Angkatan Laut Amerika Serikat mengerahkan drone bawah laut dan sistem robotik lainnya untuk membersihkan ranjau yang ditanam di dasar Selat Hormuz. Semua ini dilakukan untuk memulihkan jalur pelayaran komersial melalui jalur air vital ini.
Menurut laporan Wall Street Journal, Angkatan Laut AS telah menjalankan berbagai program, baik berawak maupun tanpa awak, untuk memindai dan mengidentifikasi ranjau yang mungkin menghalangi selat tersebut. Selat Hormuz memiliki kepentingan global yang signifikan, karena sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia melewati selat ini.
Wall Street Journal juga melaporkan bahwa Angkatan Laut AS telah melakukan pemindaian awal dasar laut menggunakan kendaraan bawah air tanpa awak. Ranjau laut yang terdeteksi dihancurkan menggunakan sistem robot khusus.
Teknologi ini telah membantu Angkatan Laut menyurvei dan membersihkan jalur pelayaran hanya dalam beberapa hari, bukan berminggu-minggu atau berbulan-bulan seperti yang dibutuhkan metode tradisional.
Laporan Wall Street Journal menyatakan bahwa militer AS menggunakan kapal permukaan tak berawak biasa, drone yang dikembangkan oleh RTX Corporation, yang menarik sistem sonar terapung bernama AQS-20. Sistem ini memindai dasar laut untuk mencari ranjau dan mampu berpatroli di area hingga selebar 100 kaki sekaligus.
Selain itu, Angkatan Laut AS mengoperasikan drone bawah air bertenaga baterai yang disebut Mk18 Mod 2, Kingfish, dan Knifefish, yang dapat dikerahkan dari perahu kecil untuk memindai ranjau dalam pola tertentu. Operasi penyapuan ranjau yang canggih ini merupakan salah satu langkah kunci yang diambil AS untuk melindungi kapal-kapal yang melewati selat tersebut.




