Akibat konflik Iran, harga minyak internasional terus meningkat, sehingga biaya bahan bakar penerbangan melonjak tajam dan mulai berdampak pada industri penerbangan global. Sejumlah maskapai telah mengumumkan pengurangan penerbangan untuk musim panas tahun ini, sehingga perjalanan ke depan kemungkinan menjadi lebih tidak stabil.
EtIndonesia. Sejak pecahnya konflik pada akhir Februari hingga sekarang, harga bahan bakar pesawat telah meningkat hingga dua kali lipat. Para analis industri menyebut bahwa bahan bakar biasanya menyumbang sekitar 25% hingga 30% dari total biaya maskapai. Ketika harga naik, dampaknya sangat langsung, terutama pada rute jarak jauh.
Menurut laporan CBS News, kepala ekonom dari Tourism Economics, Stephen Rooney, menjelaskan bahwa maskapai biasanya menjual tiket jauh hari sebelumnya dengan asumsi harga bahan bakar relatif stabil. Ketika harga tiba-tiba naik, margin keuntungan dari tiket yang sudah terjual akan tertekan. Karena itu, banyak maskapai memilih mengurangi frekuensi penerbangan atau menyesuaikan rute untuk menekan kerugian.
Sejumlah maskapai sudah mulai mengambil langkah. Delta Air Lines pada 17 April mengumumkan akan mengurangi empat rute musim panas, termasuk penerbangan dari Bandara Internasional John F. Kennedy New York, Detroit, dan Boston hingga September. Air Canada juga menyatakan akan mengurangi beberapa penerbangan dari Toronto dan Montreal ke Bandara JFK New York antara Juni hingga Oktober.
Situasi di Eropa bahkan lebih tegang. Industri memperingatkan bahwa cadangan bahan bakar penerbangan di beberapa bandara mungkin hanya cukup untuk sekitar enam minggu. Jika pasokan terus terganggu, pembatalan penerbangan bisa semakin meningkat. KLM Royal Dutch Airlines dan Lufthansa menyatakan akan menyesuaikan jadwal penerbangan dan menutup sebagian rute berdasarkan biaya bahan bakar.
Secara keseluruhan, maskapai Amerika Serikat relatif berada dalam kondisi lebih baik karena sebagian pasokan bahan bakar dapat dipenuhi secara domestik. Namun, rute lintas Atlantik tetap terdampak.
Analis penerbangan Henry Harteveldt mengatakan bahwa jika bahan bakar di tujuan terbatas, beberapa penerbangan mungkin harus melakukan pengisian bahan bakar di tengah perjalanan, sehingga waktu tempuh menjadi lebih lama.
Jika Selat Hormuz kembali normal—jalur yang menangani sekitar 20% pengiriman minyak dunia—harga minyak berpotensi turun secara bertahap. Namun para ahli memperkirakan proses ini bisa memakan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan.
Sumber : NTDTV.com




