SABU RAIJUA, KOMPAS — Kabupaten Sabu Raijua di Nusa Tenggara Timur sering terisolasi lantaran cuaca buruk yang terjadi hampir sepanjang tahun. Kehadiran bandara yang memadai diperlukan untuk melayani masyarakat keluar dan masuk pulau yang berada di tepian Samudera Hindia itu.
Hingga Senin (20/4/2026), penerbangan dari dan ke Sabu dilayani pesawat kecil jenis Cessna milik maskapai Susi Air. Dari Kupang, penerbangan dengan waktu tempuh kurang dari satu jam itu masuk kategori komersial dengan tarif Rp 2,3 juta per penumpang.
Sekadar membandingkan, harga tiket pesawat Kupang-Sabu lebih mahal daripada harga tiket pesawat Kupang-Surabaya yang waktu tempuhnya lebih lama, yakni hampir dua jam. Penerbangan Kupang-Sabu dilayani hanya satu maskapai. Menggunakan pesawat kecil, kapasitas penumpang maksimal 12 orang.
Wakil Bupati Sabu Raijua Thobias Uly mengatakan, Bandara Tardamu di Pulau Sabu hanya bisa didarati pesawat kecil seperti jenis Cessna lantaran panjang landasan hanya 900 meter. Upaya perpanjangan landasan sudah dilakukan, tetapi terkendala lahan yang terbatas.
Solusi yang sedang dilakukan adalah membangun bandara di lokasi lain. ”Lahan untuk bandara baru sudah kami siapkan dengan baik. Pembebasan sudah selesai dan lahan tersebut sudah bersertifikat. Tinggal sekarang menunggu kebijakan dari Kementerian Perhubungan,” katanya.
Di lahan yang disediakan untuk bandara baru itu dapat terbangun landasan dengan panjang hingga 2.500 meter. Jalan menuju ke lokasi itu juga sudah dibangun pemerintah daerah. ”Kami harap Kementerian Perhubungan dapat membantu mempercepat proses izin dan pembangunan fisik,” kata Thobias.
Jika bandara baru terbangun, pesawat jenis ATR, bahkan Boeing, bisa mendarat. Dengan begitu, banyak penumpang dapat terangkut. Ini memberi kemudahan bagi orang untuk bepergian ke Sabu yang memiliki banyak potensi wisata tersembunyi.
Yohanis Uly Kale, tokoh masyarakat Sabu Raijua, mendorong pemerintah untuk terus memperkuat sektor pariwisata setempat. Penataan destinasi serta promosi harus gencar dilakukan. Sabu dikelilingi pantai yang indah berpasir putih. Sabu juga memiliki lekukan perbukitan yang menawan.
Dengan penataan destinasi dan promosi wisata tersebut, pemerintah pusat akan memandang perlu untuk mempercepat pembangunan bandara baru. Wacana bandara baru dan pengadaan lahan itu dilakukan saat Kale menjabat Wakil Bupati Sabu Raijua. ”Tinggal kelanjutannya harus dipercepat lagi,” ujarnya.
Kabupaten Sabu Raijua terdiri atas dua pulau, yakni Sabu dan Raijua. Dua pulau itu dikepung laut luas. Di utara ada Laut Sawu dan di selatan ada Samudra Hindia. Hampir sepanjang tahun, gelombang tinggi dan angin kencang membuat daerah itu kerap terisolasi selama berminggu-minggu.
Karena penerbangan terbatas, akses masuk-keluar Sabu Raijua mengandalkan kapal laut dengan jadwal tiga kali dalam seminggu. Waktu pelayaran sekitar 11 jam dengan guncangan gelombang hampir sepanjang perjalanan. Jika cuaca buruk, waktu pelayaran bisa lebih lama atau pelayaran ditunda.
Ketika Kompas.id mendatangi Sabu Raijua pada pekan ketiga April 2026, beberapa pasien dirujuk ke Kupang menggunakan kapal laut. Petugas kesehatan dan keluarga mendampingi pasien yang kebanyakan dalam kondisi darurat. Mereka berlayar lengkap dengan tabung oksigen.
”Bayangkan kalau ada pasien gawat darurat ketika musim cuaca buruk, saat pesawat dan kapal tidak beroperasi. Banyak pasien yang tidak tertolong dan meninggal di sini. Maka, ada ungkapan bahwa jangan mau sakit di Sabu,” kata David (37), warga.
Di Sabu Raijua hanya ada satu rumah sakit. Itu pun rumah sakit tipe D dengan fasilitas dan tenaga medis sangat minim. Rumah sakit milik pemerintah daerah itu tidak banyak membantu masyarakat Sabu Raijua. Jumlah penduduk di sana sekitar 96.000 jiwa.
Menurut David, jika pembangunan infrastruktur kesehatan dan tenaga medis di Sabu Raijua belum memadai, akses transportasi yang lancar harus segera dihadirkan. Ia setuju dengan pembangunan bandara baru agar bisa didarati pesawat lebih besar.





