Harga Mahal Maskulinitas: Mengapa Suami Lebih Dulu Pergi?

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Pengalaman sebagai seorang anak yatim, dimana ayah saya lebih dulu berpulang dibandingkan dengan ibu saya, membawa saya pada sebuah pertanyaan terkait sebuah pola yang sering kali berulang di banyak tempat hampir di seluruh penjuru dunia; mengapa mayoritas perempuan mengubur suami mereka terlebih dahulu bukan sebaliknya? Kesenjangan ini, sering kali kita terima sebagai takdir, nasib atau hukum alam yang tak terelakkan. Namun faktanya, berkata lain.

Secara global, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2023) menunjukkan harapan hidup perempuan rata-rata 4–7 tahun lebih panjang dibanding laki-laki. Di Tanah Air, Badan Pusat Statistik (BPS, 2022) mencatat angka harapan hidup perempuan mencapai 73,3 tahun, berbanding 69,1 tahun untuk laki-laki. Data ini konsisten dan melintasi batas budaya maupun status ekonomi negara.

Selama ini, kita terbiasa mendengar penjelasan standar: laki-laki lebih banyak merokok, mengonsumsi alkohol, bekerja di lingkungan berbahaya, atau enggan ke dokter. Penjelasan itu benar, tetapi terlalu banal untuk sebuah fenomena yang berakar sangat dalam. Ada sesuatu di dalam dinamika relasi dan konstruksi gender yang ikut menentukan seberapa cepat detak jantung laki-laki berhenti.

Fondasi Biologis dan Beban Perilaku

Tentu, ada fondasi biologis yang tidak bisa diabaikan dari hal ini. Secara genetik, perempuan diberkati dengan dua kromosom X yang berfungsi layaknya backup system untuk respons imun dan perbaikan sel. Estrogen pada perempuan juga bertindak sebagai pelindung alami jantung. Vitale et al. dalam Nature Reviews Endocrinology (2022) mencatat, meski perlindungan estrogen berkurang pascamenopause, perempuan sudah "menabung" manfaat kardiovaskular itu selama puluhan tahun masa reproduktifnya. Sebaliknya, testosteron pada laki-laki memicu hubungan yang kompleks. Menurut Ober et al. (Nature Reviews Genetics, 2008), hormon ini memicu perilaku berisiko sekaligus berkaitan dengan supresi sistem imun dan respons stres yang agresif pada kondisi tertentu.

Namun, biologi hanyalah sebuah titik mula. Perbedaan alamiah itu diperparah oleh pola perilaku. Data dari Framingham Heart Study dan UK Biobank secara konsisten menunjukkan keterlambatan laki-laki dalam mencari bantuan medis. Hal ini sejalan dengan temuan Mahalik et al. (Health Psychology, 2007) yang mengaitkan keengganan berobat tersebut dengan norma maskulinitas: di mana mencari pertolongan medis kerap disalahartikan sebagai sebuah kelemahan.

Paradoks Pernikahan dan Beban Kerja Emosional

Di sinilah cerita sesungguhnya dimulai. Berbagai literatur menemukan sebuah paradoks mematikan: pernikahan sesungguhnya lebih banyak melindungi nyawa laki-laki. Ross (Journal of Marriage and Family, 1995) dan Rendall et al. (European Journal of Population, 2011) dalam penelitiannya, membuktikan bahwa laki-laki yang menikah, hidup lebih lama dan sehat dibanding mereka yang melajang atau bercerai. Sebaliknya, manfaat statistik ini tidak sebesar yang didapatkan oleh perempuan. Mengapa bisa demikian? Jawabannya terletak pada siapa pengelola sesungguhnya dari infrastruktur emosional pernikahan tersebut.

Sosiolog Arlie Hochschild dalam karya klasiknya The Managed Heart (1983) memperkenalkan konsep emotional labor. Dalam rumah tangga, ini mewujud menjadi kinkeeping—upaya menjaga komunikasi keluarga, merawat kedekatan, dan mendeteksi tekanan emosional pasangan—yang menurut Rosenthal (Journal of Marriage and Family, 1985) hampir secara universal dikerjakan oleh perempuan. Melalui kinkeeping, perempuan membangun jaring pengaman sosial. Riset Holt-Lunstad et al. (PLOS Medicine, 2010) menegaskan bahwa jaringan sosial yang kuat adalah salah satu prediktor umur panjang paling konsisten. Masalahnya, laki-laki sering kali menyandarkan seluruh dukungan emosionalnya hanya pada sang istri. Ketika istri tiada, infrastruktur penyokong nyawa itu runtuh seketika.

Alexithymia dan Stres yang Membisu

Kerapuhan itu diperparah oleh fenomena alexithymia, yakni ketidakmampuan mengenali dan mengungkapkan emosi. Levant et al. (Psychology of Men & Masculinity, 2009) menemukan prevalensi kondisi ini menyentuh 17% pada laki-laki berbanding 10% pada perempuan. Hal tersebut, tentu saja bukan cacat genetik, melainkan produk sosialisasi yang disebut William Pollack sebagai the boy code (Real Boys, 1998)—aturan tak tertulis yang melarang anak laki-laki menangis atau terlihat rapuh. Emosi yang tak mampu dibahasakan akhirnya diproses secara somatik oleh tubuh.

Tuntutan untuk selalu menjadi pelindung tangguh melahirkan apa yang disebut Eisler & Skidmore (Sex Roles, 1987) sebagai masculine gender role stress. Stres diam-diam ini merendam tubuh dalam hormon kortisol berkepanjangan, merusak jantung, dan melemahkan imun.

Bahkan dalam pertemanan, laki-laki dewasa sering terisolasi. Geoffrey Greif (Buddy System, 2008) menemukan persahabatan laki-laki lebih berpusat pada aktivitas fisik ketimbang keterbukaan emosional. Padahal, Niobe Way (Deep Secrets, 2011) membuktikan anak laki-laki sebenarnya mampu intim secara emosional sebelum norma maskulinitas merenggutnya. Isolasi sosial ini sangat mematikan; meta-analisis Holt-Lunstad et al. (Perspectives on Psychological Science, 2015) menyimpulkan kesepian meningkatkan risiko kematian dini hingga 26%, melampaui bahaya obesitas.

Respons Konflik dan Pukulan Kehilangan

Di dalam rumah, laki-laki juga memproses konflik dengan cara yang lebih merusak tubuh. Studi monumental dari Kiecolt-Glaser et al. (Journal of Consulting and Clinical Psychology, 1993; Psychosomatic Medicine, 2005) menunjukkan laki-laki mengalami lonjakan stres kardiovaskular yang lebih kuat saat konflik perkawinan. Kecenderungan laki-laki melakukan stonewalling (menarik diri dan menutup komunikasi), menurut Gottman & Levenson (Journal of Marriage and the Family, 1992), justru menjadi "perangkap kortisol" di mana stres terkurung di dalam tubuh.

Tak heran jika efek kehilangan begitu asimetris. Studi Martikainen & Valkonen (The Lancet, 1996) terhadap lebih dari 1 juta data penduduk menemukan bahwa risiko kematian seorang duda melonjak amat tajam di tahun pertama kepergian istrinya—jauh melampaui risiko yang dialami para janda. Mereka terpaksa menghadapi kedukaan mentah tanpa peredam, untuk pertama kalinya seumur hidup.

Mengajarkan Laki-laki untuk Bertahan Hidup

Realitas sosiologis dan medis ini membawa pesan yang mendesak. Kita harus memikirkan ulang apa yang kita ajarkan kepada anak laki-laki. Kapasitas untuk meminta tolong, merengkuh kerentanan, dan merawat persahabatan bukanlah sebuah kelemahan, melainkan keterampilan murni untuk bertahan hidup.

Distribusi kerja emosional yang timpang dalam relasi bukan hanya perkara ketidakadilan gender, tetapi punya konsekuensi hidup-mati. Pada akhirnya, laki-laki lebih dulu pergi karena sedari kecil dunia mengajari mereka untuk mengambil jarak dari perasaannya sendiri dan melarang mereka untuk sekadar bersandar.

Kesenjangan umur antara laki-laki dan perempuan adalah cermin dari luka struktural yang kita pelihara—sebuah bukti betapa mahalnya harga yang harus ditebus dari konstruksi maskulinitas yang salah arah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemlu Sebut WNI Huni Kawasan yang Terdampak Kebakaran Besar di Malaysia
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Satgas Haji Gagalkan Keberangkatan 8 WNI yang Pakai Visa Non Haji di Soetta
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Iran Dilaporkan Luncurkan Serangan Drone ke Kapal AS di Teluk Oman
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kulit Kencang Tanpa Rasa Sakit, XERF Jadi Standar Baru Perawatan Anti-Aging Premium di Tosca
• 39 menit lalutabloidbintang.com
thumb
Gempa M 7,4 Guncang Jepang, Peringatan Tsunami Dikeluarkan
• 3 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.