Efek Perang Iran Makin Terasa, Industri Pariwisata Jepang Kehilangan Ribuan Turis Eropa

viva.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Industri pariwisata Jepang mulai merasakan dampak serius dari perang yang melibatkan Iran serta konflik Amerika Serikat-Israel. Meski jumlah wisatawan asing sempat mencetak rekor pada Maret 2026, tekanan geopolitik global kini mulai memukul sektor inbound tourism, terutama dari pasar Eropa.

Penutupan Selat Hormuz serta melonjaknya harga minyak dunia membuat biaya perjalanan udara dari Eropa ke Jepang semakin mahal. Banyak maskapai yang sebelumnya melayani rute populer Eropa-Jepang melalui Timur Tengah juga terpaksa membatalkan penerbangan, sehingga wisatawan harus beralih ke penerbangan langsung yang jauh lebih mahal.

Baca Juga :
5 Tips Aman Berangkat Umroh di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Ribuan Warga Fujisawa Demo Tolak Rencana Pembangunan Masjid, Apa Alasan di Baliknya?

Akibatnya, sejumlah destinasi favorit wisatawan Eropa di Jepang mulai mengalami gelombang pembatalan besar-besaran. Scroll untuk info lebih lanjut... 

Salah satu wilayah yang paling terdampak adalah kawasan Hida-Takayama di Prefektur Gifu, yang terkenal dengan keindahan Pegunungan Alpen Jepang dan dekat dengan desa bersejarah Shirakawa-go yang berstatus Situs Warisan Dunia UNESCO.

Sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, sekitar 4.000 pembatalan hotel dan penginapan tercatat di wilayah tersebut, dan mayoritas berasal dari tamu asal Eropa. Pejabat Hida-Takayama Ryokan and Hotel Cooperative, Minoru Nakahata, mengatakan, hilangnya wisatawan Eropa secara mendadak menjadi pukulan besar karena sulit digantikan oleh turis negara lain.

“Sulit untuk melihat seperti apa masa depan dalam waktu dekat. Tidak seperti wisatawan Jepang, yang mungkin memutuskan bepergian secara mendadak karena kamar tiba-tiba tersedia, wisatawan asing tidak bisa melakukan itu,” kata Nakahata, sebagaimana dikutip dari Japan Times, Senin, 20 April 2026.

Pada 2025, Kota Takayama termasuk kawasan Hida-Takayama berhasil menarik 978.312 wisatawan asing yang menginap setidaknya satu malam. Angka itu naik 27,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 220.141 wisatawan berasal dari Eropa, meningkat 21,6 persen dibanding 2024.

Menurut Nakahata, wisatawan dari Spanyol, Inggris, Italia, Prancis, Jerman, Belanda, hingga Israel menjadi penyumbang besar kunjungan ke kawasan tersebut. “Kami memiliki jumlah pengunjung yang sangat besar dari Spanyol, Inggris, Italia, Prancis, Jerman dan Belanda. Kami juga memiliki banyak pengunjung dari Israel. Mereka semua tertarik pada keindahan alam kawasan ini dan suasana tradisional Shirakawa-go di dekatnya,” ujarnya.

Baca Juga :
Kuota Turis yang Bisa Masuk Pulau Komodo Ditetapan 1.000 Orang Per Hari
Efek Perang Bikin Industri Matcha Jepang Kena Imbas, Ekspor Naik tapi Ekspansi Seret
Anggarkan Rp 2,1 Triliun Bangun Water Taxi di Bali, Menhub: Konstruksi Mulai Dibangun Agustus 2026

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Motif Sakit Hati, Satpam di Lampung Rampok Eks Majikan | SAPA PAGI
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Selat Hormuz Sempat Dibuka, Wall Street Cetak Rekor 3 Hari Beruntun
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Holding Baru Energi Bersih Diharap Jaga Stabilitas Investasi PSEL
• 43 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Seluruh WK Migas Aceh ‘Sold Out’, BPMA Bidik Pembukaan Blok Baru
• 23 menit laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kakorlantas Beri Penghargaan ke Tokoh Komunitas Bali, Sinergi Jaga Kelancaran Lalin
• 2 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.