Bisnis.com, JAKARTA — Rencana penambahan 30 trainset KRL sesuai permintaan Presiden Prabowo Subianto menghadapi tantangan pada kesiapan infrastruktur dan sinkronisasi produksi, meski kapasitas industri dalam negeri dinilai mampu memenuhi kebutuhan tersebut dalam waktu singkat.
RI 1 pasalnya hanya memberikan tenggat waktu satu tahun—terhitung sejak November 2025—untuk PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui PT KAI Commuter untuk menghadirkan 30 rangkaian dengan 12 stamformasi (SF 12).
VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda menyampaikan proses pengadaan tambahan sarana itu saat ini masih berada pada tahap finalisasi kajian. Proses persiapan pun terus berjalan dengan melibatkan pemerintah, PT KAI, dan KAI Commuter.
Kesiapan lintas operasional menjadi faktor penentu, terutama untuk mendukung formasi rangkaian panjang hingga 12 gerbong.
“Untuk pengadaan 30 trainset, ini memang kajiannya terus dilakukan dan ini sudah mendekati tahap final. Jadi baik dari sisi KAI, KCI, maupun pemerintah dalam proses persiapan untuk merealisasikan terkait dengan kebutuhan tambahan kapasitas angkut tersebut,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Namun, distribusi trainset baru tidak serta-merta merata ke seluruh lintas. Pengoperasiannya akan bergantung pada kesiapan prasarana dalam menampung rangkaian lebih panjang.
Maklum, saat ini sejumlah lintasan masih dalam proses peningkatan. Sebut saja lintas Rangkasbitung atau yang lebih dikenal dengan Green Line. Lintasan tersebut saat ini belum mampu menjalankan SF 12 dan masih terbatas pada SF 10 karena kendala kapasitas listrik aliran atas (LAA).
Green Line pun saat ini masih dalam tahap kajian akhir untuk peningkatan kapasitas. Karina menyebut pemerintah dan operator berupaya mempercepat proyek tersebut, tetapi realisasi tetap bertahap. Dia pun belum dapat memastikan apakah peningkatan kapasitas dapat rampung pada tahun ini.
“Prinsipnya, pemerintah bersama dengan KAI dan KAI Commuter tentunya akan berupaya maksimal untuk mengejar proses pengembangan infrastruktur khususnya di Green Line,” ujarnya.
Di sisi lain, kesiapan sarana eksisting juga belum sepenuhnya rampung. Saat ini, KAI Commuter masih fokus menyelesaikan pengadaan 16 trainset yang diproduksi PT INKA.
Dari jumlah tersebut, enam trainset telah beroperasi. Sebanyak satu trainset tengah memasuki masa uji sertifikasi di Depo Depok, dan trainset kedelapan dalam proses pengiriman dari pabrik INKA di Banyuwangi.
Rencananya, 10 trainset tersebut ditargetkan beroperasi penuh secara bertahap pada 2026.
Di tengah kompleksitas tersebut, kapasitas industri dalam negeri dinilai tidak menjadi kendala utama.
Urgensi Kereta Baru SF 12Urgensi pengadaan kereta baru bukanlah tanpa sebab. Selain mengganti kereta-kereta tua, jumlah pengguna KRL di kawasan Jabodetabek menunjukkan tren peningkatan secara konsisten.
Mengacu data KCI dalam lima tahun terakhir, volume penumpang secara nasional meningkat tajam dari 124,86 juta pada 2021 menjadi 239,25 juta pada 2022, atau melonjak 92% secara tahunan atau year on year (YoY). Kenaikan ini sejalan dengan pemulihan pandemi Covid-19.
Tren pertumbuhan jumlah penumpang berlanjut pada 2023 menjadi 331,89 juta atau tumbuh 39% YoY. Kemudian jumlah penumpang pada 2024 tercatat mencapai 374,48 juta atau naik 13%. Bahkan jumlah pengguna KRL untuk pertama kalinya menembus angka 400,99 juta atau tumbuh 7% secara tahunan pada 2025.
Pola serupa terjadi di wilayah Jabodetabek sebagai kontributor utama. Jumlah penumpang naik dari 123,12 juta pada 2021 menjadi 215,04 juta pada 2022, atau tumbuh 75% YoY. Angka tersebut terus meningkat menjadi 290,89 juta pada 2023 dengan pertumbuhan 35%.
Pada 2024, penumpang Jabodetabek mencapai 328,15 juta atau naik 13% YoY dan bertambah menjadi 349,31 juta pada 2025 dengan pertumbuhan yang melambat ke 6%.
Mobilitas masyarakat yang makin mengandalkan KRL Jabodetabek tecermin dari pergerakan pengguna Commuter Line pada kuartal I/2026 yang sebanyak 86,86 juta. Angka tersebut meningkat 5,7% dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 82,11 juta pengguna.
Optimistis 30 TrainsetMeski sempat muncul opsi pengadaan 30 trainset melalui impor, pemerintah telah menegaskan pengadaan wajib berasal dari pabrik dalam negeri, yakni PT INKA.
Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai INKA memiliki kapasitas memadai untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Bisa, kapasitas INKA untuk memenuhi 30 trainset dalam satu tahun,” ujarnya.
Keyakinan atas kapasitas INKA dalam memasok kebutuhan domestik menguat setelah perusahaan melakukan ekspansi fasilitas produksi di Banyuwangi. Kemampuan produksinya diyakini naik menjadi empat kereta per hari.
Selama ini, INKA juga menjadi tulang punggung penyedia sarana perkeretaapian nasional, mulai dari KRL, kereta ekonomi, hingga kereta barang.
“Selama ini yang bikin gerbong untuk PT KAI adalah PT INKA,” kata Djoko.
Di samping itu, tantangan utama justru berada pada kesiapan ekosistem operasional. Data KAI Commuter menunjukkan saat ini terdapat 89 trainset yang beroperasi di Jabodetabek, dengan distribusi terbesar di lintas Bogor sebanyak 37 trainset, disusul Cikarang 26 trainset, Rangkasbitung 19 trainset, Tangerang 5 trainset, dan Tanjung Priok sebanyak 2 trainset.
Sayangnya, belum semua rangkaian tersebut memiliki 12 gerbong, terbatas pada delapan dan 10 gerbong.
Penambahan trainset baru berpotensi meningkatkan kapasitas angkut secara signifikan, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada kesiapan jalur, stasiun, dan sistem operasi.
Djoko menilai penambahan trainset tidak hanya berdampak pada kapasitas angkut, tetapi juga pada kualitas layanan transportasi publik secara keseluruhan. Penambahan armada berpotensi meningkatkan kenyamanan pengguna sekaligus mendorong peralihan masyarakat ke angkutan umum, serta berkontribusi pada pengurangan kemacetan dan polusi udara di kawasan perkotaan.
Namun, Pengamat Transportasi Ki Darmaningtyas mengingatkan agar pemerintah konsisten dengan rencananya. Berkaca dari 2022, pemerintah sempat melarang KCI mengimpor kereta bekas dari Jepang, tetapi setahun berselang mengizinkan importasi kereta baru dari China.





