Istanbul (ANTARA) - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan penggunaan jalur diplomatik untuk meredakan ketegangan, karena “perang bukan untuk kepentingan siapa pun”.
"Sambil melawan ancaman, setiap jalur rasional dan diplomatik harus digunakan untuk mengurangi ketegangan," kata Pezeshkian seperti dikutip oleh kantor berita pemerintah Iran, IRNA, Senin.
"Pada saat yang sama, ketidakpercayaan terhadap musuh dan kewaspadaan dalam berinteraksi adalah kebutuhan yang tak terbantahkan," tambahnya.
Secara terpisah, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan bahwa Iran tidak memiliki rencana untuk menggelar putaran baru perundingan dengan Amerika Serikat (AS).
“Republik Islam Iran tidak menerima batas waktu atau ultimatum apa pun dalam memperjuangkan kepentingan nasionalnya,” kata Baqaei dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita semi-resmi Tasnim.
“Perlindungan terhadap kepentingan nasional akan terus dilakukan selama diperlukan, dan jika terjadi petualangan baru dari Amerika Serikat atau rezim Israel, angkatan bersenjata akan merespons dengan kekuatan penuh dan tegas,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul ketika dua sumber Pakistan yang mengetahui proses mediasi mengatakan kepada Anadolu bahwa delegasi Iran akan menghadiri putaran kedua perundingan dengan Amerika Serikat.
Teheran dan Washington mengadakan putaran pertama negosiasi di ibu kota Pakistan, Islamabad, yang berakhir tanpa kesepakatan pada 12 April.
Sebelumnya pada 8 April, Iran dan AS mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan, yang memberi jeda perang, setelah militer AS dan Israel bersama-sama menyerang Iran pada akhir Februari.
Sumber: Anadolu
Baca juga: China sayangkan penyitaan kapal Iran oleh AS di Teluk Oman
Baca juga: Iran akan balas tindakan AS terkait penyitaan kapal Touska
"Sambil melawan ancaman, setiap jalur rasional dan diplomatik harus digunakan untuk mengurangi ketegangan," kata Pezeshkian seperti dikutip oleh kantor berita pemerintah Iran, IRNA, Senin.
"Pada saat yang sama, ketidakpercayaan terhadap musuh dan kewaspadaan dalam berinteraksi adalah kebutuhan yang tak terbantahkan," tambahnya.
Secara terpisah, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan bahwa Iran tidak memiliki rencana untuk menggelar putaran baru perundingan dengan Amerika Serikat (AS).
“Republik Islam Iran tidak menerima batas waktu atau ultimatum apa pun dalam memperjuangkan kepentingan nasionalnya,” kata Baqaei dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita semi-resmi Tasnim.
“Perlindungan terhadap kepentingan nasional akan terus dilakukan selama diperlukan, dan jika terjadi petualangan baru dari Amerika Serikat atau rezim Israel, angkatan bersenjata akan merespons dengan kekuatan penuh dan tegas,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul ketika dua sumber Pakistan yang mengetahui proses mediasi mengatakan kepada Anadolu bahwa delegasi Iran akan menghadiri putaran kedua perundingan dengan Amerika Serikat.
Teheran dan Washington mengadakan putaran pertama negosiasi di ibu kota Pakistan, Islamabad, yang berakhir tanpa kesepakatan pada 12 April.
Sebelumnya pada 8 April, Iran dan AS mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan, yang memberi jeda perang, setelah militer AS dan Israel bersama-sama menyerang Iran pada akhir Februari.
Sumber: Anadolu
Baca juga: China sayangkan penyitaan kapal Iran oleh AS di Teluk Oman
Baca juga: Iran akan balas tindakan AS terkait penyitaan kapal Touska




