Rupiah Menguat ke 17.126, IMF Ingatkan RI Jaga Belanja di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Timur Tengah

viva.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.176 pada Senin, 20 April 2026. Posisi rupiah itu menguat 13 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.189 pada perdagangan Jumat, 17 April 2026.

Baca Juga :
Jelang Batas Gencatan Senjata, Bursa Asia Melejit di Tengah Harapan Damai AS-Iran
Tekanan Regulasi, Pemerintah Diminta Segera Beri Perlindungan ke Pelaku Industri Tembakau

Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 21 April 2026 hingga pukul 09.00 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.126 per dolar AS. Posisi itu menguat 42 poin atau 0,24 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.168 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
Photo :
  • VIVA.co.id/M Ali Wafa

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mewanti-wanti agar pemerintah tidak belanja berlebihan di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah.

"Peringatan ini muncul, sejalan dengan adanya risiko resesi jika perang terus berkecamuk di Iran dan menekan harga bahan bakar minyak," kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa, 21 April 2026.

IMF pun melihat tidak adanya solusi yang jelas untuk mengatasi permasalahan ini. Penutupan Selat Hormuz dan kerusakan serius pada fasilitas energi penting di Timur Tengah, telah meningkatkan prospek krisis energi besar jika solusi jangka panjang tidak segera ditemukan. 

Dengan meningkatnya lintasan utang publik, ruang fiskal jauh lebih sempit daripada sebelumnya. Batasan harga, subsidi, dan intervensi menjadi kebijakan populer, namun mendistorsi harga dan kerap dirancang dengan buruk karena menyebabkan ketergantungan serta 'berbiaya mahal'.

Dalam skenario terburuk, kebijakan moneter dan fiskal harus siap untuk beralih mendukung perekonomian dan melindungi sistem keuangan, bersamaan dengan kebijakan keuangan dan likuiditas yang tepat.

Namun, bank sentral tidak akan bisa berbuat banyak dalam hal memengaruhi harga energi yang akan mendorong inflasi naik, sementara pasar akan memperhitungkan kenaikan suku bunga. Dalam situasi ini, IMF juga meminta bank sentral tidak buru-buru menaikkan suku bunga, selama ekspektasi inflasi tetap terkendali.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.160-Rp 17.200," ujarnya.

Baca Juga :
Pertemuan IMF-Bank Dunia, Menkeu Purbaya Sampaikan Ekonomi RI Bisa Tumbuh 6 Persen 2026
Abaikan Revisi UUPK, Pemerintah Dinilai Lalai Tingkatkan Perlindungan Konsumen
Rano Ungkap Realisasi Belanja Daerah DKI 2025 Capai Rp76,09 Triliun

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kapolri Minta Brimob Siap Antisipasi Gangguan Keamanan Imbas Konflik Timteng
• 2 jam laludetik.com
thumb
Apple Ganti CEO, Tunjuk Insinyur Pembuat iPhone Jadi Bos Baru
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Purbaya Dikabarkan Kembali Lakukan Rotasi Pejabat Eselon I dan II Kemenkeu
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
UU PPRT Disahkan, Ketum KSPSI Berterima Kasih Kepada DPR dan Presiden Prabowo
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Temukan Titik Baru #PuntungBeruntung di Sejumlah Kota Besar
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.