EtIndonesia. Perjanjian gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran akan berakhir pada 21 April. Namun, perundingan pertama yang digelar pekan lalu berakhir gagal karena Iran tidak bersedia melepaskan senjata nuklirnya. Presiden AS Donald Trump kemudian memerintahkan dimulainya blokade terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran sejak pekan ini.
Trump menyebut Iran telah setuju menyerahkan material nuklir kunci, dan putaran negosiasi berikutnya direncanakan berlangsung akhir pekan ini. Pelabuhan juga sempat dibuka kembali pada Jumat (17 April). Meski tampak berjalan lancar, situasinya dinilai aneh karena rezim Iran tampak terpecah dengan informasi yang sering saling bertentangan.
Dari Teheran muncul kabar bahwa Korps Garda Revolusi Islam tidak sepakat dan bersikeras bahwa mereka berhak menentukan kapal mana yang boleh melintasi Selat Hormuz.
Di sisi lain, kabar positif datang dari kawasan: Israel dan Lebanon berhasil mencapai gencatan senjata selama 10 hari.
Pada 14 April, Israel dan Lebanon memulai pembicaraan di Amerika Serikat. Pada 16 April, Trump mengumumkan bahwa Israel dan Hezbollah sepakat melakukan gencatan senjata selama 10 hari. Presiden Lebanon Joseph Aoun keesokan harinya menyatakan bahwa kesepakatan ini bisa berkembang menjadi permanen.
Seorang warga Beirut mengatakan bahwa suasana kini terasa lebih baik, dengan orang-orang mulai kembali berkumpul seperti sebelum perang.
Namun, perundingan antara AS dan Iran tidak berjalan semulus itu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan bahwa kedua pihak memang mencapai kesepakatan pada beberapa isu, tetapi masih berselisih pada dua atau tiga poin penting.
Trump menegaskan bahwa ia menginginkan kesepakatan penuh, bukan hanya sebagian: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Setelah kegagalan perundingan pertama, Trump mengumumkan blokade terhadap kapal kargo dan tanker yang berangkat dari Iran, guna memutus sumber ekonomi minyak negara tersebut. Ia juga memperingatkan bahwa negara yang memberikan bantuan atau senjata kepada Iran akan dikenai tarif tambahan sebesar 50%.
Sejak 28 Februari, Iran disebut mengalami kerugian sekitar 37 hingga 42 juta dolar AS per hari, memperparah kondisi ekonomi yang sudah lemah. Selain itu, akibat blokade, ekspor sekitar 1,5 juta barel minyak per hari hampir sepenuhnya terhenti.
Duta Besar Iran untuk India pada 13 April menyatakan keinginan kuat Teheran untuk melanjutkan negosiasi dengan Washington, dan hal ini kemudian dikonfirmasi oleh Trump.
Pakistan juga berupaya menjadi mediator untuk menjembatani perbedaan agar putaran kedua perundingan dapat digelar pada akhir pekan.
Namun, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kepada Fox News bahwa salah satu penyebab kegagalan perundingan pertama adalah delegasi Iran tidak memiliki kewenangan penuh, karena semua keputusan harus ditentukan oleh Teheran.
Hal yang membingungkan publik adalah sering munculnya dua versi pernyataan dari Iran, seolah terjadi “Iran yang asli dan Iran yang lain”, dengan banyaknya informasi yang saling bertentangan. Misalnya, pada 17 April Trump menyatakan Iran telah setuju menghentikan pengayaan uranium dan AS akan membantu membongkar fasilitas terkait, namun Kementerian Luar Negeri Iran segera membantah dengan menyatakan uranium tidak akan dipindahkan ke mana pun.
Pada 15 April, Trump mengatakan perundingan lanjutan akan digelar dalam dua hari, tetapi Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh pada 18 April menyatakan tanggalnya belum ditentukan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada 17 April sempat menyatakan bahwa selama sisa masa gencatan senjata, kapal dagang dapat bebas melintasi Selat Hormuz. Namun pada Sabtu (18 April), komando militer Iran kembali memperketat kontrol atas selat tersebut dan menuduh blokade AS melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Sumber internal dari sistem Tiongkok menyebut adanya konflik antara pemerintah Iran dan Garda Revolusi, yang kemudian dimanfaatkan pihak tertentu dengan menyalurkan dana besar kepada IRGC.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan menyatakan bahwa Amerika Serikat berniat “menjatuhkan Iran terlebih dahulu sebelum menghadapi PKT ”, yang dinilai sebagai upaya Iran mendorong Beijing berada di garis depan untuk melindungi dirinya.
Terlepas dari siapa pengambil keputusan utama di Iran, Trump menegaskan tidak akan memperpanjang gencatan senjata. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga memperingatkan bahwa Amerika siap meluncurkan sanksi besar yang disebut “kemarahan ekonomi”.
Menteri Perang AS Pete Hegseth menyatakan bahwa pihaknya mendesak Iran untuk membuat pilihan yang bijak, seraya menegaskan bahwa AS siap menyerang infrastruktur penting Iran jika diperintahkan. (Hui)
NTD Weekly News, disusun oleh Lin Chao dan Liu Jie.





