Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat harga berbagai komoditas pokok setelah lebaran Idul fitri sudah mulai terjaga. Namun, harga MinyaKita dan cabai rawit masih tergolong tinggi.
Hal ini terlihat dari selisih harga berbagai komoditas pangan terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET)/Harga Acuan Pembelian (HAP) yang rata-rata terjaga di bawah 6 persen. Sementara selisih untuk MinyaKita masih mencapai 7,03 persen dan cabai rawit 35,86 persen.
Terkait cabai rawit, Deputi 1 Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa menjelaskan tingginya harga memang sempat disebabkan oleh kondisi cuaca yang terjadi di Indonesia.
Hal ini membuat banyak petani cabai rawit tak melakukan panen atau pemetikan saat hujan terus terjadi.
“Setelah bulan suci ramadan relatif sedang mengalami penurunan. Waktu awal-awal, memang harus kita akui cabai rawit merah memang terlalu tinggi, yang kita harapkan pada musim bulan suci ramadan adalah kering sedikit, ternyata hujannya teman-teman bisa rasakan. Jadi cabai itu begitu hujan tidak mungkin orang metik,” kata Ketut dalam media briefing di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta pada Senin (20/4).
Sementara untuk MinyaKita, Ketut menjelaskan memang kondisinya saat ini sudah mulai turun. Namun salah satu hal yang menjadi faktor harga MinyaKita tetap tinggi adalah dominasi Domestic Market Obligation (DMO) MinyaKita ke bantuan pangan.
“Sebenarnya bukan naik, sudah mulai turun kalau MinyaKita ya, dari Rp 17 ke Rp 16 (ribu). Tentu memang sekarang ini kan serapan DMO itu dominan ke bantuan pangan tuh. Nah kemudian yang kedua, kita sudah gencarkan pengawasan sehingga harga itu sudah mulai mendekati harga acuan yang kita tetapkan,” ujarnya.
Adapun saat ini Bapanas memang sedang mendorong agar distribusi MinyaKita 60 persen di antaranya dilakukan melalui BUMN. Hal ini agar harga MinyaKita dapat terkendali dengan mudah.
“Nah tentu dengan 60 persen, pengendalian harganya akan relatif lebih mudah. Itu yang kita dorong ke depan,” kata Ketut.
Adapun berdasarkan paparan Ketut, pada periode pasca lebaran 21 Maret–18 April 2026 harga 13 komoditas pangan strategis secara umum menunjukkan kondisi yang lebih stabil meskipun masih terdapat beberapa yang berada di atas HET.
Harga beras premium di kisaran Rp15.665 per kg atau sedikit di atas HET, sementara beras medium Rp13.379 per kg dan beras SPHP Rp12.444 per kg masih berada di bawah HET.
Kedelai juga tercatat Rp11.164 per kg dan tetap di bawah HET.
Pada komoditas hortikultura, bawang merah berada di Rp 42.615 per kg dan sudah melampaui HET, sedangkan bawang putih Rp 38.310 per kg masih di bawah HET.
Cabai merah keriting berada di Rp 43.281 per kg atau masih di bawah HET, sementara cabai rawit merah tetap menjadi komoditas dengan kenaikan harga tertinggi di Rp75.726 per kg, jauh di atas HET meski telah mengalami penurunan.
Untuk daging sapi harganya berada di Rp 141.159 per kg, daging ayam ras Rp 40.866 per kg, dan telur ayam ras Rp31.648 per kg, Sementara itu, gula konsumsi dan minyak goreng masing-masing tercatat Rp 18.618 per kg dan Rp 16.824 per liter, keduanya masih berada di atas HET.





