Penulis: Jati
TVRINews, Yogyakarta
Sumbangan pemikiran perempuan Pakualaman bagi rakyat Indonesia telah melintasi zaman. Berdasarkan catatan sejarah sejak era kolonial hingga kemerdekaan, terdapat dua sosok perempuan kakak beradik yang memberikan kontribusi di sektor pendidikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Perempuan pertama adalah Raden Ajeng Soetartinah atau dikenal sebagai Nyi Hajar Dewantara. Pada masa pergerakan, ia menjadi salah satu penggagas Kongres Perempuan pertama di Indonesia pada tahun 1928. Salah satu visinya adalah memperjuangkan hak-hak perempuan dalam bidang pendidikan.
Selain menjadi guru di Taman Siswa, ia juga mengupayakan terbentuknya study funds untuk pendidikan perempuan. Dalam amanatnya pada Hari Pendidikan, Raden Ajeng Soetartinah mengajak para guru untuk membentuk pribadi bangsa dan menentukan arah kehidupan masyarakat di masa depan.
Tokoh perempuan Pakualaman kedua adalah Raden Ajeng Maria Soelastri. Kiprahnya terlihat dalam merintis Perkumpulan Wanita Katolik di Yogyakarta yang beranggotakan guru perempuan dan buruh perempuan.
Dalam gerakannya, organisasi ini melaksanakan berbagai program sosial seperti pemberantasan buta huruf, perawatan orang sakit di kampung-kampung, perawatan bayi, serta pelatihan keterampilan seperti menjahit. Pada masa pendudukan Jepang, organisasi ini sempat dibekukan, dan pada tahun 1960-an berkembang menjadi Organisasi Wanita Katolik Republik Indonesia.
Perjuangan pemberdayaan perempuan terus berlanjut melalui peran permaisuri Puro Pakualaman, Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam X. Dalam berbagai aktivitasnya, Gusti Putri turut membangun kemajuan masyarakat melalui organisasi seperti Dharma Wanita, Posyandu, lembaga perlindungan anak, hingga Dekranasda DIY.
Menurut Dosen Sejarah UGM, Mutiah Amini, kedua tokoh kakak beradik tersebut menunjukkan bahwa latar keluarga dan pola asuh yang sama dapat melahirkan kontribusi besar dalam gerakan perempuan.
“Jadi keduanya kakak beradik artinya ada sesuatu yang sangat penting yang dibahas karena keduanya hidup dilingkungan keluarga yang sama, dalam pola asuh yang sama, dan keduanya aktif dalam organisasi perempuan, baik di pendidikan, kemudian kalo Ibu Maria itu lebih di dalam perhatiannya pada buruh perempuan, jadi bagaimana meningkatkan nasib buruh perempuan dalam periode tersebut,” ujar Mutiah, Senin, 20 April 2026.
Ia menambahkan, kedua tokoh tersebut juga menunjukkan bahwa perempuan Jawa tidak selalu identik dengan sikap pasif.
“Ada banyak sekali yang bisa diteladani dari tokoh-tokoh ini, artinya kita akan melihat selama ini perempuan jawa dikenal sebagai pribadi-pribadi yang manut dan takut pada struktur dan sebagainya, tapi keduanya bisa membuktikan walaupun dalam periode kolonial sekalipun bisa membuktikan eksistensinya sebagai perempuan dan menunjukan aktivitasnya sebagai perempuan,” lanjutnya.
Sementara itu, Sri Ratna Saktimulya, abdi dalem Pakualaman, menyampaikan bahwa Gusti Putri Pakualam X menjadi teladan dalam berbagai bidang, mulai dari posyandu, UMKM, hingga pelestarian batik.
“Dari yang saya ambil disini memang yang bisa diteladani memang Kanjeng Gusti Putri Pakualam atau Permaisuri Pakualam XX saat ini, beliau itu sangat aktif di berbagai bidang baik di posyandu, UMKM, terus tentang batik dan sebagainya, tentu saja ada kiat-kiat tertentu yang dipegang Gusti Putri Pakualam berdasar manuskrip kuno, yang jelas pesananya yaitu tidak bisa bergerak sendiri-sendiri tapi mari bersama mendukung gerak yang positif dan optimis untuk kemajuan Yogyakarta,” ungkapnya.
Pemberdayaan perempuan di Puro Pakualaman juga menerapkan nilai-nilai luhur dalam manuskrip kuno. Salah satunya adalah watak “sestradi” dalam memimpin organisasi, yaitu waspada, pandai, sabar, berhati mantap, dan bernalar.
Editor: Redaktur TVRINews





