagi dua tim yang tengah berusaha menghindari jurang degradasi. Dengan dua laga sisa melawan PSIS dan Persiba, setiap hasil yang diraih PSS akan berdampak langsung terhadap posisi klasemen akhir.

Bagi PSIS Semarang, tekanan semakin besar setelah hasil buruk di pekan ke-25. Bertandang ke markas Persipura Jayapura di Stadion Lukas Enembe, tim berjuluk Mahesa Jenar harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 1-3. Kekalahan ini bukan hanya soal kehilangan tiga poin, tetapi juga memperpanjang tren negatif yang tengah menghantui mereka.

Dalam tiga laga terakhir, PSIS gagal meraih kemenangan. Sebelumnya mereka tumbang dari Barito Putera dan hanya mampu bermain imbang melawan Persiku Kudus. Rangkaian hasil ini membuat posisi mereka menjadi rapuh, meskipun secara klasemen masih bertahan di peringkat ke-8 Grup Timur dengan koleksi 20 poin.

Jarak dengan Persiba Balikpapan yang berada di bawahnya pun sangat tipis—hanya terpaut dua poin. Artinya, satu hasil buruk saja bisa mengubah segalanya. Ancaman masuk ke zona play-off degradasi kini benar-benar nyata.

Caretaker PSIS, Anang Dwi, menyadari betul beratnya tantangan yang dihadapi timnya. Ia mengakui bahwa laga melawan Persipura memang sudah diprediksi sulit sejak awal.

“Sebelumnya, saya pernah mengatakan bahwa peluang kami untuk mengalahkan Persipura sangat-sangat berat. Namun, kami sudah berusaha semaksimal mungkin meski hasilnya kalah,” ujar Anang Dwi.

Kini, fokus sepenuhnya diarahkan pada dua laga terakhir yang akan menjadi penentu nasib. Tidak ada lagi ruang untuk kesalahan jika PSIS ingin tetap bertahan.

“Untuk pertandingan berikutnya, tidak ada kata untuk kalah kalau kami ingin menjauh dari zona play-off degradasi. Semoga, Tuhan memberikan kemudahan bagi kami untuk lolos dari ancaman degradasi,” imbuhnya.

Namun, jalan yang harus dilalui PSIS tidaklah mudah. Mereka akan menghadapi Kendal Tornado FC yang sedang berada di papan atas, sebelum menjalani laga krusial melawan PSS Sleman. Rekor pertemuan pun tidak berpihak kepada mereka—dua kali kalah dari Kendal Tornado dan dua kali tumbang saat menghadapi PSS. Ini menjadi alarm serius bagi Mahesa Jenar.

Di sisi lain, Persiba Balikpapan juga tidak berada dalam posisi yang lebih nyaman. Tim berjuluk Beruang Madu itu baru saja bermain imbang dramatis 3-3 melawan Barito Putera. Hasil tersebut memang menunjukkan peningkatan dalam hal produktivitas gol, namun tetap menyisakan kekecewaan karena kemenangan yang sudah di depan mata sirna di menit akhir.

Pelatih kepala Persiba, Leonard Tupamahu, tetap melihat sisi positif dari performa timnya.

“Apresiasi setinggi-tingginya kepada para pemain. Secara permainan, kami sudah berusaha untuk bermain terbuka. Saya sangat bersyukur karena kami mampu mencetak tiga gol, di mana sebelumnya masalah tim ini adalah tentang produktivitas,” ujarnya.

Peningkatan ini memang menjadi angin segar bagi Persiba, mengingat selama ini mereka kesulitan mencetak gol. Namun, masalah di lini pertahanan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, terutama dalam mengantisipasi bola mati.

“Seperti yang sudah kami analisis, Barito Putera memang kuat dalam bola mati, baik dari sepak pojok maupun tendangan bebas. Di lini pertahanan, memang ada beberapa kelengahan yang terjadi (di menit akhir),” tambah Leonard.

Hasil imbang tersebut membuat Persiba tetap berada di zona play-off degradasi, sehingga dua laga terakhir menjadi penentuan mutlak. Salah satu laga terpenting adalah menghadapi PSS Sleman di Stadion Batakan. Pertandingan ini bisa menjadi penentu apakah mereka mampu keluar dari zona merah atau justru semakin terpuruk.

Di sinilah peran PSS Sleman menjadi sangat krusial. Sebagai tim yang sedang memburu tiket promosi, mereka tentu tidak akan memberikan kemenangan secara cuma-cuma. Justru sebaliknya, PSS akan tampil habis-habisan demi mengamankan posisi di papan atas.

Situasi ini menciptakan skenario yang menarik: PSIS dan Persiba sama-sama membutuhkan poin dari PSS, tetapi PSS sendiri memiliki ambisi besar yang tidak kalah penting. Tidak ada ruang untuk kompromi.

Dengan kondisi tersebut, dua laga terakhir musim ini akan menjadi “final” bagi kedua tim. PSIS harus mampu memaksimalkan laga kandang dan mencuri poin dari Sleman, sementara Persiba wajib tampil sempurna jika ingin menjaga asa bertahan.

Pada akhirnya, siapa yang akan terjerumus ke zona play-off degradasi akan ditentukan oleh kombinasi hasil, mentalitas, dan kemampuan memanfaatkan peluang di saat-saat krusial. Dalam situasi seperti ini, bukan hanya kualitas permainan yang diuji, tetapi juga ketahanan mental menghadapi tekanan.

Dan di tengah semua itu, PSS Sleman berdiri sebagai penentu—tim yang tanpa disadari memegang kunci atas nasib dua klub besar yang kini sedang berjuang untuk bertahan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dedi Mulyadi Sebut Warga Jawa Barat Bisa Berobat Gratis Asalkan Penuhi Syarat Ini
• 48 menit lalutvonenews.com
thumb
6 Cara Unik Warga Dunia Berhemat Energi
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi Dinilai Wajar
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Justin Bieber undang Billie Eilish dan SZA di pekan kedua Coachella
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Cak Imin Sebut Harus Ada Regulasi Jelas soal Penyalahgunaan Vape
• 11 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.