MAKASSAR, FAJAR–Indonesia berpeluang bangkit dari timur. Pertumbuhan ekonomi tertinggi didominasi provinsi dari KTI.
DUA provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di kawasan timur Indonesia (KTI) adalah Maluku Utara (Malut) 34,17 persen dan Sulawesi Tengah (Sulteng) 8,47 persen. Situasi ini bisa menempatkan timur sebagai pendobrak pertumbuhan.
Sementara pertumbuhan nasional di angka 5,11 persen, Khusus Sulsel, angkanya tumbuh 5,43 persen alias berada di atas rata-rata nasional. Angka ini naik dibandingkan 2024, yakni Sulsel tumbuh 5,02 persen.
“Ini menunjukkan daya beli masyarakat relatif stabil di tengah berbagai tekanan global,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Aryanto, Minggu, 19 April 2026.
Pertumbuhan ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang tetap terjaga di tengah tekanan global. Struktur ekonomi Sulsel masih didominasi konsumsi rumah tangga dengan kontribusi lebih dari 50 persen.
“Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha jasa lainnya sebesar 10,80 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 5,85 persen,” ucapnya.
Pengamat Ekonomi Universitas Fajar (Unifa) Makassar Rosnaini Daga menilai pertumbuhan ekonomi KTI dipengaruhi dua sektor utama, yakni pertanian dan pertambangan. Dua sektor ini yang membuatnya tumbuh di atas rata-rata nasional.
Khusus lonjakan ekonomi Maluku Utara, itu didorong hilirisasi nikel yang berkembang pesat. Investasi smelter dan pengolahan mineral membuat ekspor barang dan jasa meningkat signifikan.
“Sulut juga ditopang ekspor antarprovinsi terutama produk perikanan olahan. Industri pengolahan juga tumbuh kuat menjadi penopang utama,” jelas Rosnaini.
Secara umum wilayah timur Indonesia diuntungkan oleh komoditas unggulan daerah masing-masing, seperti nikel di Maluku Utara dan sektor perikanan di Sulut.
Ia memproyeksikan tren pertumbuhan ekonomi KTI masih berpotensi berlanjut apabila fondasi ekonomi pada triwulan sebelumnya tetap terjaga. Khususnya di Malut dan Pulau Sulawesi.
Di tengah tantangan global, termasuk krisis energi dan ketidakpastian ekonomi dunia, pemerintah perlu fokus pada program prioritas yang berdampak langsung kepada masyarakat. “Dan mengurangi kegiatan seremonial,” sarannya.
Masyarakat juga diimbau lebih bijak dalam belanja dengan menekan perilaku konsumtif. “Belanja keperluan yang dibutuhkan saja,” ucapnya.
Efek Kombinasi
Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Abdul Muttalib Hamid, menilai tingginya pertumbuhan KTI dipengaruhi kombinasi beberapa faktor, tidak semata-mata sektor pertambangan.
Aktivitas hilirisasi industri, peningkatan investasi, pembangunan infrastruktur, serta kinerja sektor pertanian dan komoditas unggulan daerah turut berkontribusi terhadap laju ekonomi.
“Hilirisasi nikel dan industri padat energi memang menjadi faktor dominan yang mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan, khususnya di Maluku Utara dan sebagian wilayah Sulawesi,” ujarnya.
Pertumbuhan ekonomi KTI tidak sepenuhnya bertumpu pada tambang. Di sejumlah daerah, terutama Sulsel, sektor pertanian tetap menjadi fondasi utama stabilitas ekonomi.
Komoditas seperti beras, kakao, kopi, rumput laut, dan peternakan memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Sektor pertanian memiliki karakter lebih tahan terhadap guncangan global dibanding sektor ekstraktif.
Hal ini membuat daerah yang memiliki basis pertanian kuat cenderung mampu menjaga stabilitas pertumbuhan meski terjadi fluktuasi harga komoditas.
“Sektor pertanian sebenarnya menjadi penopang yang lebih tahan krisis, khususnya di wilayah seperti Sulawesi Selatan, namun masih menghadapi masalah produktivitas rendah, keterbatasan teknologi, dan distribusi yang belum efisien,” katanya.
Selain faktor sektoral, pertumbuhan ekonomi KTI juga didorong oleh meningkatnya aktivitas industri pengolahan berbasis sumber daya alam. Pengembangan kawasan industri nikel dan hilirisasi memberikan efek limpahan terhadap sektor lain, seperti konstruksi, transportasi, perdagangan, hingga jasa.
Kondisi ini membuat ekonomi daerah tumbuh lebih cepat dibandingkan kawasan lain. Namun demikian, ketergantungan pada komoditas tertentu tetap menjadi risiko.
Struktur ekonomi yang bertumpu pada nikel membuat kawasan ini rentan terhadap fluktuasi harga global serta perlambatan ekonomi negara tujuan ekspor.
“Ketergantungan besar pada ekspor nikel—terutama ke Tiongkok—menimbulkan risiko single commodity dependency,” ujarnya.
Krisis energi global juga menjadi tantangan serius bagi KTI. Industri hilirisasi yang padat energi berpotensi terdampak jika harga energi meningkat atau terjadi gangguan pasokan.
Hal ini dapat menekan biaya produksi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi daerah. Untuk menjaga pertumbuhan tetap stabil, pemerintah perlu memperkuat diversifikasi ekonomi.
Pengembangan sektor nontambang seperti pertanian modern, perikanan, industri hilir berbasis komoditas lokal, serta perdagangan dan jasa harus dipercepat agar struktur ekonomi lebih seimbang.
Selain diversifikasi, transisi menuju energi baru terbarukan juga dinilai penting. Efisiensi penggunaan energi, pengembangan energi terbarukan, serta penguatan ketahanan energi daerah menjadi langkah strategis menghadapi ketidakpastian global.
Integrasi antara industri besar dengan ekonomi lokal agar pertumbuhan lebih inklusif juga tak bisa diabaikan. Tanpa integrasi tersebut, pertumbuhan berisiko hanya terkonsentrasi di kawasan industri dan tidak berdampak luas pada masyarakat.
Tingginya pertumbuhan kawasan timur juga membuka peluang terjadinya pergeseran gravitasi ekonomi nasional ke wilayah timur Indonesia. Meski kontribusinya terhadap PDB nasional masih relatif kecil, tren pertumbuhan yang konsisten menunjukkan potensi kawasan ini menjadi motor ekonomi baru di masa depan.
Untuk itu, pemerintah daerah perlu memperkuat kebijakan pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan, termasuk peningkatan produktivitas pertanian, hilirisasi komoditas non-tambang, penguatan UMKM, serta pembangunan infrastruktur pendukung distribusi.
Meski pertumbuhan ekonomi KTI saat ini tergolong tinggi, masih memerlukan pembenahan struktural agar lebih tahan terhadap guncangan global. (uca-ams-an/zuk)
MODAL PAS
TEPIS KRISIS
KTI Episentrum
-Angka pertumbuhan nasional didominasi KTI
-Malut tertinggi, di atas 30 persen
-Disusul provinsi-provinsi di Sulawesi
-Sulteng tertinggi kedua nasional
-Sulsel tumbuh di atas rata-rata nasional
Nasional
2025: 5,11 Persen
2024: 5,03 Persen
2023: 5,05 Persen
2022: 5,31 Persen
2021: 3,70 Persen
2020: -2,07 Persen
2019: 5,02 Persen
Sulsel
2025: 5,43 Persen
2024: 5,02 Persen
2023: 4,51 Persen
2022: 5,09 Persen
2021: 4,65 Persen
2020: -0,70 Persen
2019: 6,92 Persen
Per Pulau*
6,23 : Sulawesi
5,30 : Jawa
4,87 : Bali dan Nusa Tenggara
4,81 : Sumatra
4,79 : Kalimantan
1,44 : Maluku-Papua
*2025 dalam Persen
PR Susel
-Angka pengangguran masih tinggi
-Pekerja informal masih dominan (59 persen)
-Menjaga stabilitas daya beli
-Angka tumbuh beriringan dengan inflasi
-Tumbuh 5,43 dan inflasi 4,5
Pengangguran
-Banyak di wilayah kota
-Mayoritas perempuan
-Lulusan SMP-SMA
-Lapangan kerja formal masih kurang
Penopang Sulsel
-Tambang (nikel dan emas)
-Pertanian (pangan)
-Komoditas (kakao, cengkih, kopi, dll)
-Perikanan





