PT Bank Jago Tbk menandai lima tahun perjalanan Aplikasi Jago dengan memperkuat aplikasi investasi. Head of Digital Lending Business Bank Jago Irene Santoso mengatakan sejak dikembangkan pada April 2021 aplikasi jago terus berkembang, dari aplikasi perbankan digital untuk menabung dan bertransaksi menjadi tempat untuk menempatkan dan menumbuhkan aset secara lebih menyeluruh.
Menurut Irene, sejak awal Aplikasi Jago menghadirkan fitur Kantong untuk memisahkan uang ke dalam berbagai pos sesuai tujuan. Pendekatan ini terinspirasi dari kearifan lokal atau kebiasaan lama masyarakat Indonesia dalam memisahkan uang ke dalam berbagai wadah, seperti amplop atau tempat penyimpanan sederhana berdasarkan kebutuhan.
“Cara mengatur uang ini terbukti efektif mendorong pengguna Aplikasi Jago menjadi lebih disiplin dalam menempatkan uang dan mencapai tujuan keuangannya,” ungkap Irene Santoso seperti dikutip Selasa (21/4).
Sampai Maret 2026, ada sekitar 43,2 juta Kantong yang telah digunakan oleh 15,2 juta pengguna. Setiap pengguna rata-rata hampir memiliki 3 Kantong khusus.
Dari berbagai jenis fitur yang tersedia, Kantong Pengeluaran menjadi yang paling banyak digunakan, terutama untuk kebutuhan harian, seperti makanan, jajan, dan pengeluaran rutin lain. Selain itu pengguna memanfaatkan Kantong untuk membayar tagihan, kebutuhan bisnis, hingga alokasi dana musiman, seperti Tunjangan Hari Raya (THR), Lebaran, dan kurban.
Untuk mengoptimalkan pengelolaan dan perencanaan keuangan, Aplikasi Jago menyediakan fitur Analisis Pengeluaran (Spend Analysis) yang memuat semua rincian pemasukan dan pengeluaran yang telah dikategorikan. Dengan teknologi machine learning, Aplikasi Jago secara otomatis mengelompokkan setiap transaksi sekaligus tetap memungkinkan nasabah menyesuaikan kategori sesuai kebutuhan. Ini membantu mereka memahami pos pengeluaran terbesar dan mengontrol keuangan dengan lebih baik.
Seiring meningkatnya kebutuhan dan literasi nasabah dalam pengelolaan keuangan, Bank Jago mencermati pengguna Aplikasi Jago semakin aktif berinvestasi. Hal ini tercermin dari pengguna Aplikasi Jago yang terhubung dengan platform investasi mitra Bibit dan Stockbit yang terus meningkat sebesar 38,2% secara tahunan per 31 Desember 2025.
Dari porsinya, reksa dana menjadi pilihan investasi terbesar, yaitu sebesar 44%, disusul saham sebesar 42%, dan obligasi 14%. “Minat investasi yang meningkat di pasar saham juga terlihat dari pembukaan Rekening Dana Nasabah (RDN) Bank Jago yang naik lebih dari dua kali lipat sepanjang 2025,” ujar Irene.
Dengan minat investasi masyarakat Indonesia yang meningkat dan bervariasi, Bank Jago juga melihat kebutuhan nasabah untuk melihat semua rincian portofolio investasi dalam satu
tampilan. Untuk itu, di lima tahun perjalanan Aplikasi Jago, Bank Jago menghadirkan tampilan terintegrasi yang memungkinkan nasabah melihat seluruh portofolio investasi yang tersebar di berbagai platform ke dalam satu tab di Aplikasi Jago dan terhubung dengan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), serta platform investasi dari mitra ekosistem digital yang sudah ada, seperti Bibit dan Stockbit.
“Tantangan yang dihadapi pengguna bukan lagi pada terbatasnya pilihan instrumen investasi, melainkan informasi aset investasi yang tersebar dan tidak saling terhubung sehingga nasabah berpotensi mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak lengkap, ̈ tutup Irene.
Penyempurnaan Aplikasi Jago ini sejalan dengan aspirasi Bank Jago untuk meningkatkan kesempatan tumbuh berjuta orang melalui solusi keuangan digital yang berfokus pada kehidupan. Selain itu perusahaan menyatakan komitmen untuk untuk mendampingi penggunanya di setiap tahap perjalanan finansial, mulai dari mengelola kebutuhan sehari-hari, hingga investasi dalam satu aplikasi yang terintegrasi.




