Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyampaikan kenaikan harga bahan baku biji plastik alias nafta mulai merembet ke komoditas minyak goreng kemasan, khususnya kualitas premium.
Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag Nawandaru Dwi Putra mengatakan tren harga minyak goreng kemasan premium terkerek. Hal ini sejalan dengan kenaikan harga biji plastik yang menjadi bahan utama kemasan, sehingga berdampak langsung terhadap biaya produksi.
“Yang warna oren ini adalah kemasan minyak goreng kemasan premium. Sedikit terkontraksi dengan adanya isu kenaikan bahan baku biji plastik, di mana ini kemungkinan besar memengaruhi harga komoditas minyak goreng premium, yang dengan kemasannya juga sangat berkualitas,” kata Nawandaru dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah, Senin (20/4/2026).
Namun, Nawandaru menjelaskan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi pada minyak goreng, melainkan juga berpotensi memengaruhi berbagai komoditas lain yang menggunakan kemasan plastik.
“Ini tidak hanya terjadi di komoditas minyak goreng, untuk komoditas-komoditas lainnya yang dikemas dengan plastik, ini juga akan mengalami kontraksi,” ujarnya.
Di sisi lain, harga Minyakita secara rata-rata nasional menunjukkan tren stabil bahkan cenderung menurun dalam setahun terakhir. Secara tahunan, harga rerata Minyakita turun 7,18% namun naik 0,66% dibandingkan bulan lalu. Per 17 April 2026, harga rata-rata Minyakita dibanderol Rp15.982 per liter.
Baca Juga
- Mendag Bantah Minyak Goreng Langka di Pasar
- Harga Minyak Goreng Curah Naik di Sumbar, Pasokan Minyakita Minim
- Dirut Bulog: Harga Beras Tak Naik Meski Harga Plastik Kemasan Mahal
Lebih lanjut, dia menepis isu kelangkaan minyak goreng yang beredar di masyarakat yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Kemendag menyebut ketersediaan minyak goreng, baik premium maupun merek lain, masih dalam kondisi aman dan mencukupi di berbagai kanal distribusi, mulai dari ritel modern hingga pasar rakyat.
Namun, Nawandaru mengakui sempat terjadi penurunan pasokan ke pasar rakyat dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut, menurutnya, lebih disebabkan oleh penyesuaian dari sisi pelaku usaha akibat kenaikan biaya bahan baku kemasan.
“Memang dalam kurun satu minggu, memang terinformasi bahwa ada sedikit penurunan, sedikit penurunan bukan kelangkaan, sedikit penurunan pasokan ke pasar rakyat. Mungkin salah satunya adalah kontraksi dari pengaruh kenaikan harga bahan biji plastik,” jelasnya.
Selain faktor biaya kemasan, penyaluran Minyakita juga dipengaruhi oleh prioritas distribusi untuk mendukung program pemerintah lainnya. Meski demikian, Kemendag menekankan agar pasokan untuk pasar rakyat tetap menjadi prioritas utama guna menjaga stabilitas harga.
Secara keseluruhan, total realisasi Domestic Market Obligation (DMO) minyak goreng mencapai 455.739 ton sepanjang 26 Desember 2025–17 April 2026. Dari sana, realisasi DMO kepada distributor lini 1 (D1) didominasi oleh BUMN Pangan, yakni sebanyak 228.198 ton atau setara 50,07%. Sisanya, sebanyak 227.541 ton atau 49,93% dari nonBUMN.
Adapun, kontribusi DMO dari BUMN terbesar berasal dari Perum Bulog yang mencapai 182.690 ton (40,09%) dan 45.508 ton (9,99%) dari ID Food.





