REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini dikenal luas sebagai sosok penting dalam perjuangan hak-hak perempuan di Indonesia. Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia memperingati jasa-jasanya dalam memperjuangkan emansipasi wanita dan kesetaraan gender.
Biografi Kartini
Baca Juga
Berkebaya di Atas Ombak, Cara Unik Perempuan dan Disabilitas Rayakan Hari Kartini di Bali
Langkah Kecil Berdampak Besar: Ibu Dewi, Kartini Masa Kini yang Menebar Manfaat untuk Lingkungan
Calon Jamaah Asal Jabar Siap Berangkat ke Tanah Suci, Mayoritas Perempuan
RA Kartini lahir pada 21 April 1987 dan meninggal dunia pada 17 September 1904. la merupakan putri dari Raden Mas Adipati Aryo Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari semua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS). Di sini Kartini belajar Bahasa Belanda. Namun, setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena harus dipingit.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sejumlah pedagang memeragakan busana kebaya saat memperingati Hari Kartini di Pasar Legi Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, Senin (21/4/2025). Peragaan busana di tengah pasar yang diikuti puluhan pedagang tersebut selain untuk mengenang RA Kartini sebagai pahlawan emansipasi wanita, juga sebagai hiburan guna menarik pengunjung pasar. - (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendonan yang banyak mendukungnya.
Kartini banyak membaca surat kabar dan juga menerima "leestrommel" yaitu paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan. Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie.
Melalui tulisan-tulisannya Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Selain masalah emansipasi wanita, Kartini juga menyoroti masalah sosial secara umum.
Sejumlah pelajar mengikuti lomba peragaan busana tradisional saat peringatan Hari Kartini di SDN Sepatan 1, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (21/4/2025). Kegiatan tersebut untuk memperingati jasa pahlawan RA Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita sekaligus mengenalkan keragaman budaya di Indonesia kepada pelajar. - (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)