JAKARTA, KOMPAS.com - Eks Mendikbudristek Nadiem Makarim mengomentari tuntutan 15 tahun penjara dan uang pengganti (UP) Rp 16,9 miliar terhadap eks Konsultan Teknologi, Ibrahim Arief.
Nadiem mengaku sedih dan bingung setelah mendengar Ibrahim dituntut dengan pidana yang begitu tinggi.
“Hal yang sangat membuat saya sedih dan bingung. Dan ini adalah mengenai Ibrahim Arief atau Ibam, yang kemarin itu dituntut 15 tahun, bahkan UP Rp 16 miliar dan kalau tidak dibayar menjadi 22 tahun,” ujar Nadiem di jeda sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (20/4/2026).
“Ibam itu adalah konsultan, dia konsultan teknologi, dia tidak punya kewenangan untuk membuat keputusan apa pun. Dan yang kedua, Ibam itu terbukti di dalam fakta persidangan tidak menerima aliran dana apa pun,” tambah Nadiem.
Baca juga: Eks Pengembang Chromebook Akui Kerap Temui Menteri dari Berbagai Negara, Tak Hanya Nadiem
Nadiem mengatakan, Ibrahim merupakan salah satu engineer atau pekerja teknologi terbaik di Indonesia.
Terlebih dengan rekam jejaknya sebagai Chief Technology Officer (CTO) Bukalapak.
“Bagi yang mungkin enggak mengetahui Ibam, Ibam ini terkenal sebagai salah satu engineer atau CTO ya, yang terbaik di Indonesia, dia bekas CTO-nya Bukalapak, dan dia punya tingkat apa reputasi, kehandalan, kompetensi yang luar biasa dan idealisme,” kata Nadiem.
Nadiem mengaku sangat bingung tuntutan Ibam sangat tinggi mengingat dia tidak punya kewenangan untuk memutus apa pun terkait dengan pengadaan.
Lebih lanjut, Ibam juga tidak terbukti menerima sepeser pun uang dari pengadaan Chromebook.
Terlebih, saksi dari Google hari ini justru menyebut Ibam sebagai salah satu pihak yang kritis mempertanyakan Chromebook.
Baca juga: Cerita Eks Pejabat Google Pesimistis Usai Rapat dengan Nadiem Bahas Chromebook
“Saya sangat bingung bagaimana bisa seseorang yang mengorbankan gaji dua tiga kali lipat lebih banyak, menolak pekerjaan Facebook di Inggris, mengorbankan dirinya untuk mengabdi kepada negara, itu bisa mengalami tuntutan dan potensi hukuman yang hampir maksimum,” imbuh Nadiem.
Dalam kesempatan yang sama, Nadiem meminta agar anak-anak muda di Indonesia mencermati kasus yang tengah menjerat Ibrahim.
Dia menilai, jika kasus ini dibiarkan, bisa jadi kasus sama terulang dan menjerat anak muda lainnya.
“Jadi tolong, ini membuat saya merasa kaum muda profesional ini harus menyadari, mungkin saja semua sedang tidak baik-baik saja dengan proses hukum di negara kita pada saat ini,” katanya.
Menutup keterangannya, Nadiem meminta masyarakat paham siapa sosok Ibrahim, yaitu tenaga profesional muda yang juga punya keluarga.
Baca juga: Eks Petinggi Google Ungkap Pertemuan dengan Nadiem, Tidak Ada Kesepakatan Pakai Chromebook





