MAKASSAR, FAJAR–Tiada keabadian dalam politik . Yang bertahan hanya kepentingan.
Saat ini, PDIP bisa saja berseberangan dengan PSI, partai anak muda yang kini diketuai putra Joko Widodo, Kaesang Pangarep. Jokowi sendiri telah dipecat dari PDIP, dan kini ikut membesarkan PSI.
“Jangan dilihat PDIP itu hanya sebagai lawan PSI,” beber Prof Armin Arsyad, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), beberapa waktu lalu.
Meski PDIP dan PSI ibarat air dan minyak saat ini, kepentinganlah yang akan menyatukan mereka ke depan. Bisa juga, kepentingan itu belum ketemu hingga beberapa waktu, sehingga mereka masih terpisah. Namun, dalam politik, koalisi lumrah terjadi.
“Bisa saja nanti PSI dan PDIP bekerja sama dalam pemerintahan atau koalisi. Dalam politik, seni berkompromi sangat penting,” tambahnya.
Cara utama politik di Indonesia bersifat fleksibel, dan hubungan antara partai tidak selalu antagonis. Berbeda dengan politik Amerika Serikat (AS), Partai Demokrat dan Partai Republik menjadi musuh bebuyutan.
Akan tetapi, peluang berkoalisi antara PSI dan PDIP sepertinya belum akan terjadi dalam waktu dekat ini. Penyebabnya, PSI kemungkinan masih mendorong Prabowo-Gibran Rakabuming Raka tetap berpaket pada Pilpres 2029, sebagaimana Jokowi pernah menyampaikannya.
Meski begitu, Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni menyerahkan sepenuhnya penentuan calon wakil presiden pada Pilpres 2029 kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai pemimpin tertinggi koalisi.
“Soal cawapres 2029 kita serahkan kepada Pak Prabowo, sebagai pimpinan tertinggi kita,” kata Raja Juli. (an-jpg/zuk)





