Penulis: DR. Ir. Faisal Habib, ST.,MT
Dosen Fakultas Teknik UMI
Universitas Muslim Indonesia (UMI) baru saja menelurkan 3.024 lulusan baru, mulai dari jenjang Sarjana, Magister, Doktor, hingga profesi. Di balik prosesi wisuda yang sarat suka cita, terselip harapan besar agar ribuan alumni ini tidak sekadar menjadi angka dalam statistik tenaga kerja, melainkan menjadi kontributor aktif bagi transformasi peradaban.
Menghadapi tantangan perubahan dan persaingan global yang kian sengit, para alumni baru ini dituntut memiliki keterampilan yang mumpuni. Namun, keterampilan teknis saja tidak cukup. Sebagai luaran yang dianggap well-educated, mereka telah ditempa dengan soft skill dan karakter kuat. Mereka diharapkan bukan sekadar sarjana hasil rekayasa kurikulum yang hanya mahir membaca teks, melainkan sosok yang mampu berpikir kontekstual dan menjadi solusi atas pelbagai problematika di lapangan.
Belakangan ini, kita disuguhi tontonan memprihatinkan tentang rusaknya tatanan sosial di media sosial maupun dunia nyata. Keadilan seolah menjadi komoditas yang diperdagangkan di “pasar gelap” ruang peradilan, perampasan hak atas tanah, hingga praktik penindasan yang ironisnya sering kali melibatkan para pemegang gelar sarjana.
Apakah ini sepenuhnya kesalahan institusi pendidikan tinggi? Tentu tidak. Perguruan tinggi tidak dapat mengontrol perilaku dan moralitas lulusannya secara absolut setelah mereka meninggalkan kampus. Namun, perguruan tinggi memegang peran krusial sebagai “kawah candradimuka” pembentuk karakter dan pemurnian kecerdasan. Inilah yang disarikan oleh Kemendiktisaintek melalui frasa “pendidikan berdampak”—sebuah pendidikan yang hasilnya nyata dirasakan melalui kontribusi positif lulusannya di institusi negara maupun swasta.
Sejak berdiri pada tahun 1954, UMI bukanlah institusi yang “biasa-biasa saja”. Kampus ini lahir dari komitmen kuat para pendiri untuk membangun peradaban melalui jalur pendidikan dan dakwah. Ruh pendidikan di UMI menekankan pada pembinaan akhlak dan akal budi secara utuh.
Label “Muslim” pada Universitas Muslim Indonesia bukanlah sekadar hiasan atau instrumen pemasaran, melainkan “jiwa” dari setiap aktivitas akademik di dalamnya. Konsistensi sikap dan perilaku sebagai muslim sejati menjadi tanggung jawab kolektif seluruh sivitas akademika demi menjaga marwah institusi.
Menyongsong Nakhoda Baru 2026-2030
Kini, UMI berada di ambang momentum krusial: Pemilihan dan Penetapan Kepemimpinan masa amanah 2026-2030 yang akan digelar beberapa bulan ke depan. Penetapan nakhoda baru ini diharapkan murni didasarkan pada pertimbangan objektif melalui musyawarah yang anggun dan bermartabat, jauh dari praktik transaksi tukar tambah kepentingan.
UMI membutuhkan figur pemimpin yang memiliki integritas tinggi dan legitimasi yang kuat. Pemimpin seperti inilah yang mampu menjaga stabilitas institusi agar tetap berada di jalur (track) yang benar, sejalan dengan cita-cita awal pendiriannya. Publik, sivitas akademika, dan ratusan ribu alumni yang tersebar di seantero Nusantara tentu mengamati dengan saksama proses ini. Entitas alumni bukan sekadar variabel tambahan, melainkan elemen penting yang menjadi penentu keberhasilan UMI sebagai lembaga pendidikan yang mandiri dan terkemuka.
Kepemimpinan yang kuat akan lebih mudah mengurai benang kusut problem pengembangan jika mendapat dukungan penuh dari seluruh elemen. Syaratnya, sang nakhoda baru nantinya harus mampu mengekspresikan rencana pengembangan secara sistematik dan terstruktur, serta mendedikasikan kemampuan terbaiknya untuk mengorkestrasi seluruh sumber daya. Dengan kepemimpinan yang tepat, UMI akan terus berdiri tegak sebagai pilar pendidikan yang mencerdaskan akal sekaligus memperhalus budi. (*)





