Kenapa Industri Hiburan China Diatur Ketat oleh Pemerintah?

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Di banyak negara, produksi konten di industri hiburan biasanya mengikuti selera pasar. Apa yang disukai penonton, itu yang diproduksi. Namun di China, cara kerja industri hiburan tak sesederhana itu.

Di Negeri Tirai Bambu tersebut, hiburan bukan sekadar soal tontonan semata. Tapi, hiburan masuk ke dalam sistem yang lebih besar, yakni tentang bagaimana negara mengatur rakyatnya.

Selama ini, Pemerintah China dikenal menerapkan kontrol ketat di berbagai aspek kehidupan rakyatnya. Tak terkecuali film, drama, hingga media sosial.

Beberapa waktu lalu bahkan Pemerintah China mulai bersih-bersih isi konten yang mungkin kita anggap receh. National Radio and Television Administration (NRTA) China mengeluarkan aturan ketat tentang konten yang memamerkan kekayaan serta nilai sosial yang tak realistis.

Orang luar mungkin melihatnya sebagai pembatasan kebebasan berekspresi. Tapi dari sudut pandang China, ada alasan lain yang lebih mendasar.

Hiburan Sebagai Alat Menjaga Harmoni

China merupakan negara yang menganut sistem satu partai. Dalam sistem ini, stabilitas politik menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, untuk menjaganya, harmoni sosial harus selalu dipertahankan.

"China paham bahwa ideologi persatuan, khususnya rasa nasionalisme itu harus dijaga ya, kohesi sosial ataupun ikatan antar masyarakat itu harus dijaga sedemikian ketat, karena mereka menghargai apa yang disebut sebagai harmoni sosial, yang berkaitan langsung dengan stabilitas politik," jelas Achmad Nurcholis, pengamat geopolitik sekaligus Dosen Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya, kepada kumparan.

Konsep ini berakar dari nilai Konfusianisme, yang menekankan keseimbangan dalam masyarakat. Karena itu, negara tidak hanya mengatur kebijakan, tapi juga nilai yang beredar, termasuk melalui hiburan.

“Industri hiburan harus dikontrol, karena budaya populer bisa memengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat,” katanya.

Kenapa Konten soal Ketimpangan Sosial Harus Dibatasi?

Pemerintah China mulai membatasi drama bertema “si kaya dan si miskin”, narasi klasik tentang mobilitas sosial instan, yang jadi viral di berbagai media sosial. Sekilas, konten dengan tema tersebut terdengar seperti cerita ringan, tapi bagi pemerintah dampaknya bisa lebih dalam.

“Drama-drama seperti ini membentuk cara berpikir praktis, seolah-olah untuk menjadi kaya tidak perlu kerja keras,” ujarnya.

Padahal, menurut Nurcholis, nilai yang ingin ditanamkan China ke rakyatnya justru sebaliknya.

“China sangat menjunjung tinggi kerja keras sebagai proses yang rasional dan ilmiah,” tambahnya.

Di sisi lain, China masih menghadapi kesenjangan sosial yang cukup lebar. Dalam konteks ini, cerita tentang “jalan pintas untuk menjadi kaya raya” dikhawatirkan bisa memicu kecemburuan sosial.

“Kalau tidak dikendalikan, ini bisa memperlebar rasa ketidakadilan dan berpotensi menciptakan instabilitas politik,” jelasnya.

Nurcholis kemudian memaparkan mengapa stabulitas politik menjadi hal yang sangat penting untuk pemerintah China. Ia menyebut, China memiliki pengalaman panjang konflik internal, termasuk perang saudara yang menelan jutaan korban.

“Perang saudara di China itu sangat mematikan dan sering terjadi di masa lalu,” katanya.

“Makanya, pengendalian terhadap hal-hal yang bisa mengganggu stabilitas itu dianggap sangat penting," lanjut Nurcholis.

Pemerintah China juga membatasi konten drama yang melibatkan anak-anak. Mereka ingin memastikan nilai yang ditanamkan sejak dini selaras dengan visi mereka.

"Jika sejak kecil mereka terpapar nilai-nilai yang dianggap tidak mendidik, ini dikhawatirkan akan berdampak pada stabilitas sosial dan politik di masa depan. Karena itu, negara ingin memastikan nilai yang ditanamkan adalah patriotisme, nasionalisme, dan kecintaan terhadap negara," jelas Nurcholis.

"Makanya, banyak film Cina yang bernuansa perjuangan, patriotisme, dan sejarah nasional. Budaya dipandang sebagai instrumen penting untuk mendidik masyarakat," imbuhnya.

Pada akhirnya, kontrol ketat pemerintah terhadap industri hiburan di China tak dapat dilepaskan dari visi besar negara, yakni common prosperity atau kemakmuran bersama.

Sebab, di tengah pertumbuhan ekonomi yang pesat, China masih menghadapi kesenjangan sosial yang cukup lebar. Oleh karena itu, negara berupaya memastikan setiap aspek kehidupan, termasuk hiburan, tak turut memperlebar jurang tersebut.

"Bagi orang luar, ini mungkin terlihat berlebihan. Tapi dari sudut pandang China, mengelola populasi lebih dari 1,2 miliar orang itu sangat sulit. Maka bagi mereka, kemakmuran adalah prioritas utama, dan kemakmuran hanya bisa dicapai jika stabilitas politik terjaga," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bareskrim Polri Sita 23 Ton Bawang dan Cabai Impor Ilegal di Pontianak
• 4 jam laluokezone.com
thumb
Rupiah Melemah, Cek Kurs Dolar AS BCA, BRI, Bank Mandiri, dan BNI Hari Ini (20/4)
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Video: Evaluasi Arus Mudik, Korlantas Perkuat Langkah Urai Kemacetan
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Bali United Bangkit dan Hajar Malut United 4-1 di Stadion Dipta
• 9 jam lalupantau.com
thumb
Konser Bukan Lagi Sekedar Hiburan: Coachella 2026 dan Ledakan Pesan Politik
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.