Bandung Ajukan Jalan Asia Afrika Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO

katadata.co.id
15 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah Kota Bandung mengajukan koridor yang terbentang dari Kawasan Simpang Lima hingga Jalan Asia Afrika sebagai situs warisan dunia UNESCO. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengumumkan rencana tersebut pada peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika, pada Minggu (19/4).

Farhan, seperti dikutip Xinhua, mengatakan kawasan tersebut menyimpan narasi global yang penting, terutama dalam gerakan solidaritas di antara negara-negara Asia-Afrika. Pemerintah Kota Bandung ingin kawasan tersebut diakui secara resmi sebagai kandidat situs warisan dunia UNESCO dalam empat tahun mendatang.

Farhan mengatakan proses nominasi kawasan Simpang Lima hingga Jalan Asia Afrika untuk menjadi situs warisa dunia memerlukan komitmen jangka panjang. Selain itu, diperlukan dukungan studi akademis untuk menunjukkan nilai universal situs tersebut.

Pada 2015, arsip Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan pada 2055 telah masuk ke dalam UNESCO Memory of the World Register.

Sejarah Konferensi Asia Afrika

Setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945, dunia tidak serta-merta memasuki masa damai. Sejumlah negara di Asia dan Afrika masih berada di bawah penjajahan. di sisi lain, negara-negara yang telah merdeka menghadapi berbagai persoalan, mulai dari konflik internal hingga sengketa wilayah.

Dunia terbelah menjadi dua kekuatan besar dalam era Perang Dingin: Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat (AS) dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet. Perseteruan kedua blok ini memicu konflik di berbagai kawasan, serta perlombaan senjata nuklir yang mengkhawatirkan dunia.

Menurut informasi di situs jabarprov.go.id, pada saat itu, muncul kesadaran di antara negara-negara Asia untuk membangun solidaritas lewat konferensi. Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo dalam pertemuan di Kolombo pada 1954 mengusulkan forum yang lebih luas dan melibatkan negara-negara Asia dan Afrika.

Usulan ini didukung Presiden Soekarno. Dalam pertemuan lanjutan di Bogor, disepakati Indonesia akan menjadi tuan rumah konferensi tersebut dan Bandung menjadi lokasi penyelenggaraan. Sebanyak 29 negara diundang untuk menghadiri konferensi tersebut, mewakili beragam latar belakang politik, budaya, dan system pemerintahan.

Gedung Merdeka menjadi lokasi utama sidang Konferensi Asia Afrika. Pemerintah juga menyiapkan penginapan di Hotel Homann dan Hotel Preanger untuk para tamu negara.

Pada 18 April 1955 pagi, para delegasi dari berbagai negara berjalan kaki menuju lokasi konferensi. Mereka disambut hangat oleh warga setempat. Konferensi dibuka oleh Presiden Soekarno di Gedung Merdeka.

Disatukan oleh Cita-cita Mencapai Kemerdekaan

Dalam pidato berjudul "Let a New Asia and a New Africa be Born", Soekarno menekankan negara-negara peserta konferensi memiliki latar belakang yang berbeda, namun mereka dipersatukan oleh pengalaman pahit penjajahan dan cita-cita untuk mencapai perdamaian dan kemerdekaan.

Pidato itu membakar semangat kebangkitan negara-negara Asia dan Afrika. Berbagai isu penting dibahas selama konferensi, termasuk kerja sama ekonomi, kebudayaan, hingga masalah politik dan keamanan.

Konferensi Asia Afrika menghasilkan Dasasila Bandung yang menjadi tonggak penting dalam hubungan internasional. Dasasila Bandung juga menjadi inspirasi lahirnya gerakan negara-negara nonblok.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengakuan Mengejutkan Bojan Hodak Usai Persib Ditahan Dewa United
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
Projo: Kami Anggap Positif Peran Pak JK dalam Karier Politik Pak Jokowi, tapi...
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Gandeng Perusahaan Batu Bara, PLN Bakal Pasok Listrik Hijau untuk Sektor Tambang
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
JPU Tuding Kubu Nadiem Hadirkan Buzzer Jadi Ahli di Sidang Korupsi Chromebook
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Pria Misterius Tewas Mengenaskan di Lenteng Agung
• 7 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.