Liputan6.com, Jakarta - Infografis terkait meningkatnya jumlah pasien cuci darah (hemodisalisis) usia muda di Indonesia.
Berdasarkan data Indonesian Renal Registry (IRR) yang menganalisis 122.449 pasien pada periode 2016–2019 menunjukkan tren peningkatan kasus gagal ginjal yang memerlukan cuci darah seiring bertambahnya usia.
Advertisement
Salah satunya, pada usia kurang dari 20 tahun, jumlah pasien hemodialisis muda mencapai 800 kasus.
Selain itu, BPJS Kesehatan pun juga mencatat klaim layanan hemodialisis atau cuci darah terus meningkat, di mana, pada 2025 mengalami kenaikan sekitar 7 persen dibandingkan sebelumnya.
"Di 2025 ini ada 147 ribu kunjungan klaim hemodialisa. Walaupun kita tahu ya ada CAPD dan transplant, tapi memang hemodialisa makin terus naik," kata Analis Kebijakan Penjaminan Manfaat Rujukan Pratama BPJS Kesehatan, drg. Tiffany Monica dalam peringatan Hari Ginjal Sedunia 2026 beberapa waktu lalu.
Kenaikan angka cuci darah pada usia muda tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga negara Asia Tenggara lain seperti Malaysia. Kasus gagal ginjal kronis atau Chronic Kidney Disease (CKD) di Malaysia terus meningkat dan menjadi perhatian serius pemerintah setempat.
Setiap hari, rata-rata ada 28 warga Malaysia yang didiagnosis mengalami gagal ginjal dan harus segera menjalani dialisis atau cuci darah untuk bertahan hidup.
Apa penyebabnya? Penyebab utama gagal ginjal di Malaysia disebut berasal dari komplikasi diabetes melitus. Selain diabetes, hipertensi atau tekanan darah tinggi juga menjadi faktor besar yang mempercepat kerusakan ginjal.
Lantas, seperti apakah angka cuci darah anak muda Indonesia dan negara tetangga lainnya? Apa saja penyebab gagal ginjal hingga menyebabkan harus cuci darah atau hemodialisis (HD)? Simak selengkapnya dalam rangkaian Infografis berikut ini:




