Rasa Aman Orang Tua sebagai “Parasut Emosional” dalam Keberanian Mencoba

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bagi banyak orang dewasa, keberanian untuk mencoba hal baru sering kali dianggap sebagai kualitas personal, soal mental kuat, kepercayaan diri, atau keberanian mengambil risiko. Namun, pandangan ini kerap mengabaikan satu hal penting bahwa keberanian tidak selalu berdiri sendiri. Dalam banyak kasus, keberanian justru dibentuk oleh rasa aman yang sudah tertanam sejak lama, terutama dari lingkungan keluarga.

Ketakutan untuk mencoba hal baru bukan semata-mata soal takut gagal. Dalam konteks sosial dan ekonomi tertentu, kegagalan memiliki konsekuensi yang nyata. Bagi individu yang tumbuh dalam kondisi ekonomi menengah ke bawah, mencoba sesuatu seperti membuka usaha bukan sekadar eksperimen, tetapi keputusan berisiko tinggi. Ketika kegagalan berarti kehilangan modal yang sulit digantikan, wajar jika keinginan untuk mencoba menjadi terhambat. Di titik ini, faktor psikologis tidak bisa dipisahkan dari realitas ekonomi.

Namun, di luar faktor materi, ada dimensi lain yang tidak kalah penting: bagaimana respons orang tua membentuk cara seseorang menghadapi kegagalan. Banyak orang dewasa membawa jejak pengalaman masa kecilnya, terutama bagaimana mereka diperlakukan saat melakukan kesalahan. Reaksi yang keras, meskipun sering dilandasi kekhawatiran, dapat meninggalkan pesan implisit bahwa kesalahan adalah sesuatu yang harus dihindari, bukan dipelajari.

Temuan dalam bidang Psikologi Perkembangan menunjukkan bahwa pola asuh yang suportif, yang memberi ruang aman bagi anak untuk gagal tanpa takut dihukum, berkaitan dengan tingkat kepercayaan diri dan keberanian mengambil risiko yang lebih tinggi saat dewasa. Sebaliknya, pola asuh yang cenderung menghukum kesalahan secara berlebihan dapat membuat individu lebih rentan terhadap kecemasan dan menghindari tantangan.

Sebaliknya, respons sederhana seperti “tidak apa-apa” dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar dari yang terlihat. Kalimat ini bukan sekadar penghiburan, tetapi bentuk penerimaan yang memberi ruang bagi seseorang untuk gagal tanpa kehilangan harga diri. Dalam konteks ini, rasa aman dari orang tua dapat dianalogikan seperti parasut: bukan untuk mencegah jatuh, tetapi untuk memastikan bahwa ketika jatuh terjadi, dampaknya tidak menghancurkan.

Dari perspektif orang dewasa, hal ini menjelaskan mengapa sebagian orang tampak lebih berani mengambil risiko. Keberanian tersebut tidak selalu murni berasal dari dalam diri, melainkan “dipinjam” dari rasa aman yang telah dibangun sejak lama. Mereka tahu bahwa kegagalan tidak akan membuat mereka kehilangan tempat untuk kembali. Sebaliknya, individu yang tidak pernah mendapatkan ruang aman tersebut cenderung lebih berhati-hati, bahkan cenderung menahan diri dari mencoba.

Dalam Psikologi Sosial, konsep ini sering dikaitkan dengan kebutuhan dasar manusia akan rasa aman (security). Ketika kebutuhan ini terpenuhi sejak awal, individu cenderung lebih berani mengeksplorasi lingkungan. Sebaliknya, ketika rasa aman tidak terbentuk, fokus individu lebih banyak terserap pada upaya melindungi diri daripada mencoba hal baru.

Namun, penting untuk tidak berhenti pada kesimpulan bahwa rasa aman harus selalu datang dari orang tua. Ketergantungan yang berlebihan pada validasi eksternal, termasuk dari keluarga, juga dapat menghambat kemandirian. Individu yang terus-menerus membutuhkan persetujuan dapat mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan secara mandiri, bahkan ketika sudah dewasa.

Di sinilah letak keseimbangannya. Rasa aman dari orang tua idealnya berfungsi sebagai fondasi, bukan penopang permanen. Fondasi tersebut memungkinkan seseorang belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses, bukan akhir dari segalanya. Namun, seiring waktu, rasa aman itu perlu diinternalisasi dan dibangun kembali dalam diri sendiri.

Pada akhirnya, keberanian bukan hanya soal berani melangkah, tetapi juga soal merasa aman untuk jatuh. Dan bagi banyak orang, rasa aman itu tidak muncul begitu saja, melainkan dibentuk dari pengalaman Panjang, dimulai dari bagaimana mereka pertama kali diajarkan untuk menghadapi kegagalan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Uya Kuya Geram Dituding Miliki 750 Dapur MBG, Trauma Rumahnya Pernah Dijarah Anggota DPR Ini Lapor Polisi
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Jalan Tembus Pasar Minggu, Proyek Mangkrak Delapan Gubernur DKI
• 6 jam lalurepublika.co.id
thumb
Komisi X Rapat Tertutup Bareng Rektor UI-ITB, Bahas Marak Pelecehan di Kampus
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Sempat Dorong BTS Konser di JIS, Pramono Kini Ngalah Usai Diprotes ARMY dan Anak Sendiri
• 6 jam laluliputan6.com
thumb
Harga LPG Non Subsidi Naik, Ini Rinciannya
• 23 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.