Penulis: Fityan
TVRINews – Tokyo, Jepang
Otoritas memperingatkan risiko gempa berkekuatan M 8,0 dalam sepekan ke depan pasca guncangan di Iwate.
Pemerintah Jepang mengeluarkan peringatan tingkat tinggi mengenai potensi gempa besar yang diprediksi akan melanda dalam kurun waktu satu minggu ke depan.
Peringatan ini muncul menyusul gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang lepas pantai timur laut Jepang senin 20 April 2026 malam waktu setempat, memicu perintah evakuasi serta ancaman gelombang tsunami setinggi tiga meter.
Ilustrasi Grafis: TVRINews.comBadan Meteorologi Jepang (JMA) menyatakan bahwa risiko terjadinya gempa susulan dengan magnitudo 8,0 atau lebih kini berada pada tingkat yang "relatif lebih tinggi dibandingkan waktu normal."
Ribuan penduduk di wilayah pesisir prefektur Iwate, yang terletak sekitar 530 kilometer di utara Tokyo, telah diinstruksikan untuk segera mencari tempat yang lebih tinggi.
Meskipun gelombang tsunami tertinggi yang tercatat sejauh ini mencapai 80 sentimeter, JMA memperingatkan bahwa aktivitas seismik di bawah laut tetap tidak stabil.
"Gelombang tsunami diperkirakan akan menghantam berulang kali. Jangan meninggalkan zona aman sampai peringatan dicabut sepenuhnya," tegas pihak JMA dalam konferensi pers resminya, sebagaimana dikutip dari laporan BBC News.
Senada dengan otoritas meteorologi, Perdana Menteri Sanae Takaichi mendesak masyarakat untuk tidak meremehkan situasi ini.
Beliau meminta warga untuk tetap berada di lokasi evakuasi yang lebih tinggi dan aman demi menghindari risiko yang tidak terduga.
Guncangan gempa yang berpusat di kedalaman 10 kilometer ini terasa hingga ke ibu kota Tokyo. Di Hokkaido, wilayah utara Jepang, suasana mencekam menyelimuti pemukiman warga saat sirene peringatan berbunyi.
"Segera setelah mendengar alarm gempa, semua orang berlari turun tangga. Saat ini, otoritas setempat menggunakan pengeras suara di lingkungan sekitar untuk memperingatkan potensi tsunami," ujar Chaw Su Thwe, seorang warga negara Myanmar yang menetap di Hokkaido, kepada BBC.
Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, melaporkan bahwa sejumlah layanan kereta cepat (shinkansen) terhenti dan sekitar 100 rumah mengalami pemadaman listrik.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai kerusakan infrastruktur skala besar maupun korban jiwa.
Kekhawatiran publik Jepang didasari oleh trauma kolektif atas bencana kembar gempa bumi dan tsunami pada Maret 2011.
Kala itu, gempa magnitudo 9,0 mengakibatkan kehancuran total di wilayah pesisir dan memicu krisis nuklir di pembangkit listrik Fukushima, yang merenggut lebih dari 18.000 nyawa.
Secara geografis, Jepang berada di jalur "Ring of Fire" (Cincin Api Pasifik), sebuah zona aktif yang membuat negara tersebut mengalami sekitar 1.500 gempa bumi setiap tahunnya.
Secara statistik, Jepang menyumbang 10 persen dari total gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,0 atau lebih di seluruh dunia.
Hingga berita ini diturunkan, status waspada tsunami telah diturunkan menjadi peringatan biasa sebelum akhirnya dicabut menjelang tengah malam waktu setempat. Namun, otoritas tetap meminta warga untuk menjaga kesiapsiagaan tinggi sepanjang pekan ini.
Editor: Redaktur TVRINews





